Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Lindungi dan Jangan Sakiti Air Kita



Air, air dan air. Air merupakan senyawa penting bagi semua bentuk kehidupan di permukaan bumi ini. Menurut lembaga survey Geologi Amerika Serikat total kandungan air di bumi hampir 326 juta kumik mil. Hampir 72% permukaan bumi di tutupi oleh air, tetapi 97% air tersebut asin, 2%nya beku, terkunci di kutub utara, kutub selatan dan glaciers sehingga tidak dapat dikonsumsi manusia.
Dengan demikian hanya tersedia 1% air tawar untuk memenuhi kebutuhan ekosistem di bumi dan kebutuhan semua manusia termasuk untuk kegiatan pertanian, industri, dan rumah tangga (WBCSD, 2005; Chiras, 2009). Hanya terdapat 6 negara (Brazil, Russia, Kanada, Indonesia, China dan Kolombia) yang memiliki 50% persediaan air minum dunia. Sementara sepertiga populasi dunia hidup di kawasan negara dengan tingkat persediaan air minum yang minim.

Pemenuhan air tawar dapat diperoleh dari air dalam tanah, air permukaan dan air dari hujan. Dari ketiga sumberair tawaar tadi yang paling banyak dimanfaatkan adalah air dari dalam tanah yang dikarenakan kualitas dari air tanah yang lebih baik dan sangat kecil terpengaruh dari pencemaran.

Air dan Kehidupan Manusia
Air mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia, begitupun juga dengan tubuh manusia. Jumlah air yang terkandung dalam tubuh manusia tergantung pada usia dan beratnya. Pada bayi kandungan air mencapai 75%. Kandungan ini lebih tinggi di bandingkan orang dewasa. Persentase air berkurang pada orang tua sampai 50%. Kandungan air juga bervariasi bergantung komposisi tubuh. Otak (73%), paru-paru (83%), jantung (73%), hati (71%), dan ginjal (79%), semuanya mengadung jumlah air yang lebih tinggi dari tulang (31%).

Sebagian besar orang percaya bahwa manusia membutuhkan 8–10 gelas (sekitar dua liter) per hari [3]. namun hasil penelitian yang diterbitkan Universitas Pennsylvania pada tahun 2008 menunjukkan bahwa konsumsi sejumlah 8 gelas tersebut tidak terbukti banyak membantu dalam menyehatkan tubuh [4]. Minum air putih memang menyehatkan, tetapi kalau berlebihan dapat menyebabkan hiponatremia yaitu ketika natrium dalam darah menjadi terlalu encer.

Walaupun tubuh kita sebagian besar terdiri dari air, namun air tidak bisa tersimpan di dalam tubuh kita. Sehingga kita harus rutin mengkonsumsi air supaya tubuh kita tidak kekurangan cairan (dehidrasi). Muntah berlebihan atau diare yang berkepanjangan karena mengeluarkan cairan serta elektrolit dari dalam tubuh dapat membahayakan nyawa kita bila jumlah cairan yang keluar tidak segera diganti [6]. Menurut ilmu kesehatan setiap orang tanpa makan dapat hidup 2-3 minggu tetapi hanya dapat bertahan hidup 2-3 hari tanpa air minum.

Manusia tidak bisa dipisahkan dengan air karena dalam hidupnya manusia selalu membutuhkan air. Mulai pertanian, perkebunan, industri peternakan dan apapun yang ada di bumi. Semakin meningkatnya jumlah populasi manusia maka semakin meningkat pula kebutuhan akan air khususnya air bersih yang secara otomatis membuat ketersediaan air bersih menjadi berkurang. Penelitian PBB yang terbaru menyatakan bahwa jika kondisi ini terus berlangsung, maka pada tahun 2025 hampir setengah dari populasi orang sedunia akan mengalami kesulitan mendapatkan air, karena hanya ada 1% saja di bumi ini yang layak di konsumsi.

Air dan permasalahan di Indonesia
Kita ketahui semenjak berkembangnya Negara Indonesia dari Agraria menjadi Industri, membuat dampak negatif terhadap lingkungan sekitar seperti semakin sempitnya lahan pertanian juga membuat semakin buruknya kualitas air di lingkungan sekitar. Bagaimana tidak, limbah buangan industri di buang langsung ke aliran sungai tanpa pengolahan terlebih dulu, belum lagi industri berat atau kimia berbahaya yang dapat secara langsung mempengaruhi kualitas air bahkan membunuh biota di sekitar aliran sungai dan daerah yang dilalui sungai yang telah tercemar tersebut.

Seiring dengan semakin buruknya kualitas air bersih, otomatis akan berpengaruh bagi kehidupan manusia khususnya kesehatan. Berdasarnya sumber www.voice4nations.org menyatakan bahwa penyebab terbesar no.2 kematian bayi adalah karena diare, 4.100 Balita di bawah lima tahun meninggal dalam setiap hari karena tidak bersihnya kualitas air minum dan lebih dari 10 juta orang tidak mempunyai akses untuk minum air bersih.

Walaupun Indonesia merupakan Negara ke empat yang memiliki persediaan air terbesar di dunia, namun tidak membuat Indonesia memiliki persediaan air bersih yang melimpah. Ini dibuktikan masih banyaknya daerah-daerah yang masih kesulitan dalam tersedianya air bersih. Pengelolaan sumber daya air yang buruk juga berdampak pada tidak meratanya kesediaan air bersih di daerah-daerah. Hal ini juga berakibat terhadap konsumennya seperti rakyat miskin dan rakyat di pelosok yang jauh dari air bersih akan semakin tidak mampu dan membayar lebih untuk menikmati air bersih. Kondisi inilah menyebabkan mereka harus mengkonsumsi air yang tidak bersih.

Tidak hanya di daerah pelosok,di daerah perkotaan juga sering mengalami hal yang sama, disamping air permukaan sudah tidak dapat di konsumsi, pasokan air bersih dari PDAM yang sering tidak keluar atau berkurangnya pengiriman pasokan air bersih ke agen-agen penjual air bersih PDAM. Hal ini yang menyebabkan masyarakat harus mengeluarkan isi dompet lebih untuk mendapatkan air bersih.

Kondisi pengelolaan di Indonesia sangat komplek, khususnya ketika musim kemarau yang dapat menyebabkan kekeringan dan kekurangan air dan musim hujan berlebih yang dapat menyebabkan kebanjiran yang akhirnya juga akan mengalami kesulitan air bersih. Beragam faktor yang melatar belakangi permasalahan ini seperti kurang pedulinya masyarakat terhadap sungai sehingga tidak sedikit orang masih sering membuang sampah di sungai, pembuangan limbah berbahaya pabrik yang langsung ke sungai sehingga sulit untuk diolah kembali menjadi air bersih, masih seringnya penebangan liar di hutan yang menyebabkan kurangnya penyerapan air hujan sehingga ketika musim kemarau daerah tersebut akan kekurangan sedangkan jika musim hujan akan terjadi kebanjiran dan sifat ketidakpedulian golongan tertentu dengan menghamburkan-hamburkan air hanya untuk kesenangan semata tanpa memikirkan orang lain yang mengalami kesulitan air.

Sementara yang banyak menjadi solusi masyarakat sampai saat ini adalah penggunaan air tanah. Cuma sampai kapan air tanah dapat terus di konsumsi? Perlu diketahui bahwa pemakaian air tanah juga memiliki dampak negative seperti penurunan muka air tanah (terjadi di Jakarta, Bandung, Semarang, Pasuruan, Mojokerto dan DIY), intrusi air laut yaitu pergerakan air tanah asin dari laut kearah darat (terjadi di daerah pantai Jakarta, Medan, Semarang dan Denpasar) dan penurunan tanah akibat pengambilan air tanah berlebih (terjadi di Jakarta dan Semarang).

Sebagai masyarakat yang peduli lingkungan maka sebaiknya mengawali kepedulian terhadap air bersih di mulai dari yang kecil lebih dulu yaitu diri sendiri dengan CH8 (cara hemat 8) langkah :
  1. Gunakan air dengan optimal, pastikan kran dalam keadaan tertutup sempurna ketika tidak di pakai.
  2. Ketika menggosok gigi, cuci muka atau tangan jangan menggunakan air kran yang mengalir terus.
  3. Gunakan ember dan lap ketika mencuci kendaraan karena lebih hemat daripada menggunakan kran air.
  4. Gunakan bak/ember ketika mencuci pakaian dan cucilah pakaian ketika sudah banyak.
  5. Limbah air (bilas pakaian, bilas cuci piring) yang masih dapat dipakai gunakan untuk menyiram tanaman sehingga dapat menghemat air untuk menyiram tanaman.
  6. Mandi jangan terlalu lama dan jangan menggunakan bak mandi.
  7. Usahakan untuk membuat sumur resapan karena menampung air hujan sehingga musim kering tidak akan kekurangan air.
  8. Satu rumah tanamlah minimal 1 pohon sebagai resapan air ketika musim penghujan tiba.
Dengan kesadaran yang dimulai dari diri sendiri diharapkan dapat kita sebarkan ke orang lain, dan orang ini akan menyebarkan ke orang yang lainnya sehingga semua kalangan masyarakat akan memiliki kesadaran pribadi bahwa kebutuhan akan air bersih tidak dapat dipisahkan dari kehidupan makhluk hidup khususnya manusia itu sendiri.



*) Artikel Lindungi dan Jangan Sakiti Air Kita oleh sdr. Dedy Sigid Setiawan, pertama kali di terbitkan di Kompasiana. 

Pengantar 1.0 Untuk Presiden Baru - Perlindungan Lingkungan

Keberadaan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki sumberdaya alam berlimpah tentu tak bisa dilepaskan dari ancaman kerusakan lingkungan hidup, sebagai konsekuensi dari ekploitasi yang tidak bertanggungjawab dan berkelanjutan. pembangunan guna mengejar pertumbuhan ekonomi yang stabil, tentu tidak harus mengorbankan kepentingan lingkungan.

Sehingga harapannya pembangunan yang dijalankan tidak menjadi blunder di masa yang akan datang dikarenakan nilai kerusakan lingkungan lebih besar, jika dibandingkan dengan keuntungan yang di dapat. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada bencana asap akibat dibakarnya hutan/gambut di Propinsi Riau pada bulan Februari-Maret tahun 2014 yang telah menimbulkan kerugian sebesar 20 triliun rupiah dan lebih dari 50 ribu orang menderita ISPA.

Akumulasi berbagai kerusakan lingkungan hidup serta degradasi ekologi masing-masing wilayah dapat dilihat dari intensitas bencana yang terjadi, sebagaimana yang disebutkan dalam UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana:
“bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki  kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik  yang  disebabkan  oleh faktor alam,  faktor nonalam maupun faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak  psikologis yang dalam keadaan  tertentu dapat menghambat pembangunan nasional”


Dan bencana yang paling masif terjadi dalam dua dekade terakhir adalah bencana akibat kerusakan daya dukung ekologi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bencana Ekologis (bencana lingkungan), sebut saja bencana kabut asap akibat terbakarnya hutan dan gambut, banjir bandang dan tanah longsor, kekeringan dan lain sebagainya.

Hal senada juga pernah disampaikan oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, secara global terjadi peningkatan tren bencana alam sebesar 350 persen, dalam waktu tiga dasawarsa terakhir, dan penyebab semakin mendominasinya jenis bencana ini, karena perubahan lingkungan dan faktor regional, berupa perubahan iklim secara global.

Begitu dahsyatnya kejadian bencana yang terjadi, prinsip kehati-hatian tentu harus diupayakan khususnya dalam konteks pembiayaan pembangunan.


Perilaku Ramah Air, Spirit Menebar Manfaat


Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam hidup, namun seringkali terlewat begitu saja. Memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk menjadi kemanfaatan. Diawali motivasi dan niat yang kuat serta keikhlasan, agar kebaikan terasa ringan untuk dilakukan, tak lagi dirasa sebagai beban, memiliki semangat untuk senantiasa mengadakan perbaikan. Membiasakan dari hal-hal yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Ada yang menarik dari pembahasan mengenai Fikih Air pada Munas Tarjih Muhammadiyah beberapa waktu lalu. Bagian dari upaya mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata, menjadi rahmatan lil alamin yang sesungguhnya. Berikut hasil Munas Tarjih yang dikutip dari Web Sangpencerah:

Pada level individu dan keluarga perlu pembiasaan untuk membetulkan kran atau sambungan pipa di rumah, kantor, masjid atau pipa irigasi yang bocor. Kemudian tidak membiarkan anak bermain dengan kran atau selang air di halaman atau di kamar mandi dan tidak membiarkan kran air terus mengucur pada saat mencuci mobil atau sepeda motor, serta mematikan air bila tidak diperlukan. Juga membiasakan untuk mematikan kran ketika sedang menggosok gigi, mandi atau mencuci peralatan rumah tangga dengan sabun atau detergen. Mengganti ukuran kran dengan ukuran kecil sehingga tidak terlalu banyak mengeluarkan air. Menggunakan shower untuk kamar mandi. Sedapat mungkin tidak menggunakan kamar mandi yang banyak menggunakan air (semisal bath-up).

Demikian pula dalam berwudlu, hindari penggunaan air yang berlebihan. Menyisakan halaman rumah untuk resapan air hujan, dengan tidak menutup seluruh halaman rumah dengan pengerasan (aspal dan beton,) karena air hujan tidak akan bisa meresap ke dalam tanah untuk menambah cadangan air tanah. Arahkan kucuran air hujan dari atap rumah untuk dapat asuk ke sumur peresapan di halaman rumah, sehingga tidak langsung dibuang ke jalan atau selokan. Memilih tanaman hias, perkebunan atau tanaman pangan yang tidak rakus air. Siramilah tanaman di lahan pada waktu pagi atau sore hari pada waktu suhu udara tidak terlalu panas dan tiupan angin tak terlalu kencang, sehingga bisa mengurangi kehilangan air melalui evaporasi. Gunakan pupuk organik untuk tanaman daripada pupuk buatan. Pupuk organik disamping lebih sehat, lebih menghemat air untuk prosesnya. Sedangkan pupuk buatan (pupuk kimia/non-organik) prosesnya memerlukan air yang lebih banyak per kg berat pupuk, merusak tanah dan menjadi sumber polusi. Bila memungkinkan buatlah lubang-lubang pembuangan sampah organik di halaman rumah. Sampah organik akan bisa memperbaiki struktur tanah sehingga memudahkan air hujan meresap ke dalam tanah serta memperbaiki kesuburan tanah. Apabila di dalam rumah terdapat kolam renang, maka tutuplah kolam renang dengan penutup dari lembaran plastik pada saat tak digunakan, hal ini akan bisa menghambat penguapan air. Gunakan air kolam renang yang kotor untuk keperluan menyiram tanaman atau disalurkan ke kolam atau media lainnya sehingga tidak langsung terbuang.

Demikian pula tampungan air kucuran kran dan bekas air wudlu. Air ini masih bisa digunakan untuk menyiram tanaman atau untuk memelihara ikan di kolam dan keperluan lainnya. Gunakan peralatan dapur yang terbuat dari bahan alamiah (kayu, bambu, daun tanaman dan sebagainya) daripada menggunakan bahan yang terbuat dari plastik. Pilihan ini disamping lebih berwawasan lingkungan juga lebih sehat dan menghemat air. Bahan-bahan peralatan atau perlengkapan dapur dan perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari plastik memerlukan air yang cukup banyak per kg bahan dalam proses pembuatannya. Jika berbelanja ke pasar, supermarket atau ke toko, usahakan membawa keranjang atau tas belanja dari rumah utnuk mengurangi pemakaian tas plastik (tas kresek). Tas plastik dalam proses pembuatannya memerlukan banyak air dan tidak bisa didegradasi sehingga menjadi bahan polusi lingkungan. Pilihlah bahan makanan dan minuman yang proses pembuatannya tidak memerlukan banyak air untuk memprosesnya. Pilihlah untuk membuat jus buah sendiri daripada membeli jus buah siap saji. Cara ini disamping lebih sehat juga bisa menghemat air. Pada waktu mencuci pakaian (pakai tangan atau pakai mesin cuci) atau peralatan dapur, pilihlah detergen yang ringan dan ramah lingkungan, sehingga tidak memerlukan banyak air untuk membilas. Untuk membilas detergen kuat, diperlukan lebih banyak air dibandingkan dengan detergen ringan. Hindari tumpahnya minyak (goreng atau minyak lain) ke dalam tampungan atau sumber air. Hal ini karena untuk memurnikan atau membilasnya memerlukan banyak air.

Pada level masyarakat, kegiatan pengelolaan air berbasis masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. Tingginya tingkat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ini, diharapkan menjadikan daerah tangkapan hujan di hulu semakin berfungsi sebagai hutan lindung yang bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat. Wilayah hulu semakin produktif dengan basis jasa lingkungan wilayah hilir dan kawasan perkotaan terbebas dari ancaman daya rusak air, antara lain bencana banjir dan kekeringan. Melakukan sistem pengolahan limbah domestik di kawasan permukiman sehingga dapat menjaga kualitas air. Misalnya, pengolahan limbah domestik cair dan sampah untuk kompos. Juga bisa melalui teknologi tepat guna untuk membuat air berkualitas sesuai baku mutu untuk keperluan air minum penduduk di kawasan lingkungan dengan kualitas air rendah. Melakukan upaya penampungan air hujan (Rainwater Harvesting/RWH) untuk irigasi, mencuci, bilasan toilet, peternakan, dll. Upaya ini bisa melalui penggunaan ember atau lainnya. Melakukan irigasi tetes atau sprinkler atau alur yang lebih hemat air daripada cara irigasi dengan penggenangan (basin). Mewujudkan gerakan “Shadaqah Air” bagi masyarakat yang minus air, secara langsung atau melalui penggalangan dana untuk pembuatan saluran air bersih.

Pada level dunia usaha, perlunya sinergitas pelestarian air antara dunia usaha dan masyarakat melalui CSR (Corporate Social Responsibility). Mewujudkan usaha-usaha produktif yang berbasis pada penghematan air. Menciptakan lingkungan kerja yang ramah air melalui edukasi, ceramah, kampanye pelestarian lingkungan, poster, cek rutin sarana air serta audit lingkungan sekitar perusahaan.

Pada level pemerintah perlunya kontrol pelestarian air dan lingkungan sesuai aturan yang berlaku. Upaya penegakan hukum (law inforcement) terhadap perusahaan atau warga yang tidak ramah air dan lingkungan. Upaya membangun sinergitas pengelolaan sumberdaya air antar sektor dan wilayah pemerintahan setempat. Pengembangan sistem pembiayaan pengelolaan air sesuai prinsip cost recovery maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat yang ada.


★ Source: Muhamad Fauzi | Perilaku Ramah Air, Spirit Menebar Manfaat

Tips Ringan untuk Pecinta Lingkungan

Reboisasi di Bukit Panderman
Bagi penggiat alam bebas dan pecinta lingkungan, “reboisasi” sudah merupakan hal yang umum dan bahkan kita sendiri sering ikut berpartisipasi. Pada saat pelaksanaan kegiatan, terkadang kita larut dalam suasana menyenangkan di alam bebas. Akan tetapi pada saat pulang kerumah mungkin ada terbesit beberapa pikiran dan kekhawatiran…..,

“Apakah tanaman yang saya tanam tadi tumbuh ...? Jangan-jangan besok sudah mati karena layu dan sebagainya ...?“

Perlu diketahui bahwa kegiatan reboisasi mungkin sering dipandang sebagai kegiatan yang cukup simpel namun bermanfaat, padahal jika dikaji, reboisasi merupakan kegiatan yang rumit dimana ada proses pengangkutan (dari tempat pembibitan ke lokasi reboisasi), adaptasi tanaman, kondisi lingkungan, dll.

Untuk memastikan tanaman yang kita tanam bisa tumbuh dengan baik, maka kita perlu membahas beberapa aspek diantaranya :

1. Kondisi Tanaman
Perlu diketahui bahwa disetiap kegiatan reboisasi, hampir 80% bibit yang ada merupakan bibit yang didatangkan dari tempat pembibitan (membeli dari petani lokal), hal ini tentunya melibatkan aspek transportasi dari tempat pembibitan ke lokasi reboisasi. Proses pemindahan tanaman yang terkadang bisa memakan waktu sampai berjam-jam ini dapat memicu stress pada tanaman, yang akibatnya adalah ketahanan tanaman saat ditanam menjadi berkurang, sehingga pada proses penanaman, tanaman tersebut lebih cepat layu. Akan menjadi hal yang sia-sia jika memanam tanaman dalam kondisi tersebut karena kemungkinan kematian akan lebih besar.

Tips untuk mengatasi masalah ini adalah adaptasi tanaman. Diharapkan, panitia reboisasi dapat mengambil langkah bijak dengan mendatangkan tanaman-tanaman tersebut 3 hari lebih awal. Kemudian diberikan perlakuan penyiraman teratur disore hari selama 3 hari berturut-turut.

Jika tanaman masih sangat rentan (tinggi tanaman dibawah 30 cm), diharapkan panitia reboisasi menyiapkan naungan (paranet).

2. Kondisi Lingkungan
Lokasi yang biasanya dijadikan target untuk reboisasi, biasanya merupakan daerah yang tandus, panas, gersang, dll. Untuk daerah seperti itu dapat dipastikan bahwa ketersediaan hara, air, mikrobiologi, kondisi fisik, dan kimiawi tanah berada pada kondisi sangat buruk. Hal ini diawali dari hilangnya vegetasi dilingkungan tersebut, sehingga aktifitas biologi tanah terganggu, kemudian dalam jangka waktu yang singkat aktifitas kimiawi pun akan mengalami ketidak stabilan. Dan jika kondisi ini berlangsung lama, akan menyebabkan kerusakan fisik tanah. Kondisi lingkungan seperti itu tentunya sangat tidak menunjang untuk kegiatan penanaman. Tips untuk mengatasi masalah tersebut adalah pengolahan tanah. Ada 2 tahap untuk trik pengolahan tanah yang mudah :

- Penambahan pupuk organik, diharapkan panitia atau peserta reboisasi menyediakan pupuk kandang yang sudah diolah dari kotoran ternak, yang dapat dibeli dari peternak lokal didaerah tersebut. pupuk kandang tersebut ditabur di setiap titik-titik penanaman sebanyak 500 gr - 1 kg, kegiatan ini dilakukan pada pagi hari, sehari sebelum pelaksanaan reboisasi. Tujuan dari pemberian pupuk kandang adalah untuk penambah nutrisi pada tanaman yang akan ditanam keesokan harinya.

- Bioremediasi Tanah, yaitu perombakan tanah dengan bantuan mikroorganisme saat sinar UV berkurang. Panitia atau peserta reboisasi, diharapkan membawa mikroorganisme perombak tanah (starter) yang dapat dibeli ditoko-toko pertanian seperti EM4, Ecoplant, Moebillin (Merk) atau membeli mikroorganisme biakan murni seperti Trichoderma sp, Bacillus, Lactobacillus, Pseudomonas, Micrococcus, Escherichia, Aerococcus (mikroorganisme) dari Laboratorium universitas setempat. Kemudian bakteri perombak tanah tersebut disemprotkan ke tanah pada sore hari, sehari sebelum pelaksanaan reboisasi. Perlakuan ini dapat memicu tumbuhnya beberapa organisme lain yang menunjang pertumbuhan tanaman dan dapat memperbaiki kondisi fisik tanah walaupun tidak mencapai taraf yang signifikan.

Dari ke dua perlakuan diatas diharapkan agar kondisi tanah (lingkungan) dapat sedikit dioptimalkan, dan dapat menunjang tanaman reboisasi saat ditanam maupun saat tumbuh dan berkembang.

3. Tata Cara Penanaman
Setelah beberapa kegiatan pra-reboisasi telah dilaksanakan, sekarang adalah fase terakhir dimana cara penanaman juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup tanaman. berikut ini akan penulis jabarkan beberapa langkah dalam penanaman :

- Saat membawa tanaman ketitik penanaman, jangan mengangkat tanaman dengan memegang batangnya, hal itu akan merusak perakaran tanaman tersebut. Cara yang tepat adalah pengang pada polibagnya dan angkat tanaman perlahan.

- Membuka polibag saat akan menanam sebaiknya jangan dirobek baik dengan pisau, gunting, atau tangan sendiri. sedikit lakukan pijatan pada bagian-bagian polybag hingga tanahnya sedikit menggembur, kemudian tarik polibag tersebut, hal ini bertujuan mengurangi limbah karena polibag sisa tersebut bisa digunakan kembali.

- Pegang bagian tanah dan perakaran tanaman saat akan memasukkan tanaman kedalam lubang.

- Posisikan tanaman dengan tegak, bisa juga dibantu dengan bambu (lanjaran) yang diikatkan disamping tanaman tersebut agar dapat berdiri tegak.

- Timbun lubang dengan tanah Tanpa menekan tanah tersebut.

- Siram tanaman dengan air yang banyak dan fokuskan pada tanah yang baru ditimbun tadi agar tanah memadat dengan sendirinya.

- Usahakan pelaksanaan kegiatan reboisasi berlangsung pada sore hari sekitar jam 15:00-selesai, hal ini dikarenakan tanaman yang baru saja pindah tanam harus menyesuaikan diri lagi degan lingkungan yang baru (diluar polibag), jika ditanam disiang hari, tanaman akan menghadapi panas terik dan hal itu akan menambah gangguan yang menyebabkan tanaman kesulitan beradaptasi.

Semoga beberapa uraian diatas dapat berguna bagi para penggiat alam dan pecinta lingkungan dalam upaya mewujudkan bumi yang sehat dan nyaman. Salam Lestari…!!!

Hati Pohon, Hati Manusia, Hati Bumi

 
Pemikiran ini saya dapat waktu saya lagi di kebun, yaah saya sebagai mahasiswa pertanian dan bermimpi ingin punya kebun sendiri, jadi sejak semester 3 yang lalu saya sudah membiasakan diri untuk terjun kelapangan. Waktu itu siang bolong sekitar jam 13:00, “breaking time… buat para petani dan sekitarnya”.

Diantara sejuknya pepohonan dan indahnya canda tawa, sebatang dua batang tembakau habis sudah…
kemudian beberapa orang tua dan teman-teman saya segera pulang untuk istirahat, jadi tinggal saya sendiri dah (kasian banget), saat sendiri itu saya sempat memandang kondisi dan suasana disekitar kebun, indah sekali rasanya…. lalu saat memandang pepohonan saya terpaku, dan mulai muncul sedikit renungan…

Teringat waktu ada kasus tanaman yang diindikasi sebagai bahan narkoba, tanaman itu dibakar semua sampai jadi abu…, kalau mau berpikir sejenak, sebenarnya apa yang salah dari tanaman itu? tanaman itu hanya tumbuh sesuai dengan siklus hidupnya, manusia lah yang menyalah gunakan, dan tanaman itu yang jadi korban. kalaupun dengan alasan untuk kepentingan keamanan seperti penyalah gunaan, kan tidak harus dimusnahkan semua. Khusus untuk para peneliti, boleh mengambil daun atau tunasnya untuk dibudidayakan secara In Vitro dan diteliti, barangkali tanaman itu bisa bermanfaat untuk hal yang lain, seperti ganja yang bisa digunakan sebagai obat bius, benar-benar gak punya hati ya manusia, nanti kalau tanaman itu sudah musnah dari muka bumi, baru pusing daah…

Larut dalam lamunan diantara pepohonan, terbesit lagi satu pemikiran yang agak ngawur sih, mengingat kejadian diatas, sepertinya hati manusia butuh diademkan lagi, biar bisa perfikir dengan baik, setidaknya lamunan ini sedikit menyinggung keterkaitan antara Hati manusia dan Pohon :
 
1. Pohon tidak pernah Bohong
Coba teman-teman lihat, pohon kalau dikasi pupuk, dirawat dengan baik, pohon itu akan tumbuh menjulang dan lebat, memberikan kesejukan dan keindahan, tapi kalo pohon itu ditempel poster dan dipaku, kekurangan air, dan nutrisi, pohon itu akan berguguran daunnya, warna daun juga pucat dan banyak ranting yang patah. Pohon tidak pernah bohong, saat kondisi lingkungan mendukung untuk tumbuh, dia akan tumbuh lebat tanpa ada pamrih sedikitpun, dia akan menunjukkan pada dunia kalau dia adalah mahluk yang indah dan nyaman untuk dinikmati. Beda sama anak kos ya….
X - “Bro, pinjem duit dong, 2 hari gak makan, usus gua lengket bro“,
Y - “waduh bro, gw aja minum air sehari segalon bro biar gak laper, lagi kere bro“
Padahal di ATM ada ratusan ribu, trus ngapain minum air sehari segalon? hwahahaahah
 
2. Pohon itu Pantang Menyerah
Coba bayangin teman-teman, hujan, panas, angin, petir…., sang pohon tetap berdiri menjulang dengan gagahnya, tidak peduli apapun gangguan alam itu, dia tetap berdiri menaungi siapapun dan apapun yang ada dibawahnya. itu bukan kebetulan kawan, itu adalah pohon, dan tidak ada mahluk lain yang bisa setegar itu kecuali pohon
 
3. Pohon itu Sabar
Kalo gak percaya coba teman-teman baca buku referensi apapun daah, mana ada pohon yang tumbuh dengan cepat? pohon cabe aja itungan bulan….
Pohon melakukan kegiatan pengambilan nutrisi dan air dari dalam tanah melalui akar, yang diteruskan ke Xylem dan Floem, dan diteruskan ke daun. Daun memproses nutrisi dibantu dengan cahaya matahari dan klorofil. Semua proses itu dilakukan dalam waktu yang lama. Diterpa panas, hujan, angin, petir, dan waktu, tapi pohon tidak pernah mengeluh, padahal tidak untuk pohon itu sendiri lho
 
4. Pohon itu Rela Berkorban
Teman-teman coba lihat pohon kaktus, kenapa kok kaktus gak punya daun? hayooo?
kaktus bukan gak punya daun teman-teman, duri pada pohon kaktus lah yang mengganti peran dari daun
Teman-teman coba lihat pohon jati, kenapa jati kalo pusim panas pada botak semua, berguguran daunnya?
itu karena pohon jati punya daun yang lebar, dan akan menyebabkan penguapan (evaporasi) yang berlebihan kalau musim panas tiba, dan akan menyebabkan pohon itu kekurangan air.
Dari kedua contoh diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pohon mengerti apa yang harus dilakukan saat kondisi alam berubah, mereka tidak takut untuk mengorbankan daunnya yang digugurkan ataupun daun yang berubah fungsi, agar tetap bisa tumbuh dan berkembang serta memberikan manfaat untuk dunia.
kalo manusia? kok jarang ya yang bisa begitu?
 
5. Pohon itu Setia
Mana ada sih pohon yang menghadap kebawah? hayoo?
semua tanaman selalu menjulang keatas, selalu mengarah pada cahaya. Biar ada genteng disitu, ato ada batu, triplek, kayu… pohon tetap tumbuh keatas, gak kesamping….
hal itu menandakan bahwa pohon punya pilihan dan apa yang menjadi pilihannya, dia akan setia dan dia perjuangkan sampai akhir hayatnya!
(jangan kayak saya, ada cewk cantik, ngepot braaay…..hehehe)

yaaah para ladies and gentlemen…
itu dia beberapa ranungan saya waktu dikebun. Pohon bukan mahluk sempurna seperti manusia, tapi pohon bisa memberi contoh yang berarti untuk kehidupan manusia. seperti kata om Albert :
Look deep into nature, and then you will understand everything better. (Albert Einstein)
Kalau dipikir-pikir… apasih untungnya “Nabung Pohon“, “Reboisasi“, ato apa lah…..
Gak bakal kaya raya daah, lebih enak jadi koruptor…. ya gak???
tapi koruptor tidak punya apa yang dipunyai orang yang peduli lingkungan, yaitu Ketenangan bathin

Karena itu mari kita bersama-sama berguru pada pohon, alam, dan lingkungan sekitar, tanggap dengan situasi, dan mengaplikasikan dikehidupan nyata kita dengan menanam Pohon dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar kita, agar kita bisa bermanfaat (seperti pohon) untuk sepenggal atau lebih dari banyaknya kehidupan didunia ini.

*) Artikel Hati Pohon, Hati Manusia, Hati Bumi juga dapat di baca di Kompasiana