Tampilkan postingan dengan label Agronomi. Tampilkan semua postingan

Budi Daya Jamur Tiram



Dalam kehidupan manusia, jamur dapat mendatangkan keuntungan (manfaat) maupun kerugian. Manfaat langsung, misalnya beberapa jenis jamur dapat dijadikan bahan makanan seperti jamur merang, jamur kuping, jamur kancing, jamur shiitake, dan sebagainya. Manfaat tidak langsung yaitu banyak jamur yang menjadi bagian di dalam pembuatan obat-obatan tradisional (misalnya jamu-jamu) ataupun obat-obatan modern.

Jamur yang tergolong bermanfaat tidak langsung antara lain bolets, supa kakabu di dalam jamu-jamu. Jenis yang paling populer sejak ribuan tahun lalu adalah jamur ling-zhi/lingshih dalam bentuk serbuk, pil, kapsul, ataupun produk olahan lainnya di dalam ramuan obat tradisional ataupun modern.

Dari belasan ribu jenis jamur, ternyata baru beberapa jenis saja yang sudah dibudidayakan, antara lain jamur padi (Volvariella volvacea), jamur tiram (Pleurotus ostreatus), jamur kuping atau lember (Aricularia polytricha), jamur shiitake (Lentinus edodes), jamur maitake (Grifolia frondosa), dan yang sudah sangat terkenal adalah jamur ling-zhi (Ganoderma lucidum).



Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) mempunyai nama lain shimeji (Jepang), abalone-mushroom atau oyster mushroom (Eropa atau Amerika), supa liat (Jawa Barat). Warna tubuhnya putih, kecokelat-cokelatan, keabu-abuan, kekuning-kuningan, kemerah-merahan, dan sebagainya sehingga namanya tergantung pada warna tubuhnya. Bila sudah terlalu tua, apalagi kalau sudah kering, jamur tiram akan alot atau liat walaupun terus-menerus direbus. Jenis supa liat yang paling banyak dicari serta tumbuh secara alami yaitu yang tumbuh pada kayu lunak, seperti karet, kapuk, dan kidamar karena bentuknya besar, berdaging tebal, dan empuk.

Sekarang jenis jamur tiram banyak dibudidayakan. Selain dapat disayur, jamur tiram juga dapat diolah menjadi makanan lain, misalnya kerupuk, keripik, atau dengan nama yang lebih mentereng menjadi tiram-crisp atau tiram-chips. Di Eropa dan Amerika, jamur tiram sering dikonsumsi langsung, dijadikan semacam sayuran pada pembuatan salad. Bahkan beberapa rumah makan di hotel berbintang di Jakarta ada yang sudah menyajikan jamur tiram segar sebagai campuran di dalam ramuan gado-gado. Jamur tiram juga populer sebagai masakan sup dan pepes.

Vitamin di dalam jamur terdiri dari thiamine (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), niasin, biotin, vitamin C, dan sebagainya. Kandungan mineral jamur tersusun oleh K, P, Ca, Na, Mg, Cu, dan beberapa elemen mikro. Kandungan serat di dalam jamur berkisar mulai dari 7,4 - 27,6%, tergantung kepada jenisnya.

Kandungan vitamin dan mineral jamur tiram yaitu thiamin 4,8%, riboflavin 4,7%, niasin 108,7%, vitamin C 0%, kalsium 33%, fosfor 134,8%, besi 15,2 5, natrium 837 %.

Hal yang perlu diperhatikan dalam budi daya jamur tiram menyangkut faktor penentu, antara lain lokasi dengan ketinggian dan persyaratan lingkungan tertentu, sumber bahan baku untuk substrat tanam, dan sumber bibit (kalau mungkin bibit unggul).

Pemeliharaan substrat tanam harus memperhatikan faktor lingkungan. Selama pertumbuhan bibit (serat/miselia seperti benang-kapas), temperatur diatur antara 28-300 C. Sementara untuk pertumbuhan tubuh buah jamur sampai panen, temperatur diatur antara 26-280 C.

Selama pertumbuhan bibit dan pertumbuhan tubuh buah, kelembapan udara diatur sekitar 90 % karena kalau kurang maka substrat tanam akan mengering, agar kelembapan terjamin, lantai ruangan sebaiknya disiram air bersih pada pagi dan sore hari.


Sarana Produksi


Alat :

  • Drum
  • .Auto Clup
  • Plastik Polybag

Bahan :
  • Spora jamur (F2)
  • Serbuk kayu (sengon algasia) atau jenis-jenis serbuk kayu yang tidak mengandung getah tinggi atau minyak.
  • Bekatul.

Pembuatan
  • Pertama – tama serbuk kayu dicampur dengan bekatul lalu dimasukkan kedalam sebuah plastik polibag, kemudian disterilkan kedalam alat pensteril selama 2 jam dengan suhu 900, lalu polibag siap di isi dengan Spora jamur (F2).kemudian di diamkan selama 40 hari dan jamur akan tumbuh dengan ukuran 2cm.
  • Selama pertumbuhan bibit, dikondisikan ruangan dengan suhu yang lembab. Dengan cara dilakukan penyiraman pada lantai minimal sehari 1 kali. Kemudian dilakukan pensterilan dengan memberi polibag uap air 900 C atau dengan alat auto clup (dari bahan kaca) 1200 C untuk 1,5 kg/30 menit.
  • Bibit jamur yang terdapat pada polibag, didiamkan selama 1 bulan setelah melalui proses pembibitan dan pensterilisasi. Dihitung setelah didiamkan selama 1 bulan, maka bibit jamur pada polibag mulai merambat memenuhi serbuk kayu pada polibag.
  • Setelah 10 hari jamur tiram sudah bisa di panen. Setelah panen pertama dengan jarak 14 hari jamur akan tumbuh lagi dan seterusnya sampai akhir.
  • Setiap panen per polibag 5 s/d 7 kali panen tergantung dari suhu dan tempat atau kelembapan ruangan.



Kesimpulan & Saran
  1. Budi daya jamur tiram sudah banyak dibudidayakan di Indonesia.
  2. Perawatan jamur tiram ketika pertumbuhan bibit kelembapan dan suhu ruangan diatur sekitar 28-300 C.
  3. Pemasaran jamur tiram sudah menyebar hampir keseluruh wilayah di Indonesia.
  4. Sebaiknya petani diberi penyuluhan terlebih dahulu mengenai cara membudidayakan jamur tiram agar hasil yang diperoleh adalah jamur tiram unggulan.
  5. Sebaiknya mencoba untuk mengekspor jamur tiram agar pendapatan yang diperoleh dapat meningkat.

Senyawa Bioaktif yang terdapat pada Bawang Merah dan Bawang Putih



Bawang merah dan bawang putih merupakan komoditi pertanian yang banyak dibutuhkan penduduk di dunia, terutama dimanfaatkan sebagai bahan penambah penyedap atau pewangi beberapa jenis makanan. Sekarang ada orang yang memanfaatkannya dalam bentuk hasil olahan, seperti acar (pickle), tepung dan makanan dalam kaleng. Berbagai makanan sehari-hari yang menjadi nikmat dan sehat karena keberadaan kedua tumbuhan ini. Di balik kelezatan kedua bawang tersebut, ternyata terdapat zat yang dapat membantu sel tubuh manusia dapat bekerja secara optimal.

Bawang merah berasal dari tanaman Allium cepa suku Amaryllidaceae. Secara empiris, bawang merah dipakai untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan, termasuk sakit tenggorokan, penyakit kulit, keropos tulang, diabetes, kolesterol tinggi. Berbagai hasil penelitian menunjukkan peran bawang merah dalam menurunkan risiko terkena berbagai jenis kanker. Konsumsi bawang merah dalam jumlah sedang diyakini dapat mengatasi jenis kanker usus bagian bawah, ovarium, dan larings.

Bawang putih memiliki nama ilmiah Allium sativum dari suku Amaryllidaceae. Bawang putih dipercaya bisa menurunkan kadar kolesterol sehingga bisa menghindarkan manusia dari serangan jantung, dan stroke, serta memperbaiki sirkulasi darah. Bawang putih juga diyakini menurunkan kadar lemak darah. Berbagai penelitian pernah dilakukan terhadap senyawa alisin yang diekstraksi dari bawang putih. Hasilnya, terjadi penurunan lipid alias lemak. Namun, alisin hanya dijumpai pada serbuk bawang putih dan bawang putih segar saja. Sementara, minyak bawang putih tidak mengandung senyawa berkhasiat itu.

Di dalam bawang merah dan putih dijumpai zat aktif yang mengandung unsur sulfida, terutama dalam bentuk sistein. Senyawa S-alkil sistein sulfoksida tersebut terurai menjadi berbagai senyawa tiosulfinat dan polisulfida oleh kerja enzim alinase. Kedua produk dekomposisi itu bersifat mudah menguap dan mempunyai aktivitas antidiabetes, antibiotik, hipokolesterolemia, fibrinolitik aktivitas biologik, dan lain-lain. Terdapat juga senyawa golongan peptida yang mengandung sulfur dan bersifat tidak menguap, serta protein yang mempunyai berbagai aktivitas. Tetapi yang terpenting untuk diketahui adalah bawang merupakan sumber senyawa polifenol yang luar biasa, termasuk di dalamnya senyawa flavonoid. Senyawa polifenol inilah yang berkhasiat sebagai antioksidan. Kandungan nutrisi bawang merah cukup kaya. Dalam 100 gram bawang mentah terdapat vitamin E, K, kalsium, zat besi, magnesium, fosfor, kalium, natrium, dan seng (zinc). Konsumsi secara teratur, dapat menghindarkan kita dari kekurangan unsur vitamin dan mineral.

BAWANG MERAH

Bawang merah merupakan tanaman berumbi lapis, tinggi 60 – 1,20 cm, umbi lapis berkembang baik, berbentuk bulat telur, bulat atau bulat pipih tertekan; bentuk dan besarnya sangat bervariasi dengan tebal 4 – 15 cm, dengan atau tanpa umbi lapistambahan. Daun roset, akar lebih pendek dari ibu tangkai bunga payung, tangkai bunga 3kali panjang mahkota bunga atau lebih, kepala oval sampai bulat me manjang dantumpul, dengan garis tengah berwarna hijau di bagian tengahnya putih kehijauan atauviolet, panjang 4-6 mm. Tangkai benang sari mempunyai pangkal lebih besar dengan bakal buah tiga ruangan.Tanaman ini berasal dari Asia Barat yaitu Palestina dan masuk ke Indonesia melalui India. Berikut adalah klasifikasi tanaman bawang merah. (Prabowo, 2007)


Pada garis besarnya dikenal 2 jenis bawang merah yaitu bawang merah biasa (Alliumascolanum) dan bawang merah bombay (Allium cepa L.). Allium ascolonicum dikenaldengan bawang merah blambangan merupakan jenis bawang merah yang banyak digunakan.


Senyawa Aktif Bawang Merah

  • Allisin dan Alliin
    Alliin berupa hemihidrat yang tidak berwarna C6H11NO2S.½H2O bentuk jarumtumpul yang diperoleh dari hasil rekristalisasi menggunakan pelarut aseton. Titik leburnya 164-166oC (dengan mengeluarkan gas), praktis larut dalam air.Allisin dan Alliin bersifat hipolipidemik, yaitu dapat menurunkan kadar kolesteroldarah. Mengonsumsi satu suing bawang merah segar dapat meningkatkan kadalkolesterol baik (HDL) sebesar 30 %. Senyawa ini juga berfungsi sebagaiantiseptik, yaitu menghambat pertumbuhan mikroorganisme. 
  • Flavonoid
    Bahan aktif ini dikenal sebagai antiinflamasi atau anti radang. Jadi, bawangmerah bisa digunakan untuk menyembuhkan radang hati (hepatitis), radang sendi(arthritis), radang tonsil (tonsillitis), radang pada cabang tenggorokan (bronchitis),serta radang anak telinga (atitis media). Flavonoid juga berguna sebagai bahanantioksidan alamiah, sebagai bakterisida, dan dapat menurunkan kolesterol jahat(LDL) dalam darah secara efektif 
  • Alilpropil disulfideSeperti flavonoid, senyawa ini juga bersifat hipolipidemik atau mampumenurunkan kadar lemak darah. Khasiat lainnya yaitu sebagai antiradang.Kandungan sulfur dalam bawang merah sangat baik untuk mengatasi reaksiradang, terutama radang hati, bronchitis, maupun kongesti bronchial 
  • Fitosterol
    Fitosterol adalah golongan lemak yang hanya bisa diperoleh dari minyak tumbuh-tumbuhan atau yang lebih dikenal sebagai lemak nabati. Jenis lemak ini cukupaman untuk dikonsumsi, termasuk oleh para penderita penyakit kardiovaskuler.Oleh karena itu, penggunanya justru akan menyehatkan jantung. 
  • Flavonol
    Flavonol bersama kuersetin dan kuersetin glikosida, memiliki efek farmakologissebagai bahan antibiotic alami. Hal ini dikarenakan kemampuannya untuk menghambat pertumbuhan virus, bakteri, maupun cendawan. Senyawa ini jugamampu bertindak sebagai antikoagulan dan anti kanker. 
  • Pektin
    Bahan ini merupakan golongan polisakarida yang sukar dicerna. Oleh karena itu,seperti pada flavonoid, pektin bersifat menurunkan kadar kolesterol. Senyawa ini juga mempunya kemampuan mengendalikan pertumbuhan bakteri. 
  • Saponin
    Saponin termasuk senyawa penting dalam bawang merah, yang memiliki cukup banyak khasiat. Senyawa ini berperan sebagai antikoagulan, yang berguna untuk mencegah penggumpalan darah. Saponin juga dapat berfungsi sebagaiekspektoran, yaitu mengencerkan dahak. 
  • Tripropanal sulfoksidaKetika umbi bawang merah diiris atau dilukai, akan keluar gas tripropanalsulfoksida. Gas ini termasuk salah satu senyawa aktif eteris dalam bawang merahyang menyebabkan keluarnya air mata (lakrimator). Agar mata tidak pedih dan berair saat mengiris bawang merah, simpanlah bawang merah dalam lemari pendingin selama kurang lebih 30 menit. Bersamaan dengan keluarnya tripropanalsulfoksida, akan muncul pula bau menyengat yang merupakan aroma khas bawang merah.
    Bau ini berasal dari senyawa propil disulfide dan propilmetildisulfide. Ketika bawang merah ditumis atau digoreng, senyawa ini menebarkanaroma harum. Baik tripropanal sulfoksida, propil disulfida, maupun propilmetil disulfide dapat berfungsi sebagai stumulansia atau perangsang aktivitas fungsiorgan-organ tubuh. Jadi, senyawa-senyawa ini sangat berguna untuk merangsangfungsi kepekaan saraf maupun kerja enzim pencernaan.

BAWANG PUTIH

Menurut Ir. Hieronymus Budi Susanto bawang putih merupakan komoditi pertanian yang banyak dibutuhkan penduduk di dunia, terutama dimanfaatkan sebagai bahan penambah penyedap atau pewangi beberapa jenis makanan. Sekarang adaorang yang memanfaatkannya dalam bentuk hasil olahan, seperti acar (pickle), tepungdan makanan dalam kaleng. Hanya sebagian kecil diolah dalam bentuk minyak  bawang putih (garlic oil). ( Bawang putih berkembang di dataran rendah, 1987 : 11).
Menurut Ir. Bambang Cahyono, tanaman bawang putih (allium sativum) adalah merupakan salah satu dari jenis tanaman sayuran umbi semusim yang tumbuhtegak sampai ketinggian 41-84 cm, tergantung dari varietasnya. Pada varietas datarantinggi, bawang putih tumbuh dari ketinggian 60 cm. Berikut adalah klasifikasi tanaman bawang putih.    


Senyawa Aktif Bawang Putih

Dr. Paavo Aerola, seorang peneliti gizi dan pendiri The International Academyof Bilogical Medicine, telah berhasil memasukkan dan mengisolasikan sejumlah komponen aktif dari bawang putih, yakni sebagai berikut:
  • Allicin
    Zat aktif yang mempunyai daya bunuh terhadap bakteri dan dayaantiradang.
  • Aliin
    Suatu asam amino yang antibiotic.
  • Gurwitchrays
    Sinar gurwitch, radiasi mitogenetik yang merangsang pertumbuhan sel tubuh dan mempunyai daya peremajaan (rejunavenating effect) pada semua fungsi tubuh.
  • Antihemollytic factor
    Faktor anti lesu darah atau inti kekurangan sel-sel darah merah. 
  • Antiarthritic factor
    Faktor antirematik yang dibuktikan dalam penelitian di Jepang, terutama di rumah sakit angkatan darat. 
  • Sugar Regulating factor
    Faktor pengatur pembakaran gula secara normal,efisien di dalam tubuh, yang bermanfaat bagi pengobatan penunjang terhadapdiabetes dan reactive atau fungctional hypoglycemia. Hypoglycemia reaktif merupakan kebalikan dari kondisi diabetes, yaitu merosotnya gula darah di bawah batas normal angka 100, akibat dirangsangnya produksi hormone insulin dalam jumlah berlebihan karena terlalu banyak makan gula pasir, serta tepung-tepunganhasil penggilingan modern : nasi putih, roti putih, bakmi dan bihun, makroni,yang semuanya sudah bersih dari kulit selaput beras atau gandum (bekatul).
  • Allihiamine
    Suatu sumber ikatan-ikatan (compounds) biologic yang aktif serta vitamin B1.
  • Selenium 
  • Suatu mikro mineral yang merupakan factor yang bekerja sebagaianti oksidan (antikerusakan, antioksidasi sel-sel tubuh oleh zat-zat racun yangmerusak sel-sel), yang mengakibatkan pengapuran pembuluh darah, membuat sel-sel tubuh yang normal menjadi lemah dan berubah menjadi sel-sel kanker, danmembuat orang menjadi cepat tua. Selenium mencegah terbentuknya gumpalandarah (bloodclot; thrombus) yang dapat menyumbat pembuluh darah jantung danotak.
  • Germanium
    Seperti selenium, merupakan mineral anti kanker yang ampuh,yang dapat menghambat atau memusnahkan sel-sel kanker.
  • Antitoksin
    Anti racun atau pembersih darah dari racun-racun bakteri ataupun polusi logam-logam berat. Juga berfungsi sebagai anti alergi, dan memperkuatdaya tahan tubuh tehadap asthma
  • Scordinin
    Zat aktif yang mempercepat pertumbuhan tubuh, meninggalkan berat badan, meningkatkan energi, menyembuhkan penyakit kardium vaskuler dan antioksidan.
  • Methylallyl trisulfide,
    Mencegah pengentalan darah atau mencegah pengumpulan piringan-piringan yang dapat menyumbat pembuluh darah jantungdan otak.( Bawang putih berkembang di daratan rendah, 1987 : 19-20 ).

Manfaat Bawang Putih
Bawang putih yang semula hanya dikenal sebagai bumbu dapur, kini telahdiketahi memiliki beragam kegunaan dalam menunjang kehidupan manusia. Selain manfaat utamanya, untuk bahan baku keperluan dapur, umbi bawang putih juga dapatdigunakan sebagai salah satu bahan baku untuk pembuatan obat-obatan, dan bahan baku untuk olahan makanan. Sebagai bahan baku keperluan dapur, bawang putih berfungsi sebagai bumbu penyedap beragam masakan.
Sebagai bahan baku obat-obatan, bawang putih memiliki khasiat untuk penyembuhan bermacam-macam penyakit, seperti penyakit infeksi pada saluran pernafasan, penyakit infeksi pada usus, penyakit batuk, penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi), gatal-gatal,penyakitkencing manis (diabetis), penyakit typus, penyakit cacingan, penyakit infeksi padakulit dan luka bekas gigitan binatang berbisa, penyakit maag, penyakit kanker, penyakit ganorrhoe, penyakit infeksi di vagina akibat jamur candidas albicans, penyakit meningitis akibat jamur Eurytococcus neoformans, mata bengkak karenaangin bahkan tidak itu saja, umbi bawang putih juga bermanfaat untuk meningkatkankesuburan wanita, mencegah penuaan sehingga tetap awet muda, untuk memperkuatotot-otot badan, dapat menambah gairah seks, mengatasi letih, lelah dan susah tidur.

Khasiat bawang putih seperti tersebut diatas, karena umbi bawang putih mengandungsenyawa allisin dan scordinin. Senyawa allisin, merupakan zat antibiotika yang dapatmembunuh kuman penyakit, dan senyawa scordinin merupakan zat yang dapatmemberikan kekuatan atau daya tahan tubuh dan untuk pertumbuhan sel. Selain itu,ditemukan pula senyawa-senyawa seperti selenium, enzim germanium, antiarthritic,methylallyl trisulfide. Sedangkan bahan baku olahan makanan, umbi bawang putih banyak digunakan untuk membuat sejenis minuman yang disebut “garlie juice” yangmerupakan minuman segar sari bawang putih.( Bercocok tanam bawang putih, 1994 :11 )

Penyadapan Tanaman Karet



Karet merupakan salah satu jenis tanaman banyak diusahakan di daerah tropis seperti Indonesia. Berdasarkan data statistik Indonesia, karet memegang peranan yang penting bagi perekonomian karena sumbangan yang besar terhadap devisa Negara dan banyaknya tenaga kerja yang bekerja pada sektor perkebunan karet.

Meskipun hasil karet di Indonesia cukup tinggi bahkan menjadi pengekspor ketiga setelah Malaysia dan Thailand, namun kualitas karet Indonesia masih kurang baik terutama karet yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hasil karet adalah penyadapan.

Penyadapan pada dasarnya mengambil atau memanen hasil karet yang berupa getah atau lateks dengan cara melukai ( memotong atau menyobek ) pembuluh lateks yang ada di kulit tanaman karet sehingga lateks yang ada keluar. Pada dasarnya semua bagian tanaman karet mempunyai pembuluh lateks sehingga dapat menghasilkan lateks, tetapi karena bagian tanaman karet yang paling besar dan mudah dijangkau adalah batang pohon maka penyadapan hanya dilakukan pada kulit batang pohon karet saja. Dengan demikian maka batang pohon karet merupakan investasi yang penting karena dari batang pohon itulah akan diperoleh hasil.

Penyadapan dilakukan bukan untuk tujuan jangka pendek, tetapi untuk tujuan jangka panjang. Penyadapan dilakukan untuk mendapatkan hasil lateks dalam jumlah optimal dan tanaman mempunyai masa produktif yang lama. Untuk mencapai tujuan tersebut maka penyadapan harus dilakukan secara baik dengan memperhatikan berbagi aturan atau norma yang ada.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, tanaman karet sebaiknya mulai disadap pada umur 5 – 6 tahun dan mempunyai lilit batang 45 cm pada ketinggian 100 cm diatas permukaan tanah ( apabila tanaman berasal dari biji ) atau diatas pertautan okulasi / kaki gajah ( apabila tanaman berasal dari bibit okulasi ). Hal didasarkan pada umur tersebut jumlah pembuluh lateks sudah cukup banyak sehingga hasil yang diperoleh akan lebih banyak. 

Pada dasarnya penyadapan dapat dilakukan dengan beberapa metode, tetapi yang paling banyak dilakukan dengan menggunakan metode penyayatan karena hasil yang diperoleh cukup tinggi dan secara teknis mudah dilakukan. Aturan-aturan penyadapan tanaman karet meliputi ketinggian, arah dan kemiringan, panjang irisan, kedalaman, ketebalan dan waktu penyadapan serta penggunaan stimulansia.

Salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap banyaknya lateks yang diperoleh adalah waktu penyadapan karena berhubungan dengan tekanan turgor sel dan metode penyadapan. Dibawah ini kita anakan melakukan sebuah praktek dengan tujuan mengetahui metode dan memahami norma-norma penyadapan tanaman karet dan mengetahui pengaruh waktu penyadapan terhadap hasil lateks.

METODOLOGI

A. Bahan dan Alat
Bahan yang diperlukan adalah batang pohon karet, sedangkan alat yang diperlukan adalah pisau sadap, mistar / penggaris, sigmat, quadric atau paku, mal sadap, talang sadap, dan mangkuk sadap.

B. Metode
Penelitian ini dilakukan di green house dengan melakukan penyadapan pada waktu yang berbeda yaitu jam 06.00, 10.00 dan 14.00 dan dengan ketebalan 1,0 , 1,5 , 2,0 cm.

C. Cara kerja
  1. Siapkan / pilihlah sebuah batang pohon karet sepanjang 3 m dengan ketentuan sudah berumur minimal 5 tahun dan mempunyai diameter batang 45 cm pada ketinggian 100 cm.
  2. Ukuran diameter batang pohon karet tersebut menggunakan mistar dan bagilah menjadi dua bagian yang sama.
  3. Buatlah gambar bidang sadap dengan cara membuat torehan ke atas-bawah pada kulit batang pohon karet tersebut menggunakan quadric atau paku yang runcing sehingga terlihat gambar bidang sadapnya.
  4. Ukurlah titik sadap pembukaan ( sadap yang dilakukan pertama kalinya ) menggunakan mistar pada ketinggian 130 cm di atas tanah apabila tanaman berasal dari biji atau diatas pertautan okulasi apabila tanaman berasal dari bibit okulasi.
  5. Buatlah gambar kemiringan sadap menggunakan mal sadap dengan sudut 45° dari bidang horizontal.
  6. Buatlah gambar arah dan kemiringan sadap menggunakan quadric atau paku dengan cara menorah kulit batang pohon karet dari titik sadap pembukaan kea rah kanan bawah sepanjang setengah lingkaraan atau sampai garis torehan bidang sadap.
  7. Bersihkan kulit batang pohon tanaman karet dari berbagai kotoran yang dapat mengganggu proses penyadapan.
  8. Pasanglah talang sadap pada ujung bawah gambar bidang sadap ( di garis torehan bidang sadap ) serta mangkuk sadap 10-15 cm dibawah talang sadap.
  9. Lakukan penyadapan mulai dari titik sadap pembukaan dengan cara menyayat kulit batang pohon dengan menggunakan pisau sadap dengan kedalaman 0,5-1,0 dan 2,0 cm.
  10. Lakukan penyadapan tersebut pada waktu yang berbeda yaitu jam 06.00, 10.00 dan 14.00 dengan ketebalan 1,0 ; 1,5 dan 2,0 cm
  11. Amati dan hitung jumlah lateks yang keluar selama beberapa menit.
Pengamatan dan Analisis Data

Pengamatan dilakukan terhadap 2 perlakuan penggoresan kulit karet dengan ketebalan 1cm dan 2cm dengan 4x ulangan dengan berat lateks : ulangan 1 : 28,5 g, ulangan 2 : 24 g, ulangan 3 : 5,6 g, ulangan 4 : 13,7 g dan 2 cm dengan 4x ulangan dengan berat lateks : ulangan 1 : 27,9 g, ulangan 2 : 48,1 g, ulangan 3 : 8,2 g, ulangan 4 : 19 g

HASIL ANALISIS & PEMBAHASAN


Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan di green house penyadapan pada batang karet, goresan dilakukan dari kiri atas ke kanan bawah, sudut 45° dari datar. Apabila Kedalaman sadapan semakin dalam maka pembuluh akan terpotong banyak dan lateks semakin banyak.Apabila penyayatan terlalu dalam maka akan merusak kambium, rekomendasi penyayatan adalah : 0,5–1,0 mm dari kambium. 

Dalam praktikum yang dilaksanakan dilakukan penggoresan batang karet dengan ketebalan 1 cm dengan 4x ulangan dengan berat lateks : ulangan 1 : 28,5 g, ulangan 2 : 24 g, ulangan 3 : 5,6 g, ulangan 4 : 13,7 g dan 2 cm dengan 4x ulangan dengan berat lateks : ulangan 1 : 27,9 g, ulangan 2 : 48,1 g, ulangan 3 : 8,2 g, ulangan 4 : 19 g dengan waktu penyadapan pada siang hari, seharusnya waktu penyadapan yang baik adalah jam 5.00 – 7.30 pagi dengan dasar pemikirannya:
  1. Jumlah lateks yang keluar dan kecepatan aliran lateks dipengaruhi oleh tekanan turgor sel
  2. Tekanan turgor mencapai maksimum pada saat menjelang fajar, kemudian menurun bila hari semakin siang
  3. Pelaksanaan penyadapan dapat dilakukan dengan baik bila hari sudah cukup terang
Lateks adalah getah seperti susu dari banyak tumbuhan yang membeku ketika terkena udara. Ini merupakan emulsi kompleks yang mengandung protein, alkaloid, pati, gula, minyak, tanin, resin, dan gom. Pada banyak tumbuhan lateks biasanya berwarna putih, namun ada juga yang berwarna kuning, jingga, atau merah Untuk memperoleh hasil sadap yang baik, penyadapan harus mengikuti aturan tertentu agar diperoleh hasil yang tinggi, menguntungkan, serta berkesinambungan dengan tetap memperhatiakan faktor kesehatan tanaman agar tanaman dapat berproduksi secara optimal dan dalam waktu yang lama (Siregar, 1995). 

Dalam praktiknya untuk kelangsungan produksi, hal yang sangat mendasar adalah di dalam pemulihan bidang sadap. Agar bidang sadap dapat kembali pulih tentu ada yang dipelukan di dalam penyadapanya. Menghindari penggunaan Ethepon pada pohon yang kena kekeringan alur sadap adalah salah satu cara agar bidang sadap dapat kembali pulih dan pohon yang mengalami kekeringan alur sadap perlu diberikan pupuk ekstra untuk mempercepat pemulihan kulit (Santosa, 2007 )

KESIMPULAN
  1. Metode yang sering digunakan yaitu metode sadap sayat karena lebih mudah dalam pengaplikasiannya, Metode sadap sayat yaitu sadap yang dilakukan dengan mengiris / menyayat kulit batang sehingga pembuluh lateks terpotong. Norma – norma penyadapan juga harus diperhatikan karena dapat juga mempengaruhi kualitas dan jumlah lateks.
  2. Metode sadap sayat sangat berpengaruh terhadap jumlah lateks, dan waktu yang bagus untuk penyadapan yaitu pada pagi hari antara jam 5.00 – 7.30 pagi.
Seharusnya waktu penyadapan harus diperhatikan, karena waktu yang baik untuk menyadap adalah pada pagi hari, pada praktikum yang dilakukan pada siang hari sangat berpengaruh pada jumlah lateks yang dihasilkan.yaitu sangat sedikit jumlah lateks yang dihasilkan.

Politik Pangan Indonesia: Renungan Hari Pangan Dunia



Pembangunan Pangan Indonesia
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi seluruh rakyat Indonesia. Pangan berperan penting dalam membentuk sumberdaya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional. Permasalahan akan pangan akan berpengaruh pada penurunan kualitas sumberdaya manusia yang pada akhirnya berdampak terhadap pembangunan nasional secara keseluruhan. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya.

Kebijakan pembangunan pangan di Indonesia, sebagaimana hampir seluruh negara di dunia, mengikuti konsep ketahanan pangan (food insecurity). Hal ini tercermin dari kebijakan yang telah diterbitkan, salah satunya dalam UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan. Dalam UU tersebut, ideologi ketahanan pangan mewarnai hampir seluruh isi undang-undang. Hal yang terus disinggung dalam UU tersebut adalah aspek pemenuhan dan kecukupan bahan pangan bagi masyarakat. UU tersebut tidak mempersoalkan bagaimana bahan pangan itu didapat dan dengan cara apa, termasuk impor besar-besaran sekalipun. Hal ini menjadikan Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi pada produk-produk pangan impor.



Jika kita menilik sejarah lahirnya UU ini. Perlu dicermati bahwa setting waktu kelahiran UU Pangan saat itu berdekatan dengan World Food Summit (WFS) 1996 yang diselenggarakan oleh FAO. Dimana salah satu resolusi yang dikeluarkan (resolusi No.176/1996) antara lain berisi komitmen untuk mengimplementasikan suatu konsep food security sebagai suatu upaya untuk mengatasi bahaya kelaparan yang menimpa dunia. Oleh karenanya, wajar jika dalam UU Pangan, food security lebih dominan sebagai “spirit” penyusunan UU, dibandingkan konsep kedaulatan pangan. Gambaran yang disajikan dalam tabel diatas menunjukan bahwa semakin lama negara kita semakin masuk kedalam jebakan pangan (food trap) yang indikator utamanya adalah tingkat ketergantungan kita pada produk luar. Jebakan ini salah satunya dipicu oleh ‘harga murah’ dari produk-produk impor sehingga volume impor pangan kita dari tahun ke tahun semakin membengkak.

Lebih dari 5 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 50 triliun lebih devisa setiap tahun terkuras untuk mengimpor pangan (Kompas, 24 Agustus 2009). Fluktuasi harga pangan dunia siap menguras devisa lebih besar lagi. Sendi ekonomi bangsa bisa ambruk kapan saja apabila pasokan dari luar terhenti total karena berbagai alasan.  Nilai impor kedelai rata-rata setiap tahun mencapai 595 juta dollar AS (setara dengan Rp 5,95 triliun), gandum 2,25 miliar dollar AS (Rp 22,5 triliun), gula 859,5 juta dollar AS (Rp 8,59 triliun), daging sapi 480 juta dollar AS (Rp 4,8 triliun), susu 755 juta dollar AS (Rp 7,55 triliun), dan garam 90 juta dollar AS (Rp 900 miliar). Harga komoditas pangan impor dari negara-negara tersebut murah akibat subsidi yang besar yang terkait dengan subsidi ekspor. Ketergantungan terhadap impor juga terlihat pada komoditas beras. Data yang ada pada Departemen Perindustrian dan Perdagangan menyebutkan impor beras tahun 2001 mencapai 1,5 juta ton, sementara tahun 1997 hanya 349.000 ton. Kecenderungan yang sama juga terjadi pada kedelai. Impor kedelai yang tahun 1997 sebesar 868.000 ton meningkat menjadi 921.000 ton tahun 2000 dan 1,3 juta ton tahun 2002. Demikian pula untuk gula, gandum, daging sapi, dan unggas.

Dalam kurun waktu 2005–2008, produksi beberapa komoditas pangan kita memang mengalami peningkatan yang signifikan (RPJMN, 2009). Akan tetapi, keadaan seperti ini tidak bisa dijadikan jaminan bahwa kita akan aman-aman saja dengan ancaman krisis pangan, kelaparan dan kekurangan gizi. Ancaman krisis pagan, kelaparan dan kekurangan gizi pada bayi dan balita telah menjadi persoalan yang sampai saat ini belum bisa terselesaikan oleh negara. Beberapa waktu lalu kita dikagetkan dengan ditemukannya satu desa dimana penduduknya menderita ‘cacat mental’. Belum lagi kasus-kasus lain, seperti gizi buruk dan busung lapar yang melanda beberapa daerah di Indonesia.

Negara kita berada dalam status rawan pangan bukan karena tidak adanya pangan, akan tetapi lebih disebabkan pada pemenuhan pangannya bergantung pada pihak lain. Meskipun dari aspek pemenuhan kebutuhan masyarakat tidak terlalu bermasalah, akan tetapi dalam jangka panjang tentu akan sangat mebahayakan kelangsungan hidup ratusan juta rakyat Indonesia. Saat terjadi perubahan pola-pola produksi-distribusi-konsumsi di tingkat internasional, maka secara otomatis kita pun langsung terkena dampaknya. Komoditas pangan yang sangat vital bagi rakyat yang masih tergantung pada pasar internasional diantaranya: beras, kedelai, jagung, gula, singkong dan minyak goreng (SPI, 2008).

Kerjasama regional AC-FTA dan AANZ-FTA
Melalui ASEAN, Indonesia menjadi negara paling aktif mempelopori suksesnya agenda perdagangan bebas melalui FTA antara ASEAN dengan negara-negara maju seperti China, Korea, Jepang, Australia dll. Salah satu yang paling maju adalah kesepakatan perdagangan bebas antara ASEAN dengan Australia dan Selandia Baru (AANZ-FTA). Menurut keterangan Departemen Perdagangan (Depdag), AANZ-FTA telah ditandatangani pada 27 Februari 2009 di Hua Hin Thailand. Perjanjian ini adalah yang paling komprehensif meliputi perdagangan barang dan jasa, investasi, ROO, Costums, SPS, TBT, safeguard, HAKI, kebijakan persaingan, MNP, kerja sama ekonomi, DSM dan e-commerce. Isi perjanjian mencapai 5.000 halaman yang terdiri dari 18 bab, 202 pasal dan 4 lampiran.

Berlandaskan situasi ekonomi saat ini, AANZ FTA sarat dengan kepentingan ekonomi Australia dan sekutunya Selandia Baru dalam meningkatkan dominasi ekonominya di kawasan ASEAN khususnya Indonesia sebagai pangsa pasar terbesar di kawasan ini. Penghapusan bea masuk dan tarif, sebagian besar berhubungan dengan produk-produk pangan Australia yang sejak awal menjadi komoditas andalan Negara Kanguru tersebut dan mengalami surplus atas Indonesia. Sementara Indonesia masih sangat tergantung pada impor daging, jeroan, susu karena lemahnya kemampuan produksi dalam negeri. Sehingga dapat diduga bahwa penghapusan tarif hanya akan menghasilkan akses pasar yang lebih luas bagi produk pangan Australia dan Selandia Baru di Indonesia khususnya daging sapi dan susu.

Jauh sebelum AANZ-FTA ditandatangani, Australia dan Selandia Baru adalah negara pemasok daging sapi dan susu terbesar ke Indonesia. Bahkan Indonesia merupakan negara pengimpor terbesar sapi hidup Australia, sepanjang 2008 sebanyak 651.196 ekor atau 75 persen dari total 869.545 ekor sapi hidup yang diekspor dari Australia ke pasar dunia. Impor sepanjang 2008 itu naik 26 persen dari impor 2007 yang mencapai 516.992 ekor. Total nilai impor Indonesia itu mencapai Aus$ 419 juta. Sementara dari total 556.000 ton produksi susu olahan 2008 (1,79 juta ton setara susu segar) dengan produk olahannya, yaitu susu bubuk, susu kental manis dan susu cair (UHT/pasteurisasi/strerilisasi), sebanyak 70 persen bahan bakunya dipasok impor dan sebagian besar dari Selandia Baru .

Masalah dan Tantangan Pangan Nasional
Masalah dan tantangan pangan Indonesia semakin hari semakin kompleks. Pada satu sisi, peningkatan permintaan akan bahan pangan terus terjadi seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk serta meningkatnya daya beli dan selera masyarakat akan bahan pangan, yang dipicu oleh membaiknya kondisi ekonomi dalam beberapa tahun ke depan. Di sisi lain, penurunan kuantitas dan kualitas sumber daya lahan, tambak dan air, akan menjadi kendala dan keterbatasan dalam meningkatkan kemampuan produksi komoditas pangan.

BPS, BAPPENAS, dan UNFPA (2000) memperkirakan pada tahun 2050, penduduk Indonesia mencapai 2,1 kali jumlah penduduk tahun 2000 atau mencapai 434 juta jiwa. Itu artinya perlu ratusan juta haktar lahan dan inovasi-inovasi baru dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan ratusan juta mulut rakyat Indonesia tersebut. Seandainya kebutuhan akan pangan itu tidak dapat dipenuhi oleh negara, maka cepat atau lambat dimungkinkan akan terjadi kerusuhan sosial yang luar biasa hebat terkait dengan pemenuhan kebutuhan pangan itu sendiri. 

Selain semakin terbatasnya kemampuan produksi untuk memenuhi permintaan, pangan nasional ke depan akan dihadapkan pula pada tantangan dalam menjaga stabilitas harga pangan dan masih belum meratanya aksesibilitas masyarakat terhadap pangan. Dengan tingkat ketergantungan yang sangat tinggi pada produk-produk pangan impor, negara kita tentunya akan sangat rentan terhadap perubahan pola-pola produksi-distribusi-konsumsi secara internasional. Gejolak harga ini bertambah buruk dimana belum meratanya pola distribusi antar daerah-antar waktu, dan juga  ditengah tantangan fenomena perubahan iklim yang mengancam jutaan petani di dunia. Instabilitas harga ini tentunya akan berdampak pada rakyat kecil yang tidak memiliki kemampuan untuk mengakses pangan dengan harga yang tinggi.

Industralisasi Pangan
Beberapa tahun kedepan, diperkirakan akan terjadi perubahan pola produksi dan distribusi pangan nasional. Yang semula berskala kecil beralih ke skala industri besar. Hal ini dilakukan dengan alasan efisiensi produksi dan permintaan akan pangan yang semakin meningkat.
Saat ini, di negara kita sudah mulai terlihat indikasi ke arah sana. Beberapa kebijakan sangat mempermudah masuknya perusahaan besar dan mengalahkan pertanian dan perikanan skala rakyat. Seperti contoh UU No. 1/1967 tentang PMA, UU No. 4/2004 tentang Sumber Daya Air, Perpres 36 dan 65/2006, UU No. 18/2003 Tentang Perkebunan, dan UU No. 25/2007 tentang Penanaman Modal, UU No. 27/2007 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dimana didalamnya terdapat HP3, dan masih banyak UU/PP lainnya yang berorientasi pada perusahaan besar. Dengan kemudahan regulasi ini, upaya privatisasi menuju monopoli atau kartel di sektor pangan semakin terbuka.

Di dunia internasional sendiri, 90 persen perdagangan pangan saat ini dikuasai oleh 5 MNC (Archer Daniels Midland, Cargill, Bunge), 90 persen pasar benih dan input pertanian dikuasai 6 MNC, dan 99,9 persen benih transgenik dikuasai 6 MNC, dengan Monsanto mengasai 90 persen di dalamnya. Sehingga, pada saat krisis pangan yang menimpa 36 negara di dunia terjadi pada tahun 2008, hal ini justru meningkatkan keuntungan MNC. Peningkatan keuntungan tersebut diantaranya diterima oleh: pedagang pangan dunia (55-189%), perusahaan benih dan herbisida (21-54%), dan  perusahaan pupuk (186-1.200%).

Di Indonesia, industrialisasi pangan ini sudah mulai dijalankan pemerintah dengan mengimplementasikan program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). MIFEE merupakan konsep pengembangan produksi pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan, bahkan peternakan yang berada di suatu kawasan lahan yang sangat luas (an integrated farming, plantation and livestock zone). Program MIFEE sangat menarik minat pemodal asing karena mereka diberi banyak kemudahan untuk “memiliki” dan mengelola lahan di Indonesia.

Usaha ini dinilai oleh beberapa kalangan justru bertentangan dengan upaya pemerintah mendorong ekonomi kerakyatan, khususnya ekonomi kaum tani. Masyarakat lokal Papua dihadapkan pada lompatan gaya hidup, dari “pola meramu” menjadi “pola industri” yang berbasis tanaman pangan/perkebunan/peternakan - yang sebenarnya asing bagi mereka. Karakter pertanian dan pangan Indonesia akan bergeser dari peasant-based and family-based agriculture menjadi corporate-based food dan agriculture production.

FAO melalui laporan bertajuk “Lands Grab or Development Opportunity?: Agriculture Investment and International Land Deals in Africa” mengungkapkan: “sebuah negara berinvestasi di lahan pertanian negara lain ditujukan untuk mengamankan pasokan pangan dalam negerinya sendiri”.  Konsekuensinya: (i) Menempatkan negara-negara miskin pada posisi rentan dalam menghadapi ancaman krisis pangan. (ii) Selain petani akan terusir dari lahannya, dampak kerusakan ekologi karena pola intensive farming bakal sangat merugikan.

Alternatif Solusi
Ke depan, tantangan industrialisasi pangan kita akan semakin nyata. Apalagi negara kita punya pangsa pasar yang amat sangat besar dan ditambah dengan kebijakan yang memberikan kebebasan seluas-luasnya pada pasar. Akan tetapi, kita perlu mencari jalan keluarnya agar industrialisasi pangan berjalan tidak hanya menguntungkan segelintir orang dan tidak mematikan pertanian/perikanan skala kecil yang diusahakan rakyat.

Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya: (1) percepat reforma agraria; (2) Membangun kelembagaan kelompok-kelompok/koperasi/UKM dalam produksi, distribusi, dan konsumsi di sektor pangan; (3) deregulasi kebijakan-kebijakan yang lebih mementingkan para kapitalis besar agar lebih berpihak pada rakyat.

Percepat implementasi reforma agraria merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan sebelum kita mengarah pada industrialisasi pangan. Reforma agraria merupakan bagian dari agenda untuk menciptakan keadilan sosial. Persoalan agraria tidak hanya menyengkut soal “tanah” atau “pertanian saja”. Istilah ini memiliki arti “wilayah” atau “tanah negara”, yang dengan demikian cakupannya menjadi sangat luas. Di dalamnya termasuk flora fauna, barang tambang, dan juga manusia. Pada dasarnya reforma agraria ini harus memiliki dua tujuan. Pertama, memberkan kepada sebanyak mungkin petani tak bertanah sejumlah tanah untuk dimilikinya sendiri, sehingga mereka pada gilirannya mampu meningkatkan produksi dari tanah-tanah tadi. Dan kedua, menciptakan syarat dan kondisi yang lebih baik bagi petani yang masih terpaksa mengerjakan tanah orang lain, sehingga bagi hasil yang diterima kian bertambah besar (Mubyarto,1983).

Selain itu, industrialisasi pangan juga harus dilaksanakan dengan pembangunan kelembagaan petani/nelayan. Dengan jumlah petani dan nelayan yang relatif banyak, pengembangan kelembagaan petani/nelayan juga akan menjadi potensi untuk pembangunan industri pangan yang sangat besar. Untuk itu, perlu dukungan peningkatan efektivitas sistem kelembagaan penelitian dan inovasi teknologi guna mengembangkan potensi ini. Deregulasi kebijakan juga tak kalah penting untuk dilakukan di negeri kita. Mengingat banyak sekali tumpang tindih kebijakan satu sama lain. Selain itu, spirit untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut juga berbeda-beda. Beberapa kebijakan sangat mempermudah masuknya perusahaan besar yang mengalahkan pertanian/perikanan rakyat. Malalui cara ini industrialisasi pangan diharapkan berjalan dengan semangat keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Artikel Politik Pangan Indonesia: Renungan Hari Pangan Dunia, ditulis oleh sdr. Alfian Helmi dan pertama kali diterbitkan di Kompasiana. 

Morfologi Tanaman Tomat



Buah tomat merupakan salah satu jenis sayuran buah yang sangat dikenal oleh masyarakat, rasa buah tomat adalah manis – manis segar yang dapat memberikan kesegaran pada tubuh kita, karena cita rasanya yang khas ini, buah tomat banyak digemari orang, cita rasa dan kelezatan buah tomat juga dapat manambah cita rasa dan kelezatan berbagai macam makanan dan minuman.

Tomat (Solanum lycopersicum) adalah tumbuhan dari keluarga Solanaceae, tumbuhan asli Amerika Tengah dan Selatan, dari Meksiko sampai Peru. Tomat merupakan tumbuhan dengan siklus hidup singkat, dapat tumbuh setinggi 1 sampai 3 meter. Tomat merupakan keluarga dekat dari kentang.

Dibidang genetika, telah ditemukan bermacam – macam jenis tomat dengan keunggulan yang berbeda – beda, sehingga petani dengan mudah dapat menentukan pilihan sesuai dengan kebutuhan dan kesenangannya. Dibidang tehnik bercocok tanam telah ditemukan satu paket teknologi yang dapat meningkatkan pendapatan. Dibidang penanganan hasil panen, buah tomat dapat diolah menjadi bermacam – macam bentuk olahan, seperti saus, jus, sambal, minuman , dan sebagainya. Pemanfaatan buah tomat yang beragam memberi peluang pemasaran yang sangat luas.

Artikel ini dibuat untuk memberikan informasi tentang ciri – ciri morfologi tomat agar kita dapat mengenali tanaman tomat secara rinci seperti bentuk, ukuran, dan sebagainya. Dan juga dapat memberikan informasi tentang jenis – jenis serta manfaat yang terkandung dalam buah tomat

Tomat dan Penyebarannya
Tomat berasal dari bahasa Aztek, salah satu suku Indian sekitar 700 SM, yaitu xitomate atau xitotomate. Tanaman tomat ini berasal dari Peru dan Ekuador di Amerika Selatan. Konon di Amerika tomat tersebar dengan cepat karena dimakan burung dan kotorannya menyebar ke mana-mana. Setelah Spanyol menguasai Amerika Selatan, mereka menyebarkan tanaman tomat ke koloni-koloni mereka di Karibia. Spanyol juga kemudian membawa tomat ke Filipina, yang menjadi titik awal penyebaran ke daerah lainnya di seluruh benua Asia. Spanyol juga membawa tomat ke Eropa. Tanaman ini tumbuh dengan mudah di wilayah beriklim Mediterania. Dalam waktu singkat, tomat menjadi buah wajib di setiap dapur orang eropa.

Bicara soal jenis, didunia ini tak kurang dari 400 jenis tomat yang ditanam oleh para petani. Tak heran, wujud tomat bisa sangat beragam. Ada yang warnanya merah, kuning, hijau, bahkan loreng. Tomat yang loreng ini biasa disebut 'tomat zebra'. 

Tanaman ini dapat hidup baik dataran tinggi maupun dataran rendah, tergantung pada jenis varietas tanamannya. Akan tetapi kualitas tanah, banyaknya sinar matahari dan curah hujan ikut mempengaruhi pertumbuhan tomat. 

Di Indonesia, Kota Malang di Jawa Timur selama ini dikenal sebagai sentral penghasil tomat. Sedangkan di tingkat dunia, Taiwan merebut posisi sebagai sentral tomat. Jadi, bukan Amerika, tempat asal tomat yang mengembangkan tanaman tersebut. Tomat yang baik adalah tomat yang masak di pohon, bukan tomat yang dipaksa matang.



Mengetahui Morfologi Tanaman Tomat
Tanaman tomat termasuk tanaman semusim (berumur pendek). Artinya, tanaman hanya satu kali produksi dan setelah itu mati. Tenaman tomat berbentuk perdu yang panjangnya mencapai ± 2 meter. Oleh karena itu tanaman tomat perlu diberi penopang atau ajir dari turus bambu atau turus kayu agar tidak roboh ditanah tetapi tumbuh secara vertikal.

Berikut ini morfologi tanaman tomat :

Morfologi Akar 
Tanaman tomat memiliki akar tunggang yang tumbuh menembus kedalam tanah dan akar serabuat yang tumbuh ke arah samping tetapi dangkal. Berdasarkan sifat perakaran ini, tanaman tomat akan dapat tumbuh dengan baik jika ditanam ditanah yang gembur dan porous.

Morfologi Batang
Batang tanaman tomat berbentuk persegi empat hingga bulat, berbatang lunak tetapi cukup kuat, berbulu atau berambuat halus dan diantara bulu – bulu itu terdapat rambut kelenjar. Batang tanaman tomat berwarna hijau, pada ruas – ruas batang mengalami penebalan, dan pada ruas bagian bawah tumbuh akar – akar pendek. Selain itu, batang tanaman tomat dapat bercabang dan apabila tidak dilakukan pemangkasan akan bercabang banyak yang menyebar secara merata.

Morfologi Daun
Daun tanaman tomat berbentuk oval, bagian tepinya bergerigi dan mambentuk celah – celah menyirip agak melengkung kedalam. Daun berwarna hijau dan merupakan daun majemuk ganjil yang berjumlah 5 – 7. Ukuran daun sekitar (15 – 30 cm) x (10 x 25 cm) dengan panjang tangkai sekitar 3 – 6 cm. diantara daun yang berukuran besar biasanya tumbuh 1 – 2 daun yang berukuran kecil. Daun majemuk pada tanaman tomat tumbuh berselang seling atau tersusun spiral mengelilingi batang tanaman. 

Morfologi Bunga
Bunga tanaman tomat berukuran kecil, berdiameter sekitar 2 cm dan berwarna kuning cerah. Kelopak bunga yang berjumlah 5 buah dan berwarna hijau terdapat pada bagian bawah atau pangkal bunga. Bagian lain pada bunga tomat adalah mahkota bunga, yaitu bagian terindah dari bunga tomat. Mahkota bunga tomat berwarna kuning cerah, berjumlah sekitar 6 buah dan berukuran sekitar 1 cm. bunga tomat merupakan bunga sempurna, karena benang sari atau tepung sari dan kepala benang sari atau kepala putik terletak pada bunga yang sama. Bunganya memiliki 6 buah tepung sari dengan kepala putik berwarna sama dengan mahkota bunga, yakni kuning cerah. Bunga tomat tumbuh dari batang (cabang) yang masih muda.

Morfologi Buah
Buah tomat memiliki bentuk bervariasi, tergantung pada jenisnya. Ada buah tomat yang berbentuk bulat, agak bulat, agak lonjong, bulat telur (oval), dan bulat persegi. Ukuran buah tomat juga sangat bervariasi, yang berukuran paling kecil memiliki berat 8 gram dan yang berukuran besar memiliki berat sampai 180 gram. Buah tomat yang masih muda berwarna hijau muda, bila sudah matang warnanya menjadi merah.

Buah tomat yang masih muda memiliki rasa getir dan aromanya tidak enak, sebab masih mengandung zat lycopersicin yang berbentuk lender. Aroma yang tidak sedap tersebut akan hilang dengan sendirinya pada saat buah memasuki fase pematangan hingga matang. Rasanya juga akan berubah menjadi manis agak masam yang menjadi ciri khas kelezatan buah tomat.

Dalam proses pematangan buah terjadi perubahan warna dari hijau muda sedikit demi sedikit berubah menjadi kuning. Pada saat matang optimal, warna buah berubah menjadi cerah.

Buah tomat banyak mengandung biji lunak berwarna putih kekuning – kuningan yang tersusun secara berkelompok dan dibatasi oleh daging buah. Biji tomat saling melekat karena adanya lender pada ruang – ruang tempat biji tersusun.

Daging buah tomat lunak agak keras, berwarna merah apabila sudah matang dan mengandung banyak air. Buah tomat juga memiliki kulit yang sangat tipis dan dapat dikelupas bila sudah matang. Namun, buah tomat tidak harus dikelupas kulitnya terlebih dahulu apabila hendaki dimakan

Macam – macam varietas tomat

Maascross
Varietas ini memiliki batang yang sedang hingga tinggi, berdaun lebar dan berwarna hijau tua. Buah varietas ini berbentuk bulat dan sedang. Warna buah muda hijau merata, daging buahnya agak lunak dan tebal. Kalau sudah tua, buahnya berwarna merah. Tetapi varietas 4ni agak peka terhadap daun busuk dan agak tahan terhadap penyakit layu. Varietas ini sangat cocok di tanam di daratan tinggi, terutama pada musim kemarau. Hasil maksimal dari varietas ini di perkirakan sekitar 47 ton per hektar.

Geraldton Smooth Skin 
Varietas ini berbatang tinggi dan kuat. Daunnya lebar dan berwarna hijau tua. Buahnya bulat agak besar. Daging buah agak keras dan tebal. Warna buah muda hijau pada bagian pangkal dan hijau muda pada bagian lainnya. Kalau sudah masak bertarna merah tua. Varietas /geraldton smooth skin/ agak peka terhadap busuk daun dan penyakit layu. Karenanya, tanaman tomat varietas ini sangat cocok di tanam di dataran tinggi dengan produktivitas yang tinggi pula. Setiap hektar tanaman ini dapat menghasilkan ± 40 ton tiap panennya.

Supermarket (Apel Belgia)
Tomat bervarietas Supermarket ini memiliki batang yang tinggi dan kuat. Daunnya lebar dan berwarna hijau tua. Bentuk buahnya bulat besar. Struktur daging buahnya lunak dan tebal. Buah yang masih muda berwarna agak kehijauan dan sedikit berlekuk. Apabila sudah tua buahnya berwarna merah tua. 

Tanaman ini agak peka terhadap penyakit daun busuk dan tahan terhadap penyakit layu. Varietas ini sangat cocok di tanam di dataran tinggi, dan sangat tepat di tanam pada musim kemarau. Hasil panen tanaman tomat ini dapat mencapai 53 ton per hektarnya.

Money Maker
Tomat bervarietas Money Maker ini memiliki batang yang berukuran sedan dan tinggi. Bentuk daun tidak terlalu lebar. Warna daunnya berwarna hijau tua. Bentuk buah bulat sedang. Daging buahnya agak lunak dan tebal. Buah yang masih muda berwarna muda hijau. Sedangkan buah yang sudah masak berwarna merah muda. Seperti beberapa jenis varietas sebelumnya, Tanaman ini juga tahan terhadap daun busuk dan penyakit layu. Varietas jenis ini baik di tamam di dataran tinggi, dan tepat di tanam pada musim kemarau seperti vasietas Supermarket, namun hasil yang di peroleh lebih sedikit yaitu ±45 ton per hektar di banding varietas supermarket yang dapat mencapai 53 ton perhektarnya.

Roma
Batangnya sedang sampai rendah dan kuat. Bentuk daunnya agak lebar dan berwarna hijau muda. Buahnya berbentuk lonjong, berukuran sedang dan sedikit persegi dengan ujung tumpul hingga runcing. Daging buah tipis, kulit buahnya tebal dan agak keras. Buah yang masih muda berwarna hijau keputih-putihan, sedangkan kalau sudah masak berwarna merah muda.

Varietas ini peka terhadap daun busuk, penyakit layk bakteri dan Fusarium. Tanaman ini baik di tanam di dataran tinggi. Hasil panen lumayan sedikit, yaitu ± 24 ton per hektar.

VC-11-1
Varietas ini memiliki batang yang agak pendek, berukuran kecil dan memiliki banyak cabang. Daunnya tidak terlalu lebar, dan warnanya hijau muda. Buahnya berbentuk bulat dan sedang. Daging buah lumayan tebal dan keras. Buah yang masih muda berwarna hijau muda. Warna buah masak merah muda sampai merah tua. Varietas ini peka terhadap layu dan busuk daun. Tanaman ini baik di tanam di dataran rendah (/head tolerant/) dan dapat juga di tanam di dataran tinggi. Hasilnya juga sedikit yaitu sekitar 19 ton perhektarnya.

AV-33
Varietas ini batangnya pendek, tidak terlalu besar dan tidak bamyak cabang. Daunnya tidak terlalu lebar, berwarna hijau muda. Buahnya berbentuk bulat kecil sampai sedang. Daging buahnya tebal dan agak keras Varietas ini bak dapat ditanam di dataran remdah dan juga dataran tinggi. Produksi di perkirakan 23 ton per-hektarnya.

AV-15
Batangnya pendek tidak terlalu besar dan tidak banyak cabang. Daunnya tidak terlalu lebar dan berwarna hijau. Buahnya bulat dan dagingnya tebal agak keras. Buah mudanya berwarna hijau dan kalau sudah masak berwarna merah.AV―15 juga baik di tanam di dataran rendah maupun tinggi. Hasil perhektar ± 23 ton tiap masa panen.

Bonset
Batangnya tinggi dan ramping. Berdaun tidak terlalu lebar dan berwarna hijau muda. Buahnya berbentuk bulat dan berukuran sedang. Daging buah padat dan dan tebal. Warna buah muda putih, sedangkan merah muda bila sudah masak. Varietas bonset agak tahan terhadap busuk daun maupun penyakit layu. 

Mirah
Buah tomat dari varidtar ini bentuknya bulat dan agak gepeng, warna buah masak merah dan rasanya manis. Daya tahan simpan buah dapat mencapai 8 hari. Tanaman ini mulai dapat di panen pada umur 55-59 hari setelah tanam. 

Tomat Determinate dan Indeterminate
Tomat determinate adalah jenis tomat yang pertumbuhannya terbatas, artinya adalah tomat yang hanya bisa berbuah dalam sekali musim, setelah itu tanaman tomat tersebut tidak akan berbuah lagi sedangkan tomat indeterminate adalah tomat yang pertumbuhannya tidak terbatas yang artinya tanaman tomat tersebut mampu tumbuh dan berbuah lebih dari satu musim. 

Tomat determinate biasanya merupakan tomat yang tumbuh didataran tinggi sedangakan tomat indeterminate merupakan tomat yang tumbuh didataran rendah, walaupun sebenarnya tanaman tomat tidak terlalu berpengaruh terhadap ketinggian tanah.

Salah satu contoh varietas tomat determinate adalah tomat jenis varietas Priceos 375 asal Taiwan sedangkan contoh tomat indeterminate adalah tomat dengan jenis varietas money maker.


Dari penjelasan-penjelasan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa tanaman tomat memiliki ciri – ciri morfologi yang berbeda disetiap varietasnya, tomat, berdasarkan syarat tumbuhnya, memiliki dua jenis yaitu tomat pada dataran tinggi dan tomat pada dataran rendah, namun sebenarnya tomat tidak terlalu berpengaruh pada ketinggian tempat tanam, namun hal yang paling mempengaruhi pertumbuhan tomat adalah kualitas tanah, banyaknya sinar matahari dan curah hujan.

Tomat determinate adalah jenis tomat yang pertumbuhannya terbatas, artinya adalah tomat yang hanya bisa berbuah dalam sekali musim, setelah itu tanaman tomat tersebut tidak akan berbuah lagi sedangkan tomat indeterminate adalah tomat yang pertumbuhannya tidak terbatas yang artinya tanaman tomat tersebut mampu tumbuh dan berbuah lebih dari satu musim.

Pemanfaatan Jengkol Sebagai Pestisida Nabati


Penggunaan pestisida di lingkungan pertanian khususnya untuk mengendalikan hama yang menyerang tanaman di persemaian dan tanaman muda saat ini masih menimbulkan dilema. Penggunaan pestisida khususnya pestisida sintetis/kimia memang memberikan keuntungan secara ekonomis, namun memberikan keuntungan secara ekonomis, namun memberikan kerugian diantaranya : Residu yang tertinggal tidak hanya pada tanaman, tapi juga air, tanah dan udara, Penggunaan terus- menerus akan mengakibatkan efek resistensi dan ressistensi berbagai jenis hama.

Penggunaan pestisida kimia di Indonesia telah memusnahkan 55% jenis hama dan 72 % agen pengendali hayati. Oleh karena itu diperlukan pengganti pestisida yang ramah lingkungan. Salah satu alternatif pilihannya adalah penggunaan pestisida hayati tumbuhan. Pestisida nabati adalah salah satu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Dan salah satu bahan menyah yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pestisida nabati adalah jengkol.

Makalah ini dibuat untuk memberikan informasi tentang apa saja kandungan yang terdapat dalam buah jengkol sehingga dapat dimanfaatkan menjadi pestisida nabati serta bagaimana capa pengolahan jengkol tersebut agar siap dipakai sebagai pestisida nabati.


Pengertian Pestisida Nabati
Pestisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (PPT). Pestisida nabati ini dapat berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh, dll. Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Oleh karena terbuat dari bahan alami / nabati maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan, dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residu mudah hilang.

Cara Kerja Pestisida Nabati
Pestisida nabati dapat membunuh atau mengganggu serangan hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal. Cara kerja pestisida nabati sangat spesifik, yaitu :

  • merusak perkembangan telur, larva dan pupa.
  • menghambat pergantian kulit.
  • mengganggu komunikasi serangga.
  • menyebabkan serangga menolak makan.
  • menghambat reproduksi serangga betina.
  • mengurangi nafsu makan.
  • memblokir kemampuan makan serangga.
  • mengusir serangga.
  • menghambat perkembangan patogen penyakit.

Pestisida nabati mempunyai beberapa keunggulan dan kelemahan. Keunggulan pestisida nabati adalah :

  • murah dan mudah dibuat sendiri oleh petani.
  • relatif aman terhadap lingkungan.
  • idak menyebabkan keracunan pada tanaman.
  • sulit menimbulkan kekebalan terhadap hama.
  • kompatibel digabung dengan cara pengendalian yang lain.
  • menghasilkan produk pertanian yang sehat karena bebas residu pestisida kimia.

Sementara, kelemahannya adalah :

  • daya kerjanya relatif lambat.
  • tidak membunuh jasad sasaran secara langsung.
  • tidak tahan terhadap sinar matahari.
  • kurang praktis.
  • tidak tahan disimpan.
  • kadang-kadang harus diaplikasikan / disemprotkan berulang-ulang.


Pembahasan

Mengetahui Kandungan Jengkol
Pestisida organik yang terbuat dari jengkol ini merupakan pestisida  terobosan baru yang dapat mengendalikan berbagai macam jenis hama tanaman. Pestisida jengkol merupakan insektisida organik temuan terbaru yang bersifat alami dan ramah lingkungan. Insektisida ini mudah dibuat dan bahan-bahannyapun juga tidak terlalu sulit untuk didapatkan, insektisida ini terbuat dari bahan-bahan alami yaitu jengkol, cabai merah, dan urine binatang ternak. Cara membuat insektisida ini tidaklah terlalu sulit dan juga tidak membutuhkan biaya yang terlalu mahal jika dibandingkan dengan biaya pembelian insektisida anorganik.

Pada saat ini insektisida buatan pabrik banyak digunakan oleh para petani karena lebih praktis jika dibandingkan dengan insektisida yang membutuhkan waktu yang relative lama. Namun insektisida anorganik buatan pabrik harganya lebih mahal, selain itu insektisida anorganik juga memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan dengan insektisida jengkol karena insektisida anorganik memiliki kandungan senyawa kimia yang lebih tinggi yaitu mengandung senyawa hidrokarbon berkhlor, atom oxygen ikatan c-cl, benzene hexachlorida, senyawa siklodin, monokotrofos dan lain-lain. Sehingga pestisida anorganik sangat ampuh membasmi hama dan penyakit. Namun insektisida anorganik sangat membahayakan kesehatan manusia dan bahkan dapat menimbulkan kematian.

Insektisida jengkol mengandung senyawa organic ringan karena terbuat dari bahan-bahan alami, namun memiliki khasiat yang luar biasa. insektisida ini mengandung asam jengkolat (jencolid acid) yang berasal dari jengkol. Asam jengkolat memiliki struktur molekul yang menyerupai asam amino sistem unsur sulfur dan molekul tersebut terdapat dalam bentuk bebas dan sukar larut dalam air, sehingga dalam jumlah tertentu asam jengkolat dapat membentuk Kristal. Asam amino kaya akan unsur nitrogen dan unsur sulfur yang akan diubah menjadi gas amoniak (NHз) dan hydrogen silfida (H2S), sehingga cukup efektif dalam memberantas hama dan penyakit parasitic.

Insektisida jengkol mengandung unsur hara yang cukup tinggi karena mengandung nitrogen dan mengandung urea yang berasal dari urine binatang ternak yaitu sapi, kambing, kerbau, kuda, kelinci dan lain-lain. Dari hasil penelitian, dalam urine kambing terdapat nitrogen 36% dan urea 47%, artinya 2,5 liter urine kambing setara dengan 2kg pupuk urea. Urine binatang ternak juga banyak mengandung senyawa antara lain adalah air, natrium, klorin, kalium, fosfat, sulfat, ammonia, dan kretinin. Untuk natrium hingga ammonia merupakan senyawa garam ionic, baik dalam bentuk Kristal padatan yang mengendap maupun yang larut dalam air. Cabai yang digunakan sebagai campuran pestisida organic adalah cabai rawit besar dan cabai merah besar yang sudah dikeringkan karena mengandung senyawa yang lebih tinggi. Dalam cabai mengandung kalori, protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, vitamin C, dan air yang dapat membantu kesuburan tanaman dan menambah unsure hara lahan pertanian. Di dalam biji cabai juga mengandung solamine, solamidine, solamargine, steroid, antibiotic, dan capsaicin. Rasa pedas pada cabai disebabkan oleh zat yang bernama capsaicin (capsaicin oil), capsaicin tertinggi terdapat  pada bagian urat putih tempat melekatnya biji karena disitulah tempat diproduksinya capsaicin.

Insektisida jengkol ini memiliki fungsi ganda yaitu selain sebagai pestisida pembasmi hama, juga dapat berfungsi sebagai pupuk yang dapat membantu kesuburan tanaman. Insektisida ini baunya sangat tajam sekali karena berasal dari urine dan jengkol yang terkenal bau, sehingga mampu membuat hama menjadi kabur dan mati. Dengan menggunakan insektisida jengkol ini maka tidak perlu lagi membeli insektisida anorganik buatan pabrik agar pendapatan para petani dapat meningkat karena modal bisa ditekan. Pertanian tanaman pangan dan holtikultura dengan sistem organik tidak saja dapat menekan modal, tetapi produksi dan produktivitasnya juga meningkat. Bahkan nilai jualnyapun lebih tinggi daripada menggunakan bahan kimia.

Pada sayuran jenis wortel misalnya, kandungan nutrisi 1 kg wortel organic sama dengan kandungan nutrisi 3 kg wortel yang bukan organic dan tentu lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan. Bila petani menggunakan pupuk anorganik dan insektisida kimiawi terus-menerus, mikroorganisme sebagai pengolah tanah akan habis dan di saat musim kemarau tanah menjadi keras serta pecah-pecah. Berbeda jika menggunakan pupuk dan insektisida organic, miokroorganisme terus tersedia dalam tanah sehingga tanah pertanian tetap gembur.

Cara Pembuatan Pestisida Nabati dari Jengkol
Adapun cara pembuatan pestisida jencolid adalah sebagai berikut:

Alat-alat yang dipergunakan adalah :

  • ember berdiameter 50cm
  • 2 ember berdiameter 25cm
  • Gayung
  • kain
  • penyaring
  • tanki penyemprot.

Bahan-bahan yang dipergunakan adalah :

  • 1 kg jengkol
  • 1 kg cabai merah
  • liter urine hewan ternak
  • air 10 liter.

Cara pembuatan:

  • Jengkol dan cabai merah ditumbuk halus, kemudian dimasukkan dalam ember yang berisi 10 liter air. Tutup rapat hingga 14 hari
  • Urine hewan ternak dimasukkan dalam ember dan diendapkan selama 14 hari. Urine tersebut dipisah dari larutan jengkol dan cabai merah.
  • Setelah 14 hari kedua larutan tersebut disaring menggunakan kain, kemudian dicampur menjadi satu dan pesrtisida jencolid ini sudah siap untuk digunakan. Cara pemakainnya menggunakan tanki disemprotkan pada tanaman yanag terserang hama dan penyakit.


Kesimpulan

Dari penjelasan-penjelasan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa pestisida nabati merupakan pestisida yang terbuat dari tumbuhan yang berfungsi sebagai pengendali hama tanaman. Salah satu tanaman yang dapat di olah menjadi pestisida nabati adalah jengkol.

Jengkol mengandung asam-asam amino yang terkandung di dalam biji jengkol. Asam amino itu didominasi oleh asam amino yang mengandung unsur Sulfur (S). Ketika terdegradasi atau terpecah-pecah menjadi komponen yang lebih kecil, asam amino itu akan menghasilkan berbagai komponen flavor yang sangat bau, karena pengaruh sulfur tersebut. Salah satu gas yang terbentuk dengan unsur itu adalah gas H2S yang terkenal sangat bau.

Bau inilah yang dapat mempengaruhi hama seperti tikus dan serangga, bau tajam dari jengkol dan ditambah dengan pedas dari cabai yang merupakan campuran dari pestisida nabati tersebut membuat hama seperti tikus dan serangga terganggu

Aktivitas Antioksidan Pada Ekstraksi Brokoli Variasi Pelarut & Pemanasan Dengan Metode DPPH


Banyak polutan yang mengandung radikal bebas dan oksigen singlet yang terdapat di udara. Senyawa ini tidak stabil, sangat reaktif sehingga akan mencari kestabilan dalam tubuh dengan merusak sel. Sel tubuh yang terserang maka diduga dapat menjadi penyebab awal timbulnya sel kanker. Antioksidan dipercaya mampu menangkap radikal bebas dan oksigen singllet tersebut, sehingga mampu mencegah perkembangan sel kanker dan gangguan hati. Banyak studi mengatakan bahwa sayur-sayuran yang kita konsumsi banyak mengandung komponen antioksidan. 

Brokoli merupakan salah satu sayuran yang dikenal mempunyai daya antioksidan tinggi. Brokoli menempati ranking kedua dari sepuluh sayuran (Chu, Sun, Wu, & Liu, 2002) dan peringkat keenam dari 22 sayuran dengan aktivitas antioksidan tertinggi (Cao, Sofic, & Prior, 1996). Brokoli selain mengandung antioksidan nutrisional, juga mengandung antioksidan non gizi dalam bentuk flavonoid. 

Makalah ini akan membandingkan dari study literatur aktivitas antioksidan pada brokoli segar yang diekstrak menggunakan berbagai macam pelarut, yaitu aceton, metanol, dan air. Aktivitas antioksidan diukur dengan menggunakan senyawa radikal DPPH (2,20-diphenyl-l-picrylhydrazyl). Hasil tertinggi diperoleh dari ekstraksi brokoli dengan metanol. Dengan menggunakan pelarut yang sama, aktivitas antioksidan diukur pada brokoli yang diperoleh dengan berbagai macam perlakuan pemanasan.

PEMBAHASAN

Kol bunga hijau/Broccoli merupakan tanaman sayur famili Brassicaceae (jenis kol dengan bunga hijau) berupa tumbuhan berbatang lunak diduga berasal dari Eropa, pertama kali ditemukan di Cyprus, Italia Selatan dan Mediterania 2000 tahun yang lalu. Broccoli mempunyai cita rasa yang enak dan lezat, bergizi tinggi, dan dapat digunakan sebagai tanaman obat yang dapat menyembuhkan penyakit kanker. Sumber: Direktorat Gizi Dep. Kesehatan RI (1981). 

Beberapa tahun terakhir banyak terjadi perbaikan warna maupun ukuran bunga terutama di Denmark. Di Indonesia broccoli dikenal dengan nama kubis bunga hijau atau Sprouting broccoli. Broccoli dari bahasa Italia, dimana broco berarti tunas. Di Indonesia penanaman broccoli terkonsentrasi di Lembang, Cisarua, dan Cibodas, pengembanganya telah mencapai Bukit Tinggi, Pangalengan, Maja, Garut, Bandungan, Kopeng, Pujon, Bedugul, Cangar, Sleman dan Kulon Progo. Di dunia broccoli banyak ditemui di Amerika, Jepang, Taiwan, Jerman dan India. Varietas broccoli dibagi dua kelompok berdasarkan umurnya, yaitu berumur genjah (early variety) dan berumur panjang atau lambat (late variety). Berdasarkan klasifikasinya, broccoli termasuk divisi Spermatophyta dan sub divisi Angiospermae


Syarat pertumbuhan tanaman brokoli adalah sebagai berikut :
  • Secara umum angin tidak berpengaruh karena tinggi tanaman yang relatif rendah. Pengaruh hanya dirasakan pada evaporasi lahan dan evapotranspirasi tanaman. 
  • Tanaman broccoli memerlukan curah hujan yang cukup tinggi (1000-1500 cm /tahun). 
  • Tanaman ini tumbuh baik pada suhu udara antara 13-24 derajat C. 
  • Kelembaban udara yang cocok untuk tanaman ini antara 80-90%. 
  • Stadia pembibitan memerlukan intensitas cahaya lemah sehingga memerlukan naungan untuk mencegah cahaya matahari langsung yang membahayakan pertumbuhan bibit. Sedangkan pada stadia pertumbuhan diperlukan intensitas cahaya yang kuat, sehingga tidak membutuhkan naungan. 
  • Tanah yang dibutuhkan adalah subur, gembur, kaya bahan organik dan tidak mudah becek seperti pada tanah lempung berpasir tetapi dapat hidup dengan baik pada tanah jenis Andosol, Latosol, Regosol, Mediteran dan Aluvial. 
  • Kisaran keasaman (pH) yang cocok adalah 5,5-6,5, pH dibawah 5, pertumbuhan tidak normal karena kekurangan unsur hara magnesium (Mg), Molybelium (Mo) dan Boron (B). Kandungan air tanah yang baik adalah kandungan air tersedia, yaitu pH antara 2,5-4, sehingga memerlukan pengairan yang cukup baik (irigasi maupun drainase). 
  • Kemiringan optimal 0-20%, lebih besar dari 20%, lahan harus dibuat dalam bentuk terasering. 
  • Ketinggian yang cocok untuk bertanam broccoli adalah antara 1000-2000 m dpl. Namun ada beberapa varietas dapat ditanam pada dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 1000 m dpl
Radikal bebas dan oksigen singlet (O-), dikenal sebagai faktor utama penyebab kanker, gangguan jantung, gangguan kerja hati, dan diabetes. Dipercaya senyawa antioksidan dalam sayuran mampu menangkap elektron dan melindungi sel sel tubuh dari oksidasi. 

Material dan Metode 
Pengukuran antioksidan kali ini menggunakan senyawa radikal DPPH. DPPH (2,20-diphenyl-l-picrylhydrazyl). Pada penelitian Sun, et al., (2007), preparasi sampel dilakukan dengan mencincang brokoli sampai ukuran terkecil menggunakanifuge food processor, kemudian dihomogenkan dengan 10 ml metanol, aseton dan air selama 1 menit dan disentrifugasi pada 26,712 g selama 15 menit pada suhu 4 C menggunakan sentrifuge Beckman J2-HS. Supernetan yang jernih dipindahkan dalam botol plastik dan disimpan pada 7 C sampai dianalisa. Sampel ditambahkan 1 mm DPPH, kemudian diinkubasi atu didiamkan selama 30 menit, setelah itu diabsorbansi pada panjang gelombang 515 nm. Persentasi pencegahan senyawa radikal dihitung dengan rumus : (abs 0 – abs 30) / abs 0 x 100

abs 0 = absorbansi dpph pada waktu sebelum inkubasi
abs 30= absorbansi pada saat setelah diinkubasi selama 30 menit

Sedangkan pada penelitian Chang dan Lin, preparasi sampel dilakukan dengan :
Brokoli yang telah dicuci dan dipotong seragam kemudian dibedakan menjadi 4 kelompok perlakuan :
  • Fresh
  • Pemanasan pendahuluan 50 C, 10 menit
  • Pemasakan dalam air mendidih, 8 menit
  • Pemanasan pendahuluan 50 C, 10 menit yang dilanjutkan dengan perebusan dalam air mendidih 8 menit.
Hasil dari berbagai perlakuan pemasakn kemudian di freeze drying, dibubukkan, dikemas, dan disimpan dalam suhu 4 C sampai akan dipakai penelitian.

Ditimbang 100-1000 mg bubuk brokoli ditambahkan metanol dengan perbandingan 2, 4, 8, 12, 16 dan 20 mg/ml (w/v)
Campuran diaduk dengan magnetic stirrer, 1 jam, suhu ruang, kemudian disaring dengan vacuum filter. 

Pengukuran senyawa antioksidan dilakukan dengan :
  • 5 ml ekstrak brokoli + 1ml DPPH metanol, 1 mM
  • Diamkan 30 menit
  • Absorbansi 517 nm. 
  • Hasilnya dibadingkan dengan ekstrak α- tokoferol dan BHA yang dicampur pula dengan metanol dengan penambahn dan perlakuan yang sama.
  • % antioksidan = [ 1- ( abs sampel / abs blanko)] x 100 
Hasil dan Pembahasan 
Pada hasil penelitian dari Sun ey al., (2007) diperoleh hasil bahwa aktivitas antioksidan tertinggi dalam menangkap senyawa radikal dari DPPH adalah pelarut metanol (dapat dilihat pada infografik berikut ini).



Komponen Flavonoid pada brokoli terdiri dari quercetin 3-O-sophoroside dan kaempferol 3-O-sophoroside. Komponen  quercetin dan kaempferol sophorosides pada brokoli segar berurutan  adalah 65 mg/kg dan 166 mg/kg berat (Plumb et al.,1997; Price, Casuscelli, Colquhoun, & Rhodes, 1998). Diduga metanol cocok untuk ekstraksi senyawa tersebut.

Hasil analisa DPPH pada penelitian Chang dan Lin, hasilnya menunjukkan bahwa pada konsentrasi 2 mg/ml (w/v) (bubuk brokoli/metanol) dengan berbagai macam pemasakan  brokoli dinadingkan dengan analisa antioksidan pada alpha-tokoferol dan BHA. Hasil tertinggi adalah aktivitas antioksidan BHA dengan persentasi 97%, disusul dengan alfa tokoferol dengan persentasi 87%.

Pada brokoli, aktivitas antioksidan tertinggi adalah brokoli segar dengan presentasi 71 %, setelah itu disusul dengan brokoli rebus (yang direbus dalam air mendidih selama 8 menit) dan brokoli dengan ;perlakuan pemanasan opendahuluan (50ºC, selama 10 menit yang dilanjutkan dengan pemasakan pada air mendidih selama 8 menit) yaitu dengan presentasi 50 %. Aktivitas antioksidan terendah didapatkan pada brokoli dengan pemanasan pendahuluan (direbus dalam air suhu 50ºC selama 10 menit).

Hal ini diduga karena pada brokoli dengan pemanasan pendahuluan, kenampakan rheologisnya disebabkan lebih baik atau terjadi peningkatan tekstur dibandingkan opada brokoli segar. Hal ini dapat dilihat pada infografik 3.



KESIMPULAN

Berdasarkan studi literatur di atas, dapat disimpulkan bahwa :
  1. Pelarut terbaik untuk mengekstraksi senyawa ntioksidan pada brokoli adalah metanol yang dibuktikan dengan tingginya aktivitas antioksidan pada pengukuran dengan reagen DPPH.
  2. Aktivitas antioksidan brokoli masih dibawah aktivitas antioksidan BHA dan alfa tokoferol.
  3. Brokoli dengan perlakuan pemanasan pendahuluan memiliki aktivits antioksidan terendah.

Pengaruh Penggunaan Inokulum Mikoriza Vesikular-Arbuskular Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kacang Hijau



Indonesia terdiri dari berbagai macam lapisan masyarakat. Masyarakat di Indonesia masih banyak yang terdiri dari kalangan menengah ke atas karena sering tidak stabillnya perekonomian. Mayoritas masyarat Indonesia bermata pencaharian di bidang agraris. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia terdiri dari wilayah pertanian yang sangat luas, dan banyak sekali peluang di bidang tersebut. Pada zaman sekarang banyak sekali masyarakat yang kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi empat sehat lima sempurna, padahal dari sektor pertanian yang luas banyak sekali hal yang bisa dilakukan untuk memenuhi masalah kebutuhan nutrisi tersebut.

Salah satu sumber nutrisi yang penting adalah protein (Anonim, 2010) menyebutkan bahwa pemenuhan protein pada masyarakat Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Hal tetrsebut dikarenakan daya beli masyarakat akan makanan yang mengandung protein tinggi sangat kurang. Protein banyak terdapat paada daging, ikan, telur, dan kacang-kacangan. Para masyarakat dari kalangan menengah ke bawah biasanya kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan protein dari daging atau ikan karena masalah harganya yang tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan protein sehari-hari, biasanya masyarakat mengkonsumsi makanan yang mengandung protein tetapi harganya lebih terjangkau.

Salah satu makanan yang megandung protein tinggi tetapi bisa terjangkau oleh semua lapisan masyarakat adalah kacang hijau. Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi (Anonim, 2010). 

Protein yang terkandung dalam kacang hijau sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Kacang hijau dapat tumbuh di hampir semua jenis tanah. Daerah Indonesia terdapat beberapa jenis tanah yang dapat digunakan untuk media bertanam kacang hijau, tetapi ada beberapa jenis tanah yang kurang cocok digunakan untuk bercocok tanam. Salah satu jenis tanah yang kurang cocok untuk budidaya kacang hijau adalah jenis tanah pasir pantai. Pasir pantai kurang bisa menangkap dan menyimpan air yang kemudian digunakan untuk kebutuhan tanaman, padahal jika semua jenis tanah dapat digunakan untuk budidaya tanaman maka produksi kacang hijau akan lebih maksimal dan kebutuhan protein pun akan terpenuhi dengan baik. Salah satu cara yang dapat digunakan agar media pasir lebih maksimal adalah dengan pemberian inokulum mikoriza. Mikoriza adalah termasuk kelompok endomikoriza yaitu suatu cendawan tanah yang bersifat simbiotik obligat dengan akar tanaman yang telah diketahui mempunyai pengaruh yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, karena dapat meningkatkan serapan hara (Jawal, dkk. 2007).

Mekanisme hubungan antara Cendawan Mikoriza Arbuskula atau biasa disingkat CMA dengan akar tanaman adalah sebagai berikut, pertama-tama spora CMA berkecambah dan menginfeksi akar tanaman, kemudian di dalam jaringan akar CMA ini tumbuh dan berkembang membentuk hifa-hifa yang panjang dan bercabang. Jaringan hifa ini memiliki jangkauan yang jauh lebih luas daripada jangkauan akar tanaman itu sendiri. Hifa CMA yang jangkauannya lebih luas ini selanjutnya berperan sebagai akar tanaman dalam menyerap air dan hara dari dalam tanah (M. Jawal, dkk. 2007). Dengan adanya penambahan inokulum mikoriza (CMA) tersebut maka budidaya tanaman kacang hijau pada pasir pantai dapat lebih maksimal karena mikoriza dapat membantu penyerapan air pada akar tanaman.

TINJAUAN PUSTAKA

Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah. ( Adi sarwanto,1993).

Kacang hijau termasuk tanaman pangan yang sudah lama dibudidayakan di Indonesia. Diperkirakan kacang hijau di Indonesia berasal dari India, di introduksi pada awal abad ke-7, bersamaan dengan adanya hubungan dagang dan keagamaan anmtara Indonesia dan India. Di India, kacang hijau sudah dibudidayakan sejak beberapa abad sebelum masehi ( paroda dan Thomas,1988). Tanaman kacang hijau termasuk famili Leguminosae yang banyak varietasnya. Taksonomi tanaman kacang hijau diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisio : Spermatophyta ( tumbuhan berbiji)
Subdivisi : Angiospermae ( berbiji tertutup)
Class : Dicotyledonae ( biji berkeping dua)
Ordo : Polypetalae
Famili : Papilionidae
Genus : Vigna
Spesies : Phaseolus radiatus L
Sumber Rahmat rukmana, 1997

Kerabat dekat kacang hijau adalah kacang hijau India (P.mungo), kratok (P. Lunatus L.), kacang merah (P.Vulgaris L), kacang kapri ( pisum sativum L). Di Indonesia terdapat plasma nutfah kacang hijau siperkirakan lebih dari 2000 varietas, tetapi varietas yang unggul yang sudah dilepas masih sedikit. (Rahmat Rukmana, 1997).

Tipe pertumbuhan kacang hijau umumnya dapat dibedakan menjadi tipe determinit, dan indeterminate dengan sifat pertumbuhan yang tegak, agak tegak atau menyebar. Tipe determinit adalah tipe tanaman yang ujung batangnya tidak melilit,pembungaanya singkat, serempak, dan pertumbuhan vegetatifnya berhenti setelah tanaman berbunga, sedangkan indeterminit dengan ditandai dengan ujung batang yang melilit, pembungaan berangsur-angsur dari pangkal ke bagian pucuk dan pertumbuhan vegetatifnya terus berlanjut setelah berbunga.

Perakaran tanaman kacang hijau bersifat akar tunggang,di mana akar- akar lateralnya tegak lurus pada akar tunggak (Sarwanto, Adi. 1993) membedakan sistem perakaran kacang hijau menjadi dua macam, yaitu mesophytes dan xerophytes. Mesophytes mempunyai banyak akar cabang pada permukaan tanah, dan biasanya tipe pertumbuhannya menyebar (spreading). Sedangkan xerophytes akar cabangnya lebih sedikit dan memanjang ke arah bawah serta akar tunggangnya lebih panjang.

Batang tanaman kacang hijau berbentuk bulat dan berbuku-buku, dan tiap buku menghasilkan satu tangkai daun kecuali pada daun pertama berupa sepasang daun yang berhadapan dan masing-masing daun berupa daun tunggal serta tidak bertangkai dan biasa disebut sebagai epikotil. Pada batang utama terdapat beberapa cabang yang biasanya muncul dari buku bagian bawah. Batang dan cabang tersebut berwarna hijau muda, hijau tua, ungu muda maupun ungu tua.

Daun kacang hijau letaknya berseling ( alternate) dan dapat dibedfakan menjadi dua macam, yaitu daun pertama (primary leaves) yang merupakan dua daun tunggal yang letaknya berhadap-hadapan pada batang utama. Daun pertama ini berbentuk oval (ovate) atau agak lancip. Warna daun kacang hijau ada yang berwarna hijau muda maupun hijau tua.

Tanaman kacang hijau termasuk tanaman yang menyerbuk sendiri ( self pollination) dan mulai menghasilkan bunga pada minggu ke-6 atau ke-8 setelah tanam. Bunganya bersifat cleistogamy, yaitu bunga mekar setelah terjadinya penyerbukan. Bunga kacang hijau berkelamin sempurna (hermaphrodite) berbentuk kupu-kupu dan berwarna kuning. 

Buah polong kacang hijau berbentuk bulat silindris atau pipih dengan ujung runcing atau tumpul. Panjangnya antara 6 cm-15 cm, berisi 10-15 biji. Biji kacang hijau berbentuk bulat dan umumnya lebih kecil dibandingkan dengan biji kacang-kacangan lain, dengan bobot (berat) tiap butir 0,5 mg – 0,8 mg atau berat per 1000 butir antara 36g – 78g, berwarna hijau sampai hijau mengggilap.( Rahmat Rukmana, 1997).
Mikoriza berasal dari kata Miko (Mykes=Cendawan) dan Riza yang berarti Akar tanaman. Struktur yang terbentuk dari asosiasi ini tersusun secara beraturan dan memperlihatkan spektrum yang sangat luas baik dalam hal tanaman inang, jenis cendawan maupun penyebarannya. Nahamara (1993) dalam Subiksa (2002) mengatakan bahwa mikoriza adalah suatu struktur yang khas yang mencerminkan adanya interaksi fungsional yang saling menguntungkan antara suatu tumbuhan tertentu dengan satu atau lebih galur mikobion dalam ruang dan waktu. Asosiasi simbiotik antara jamur dengan akar tanaman yang membentuk jalinan interaksi yang kompleks dikenal dengan mikoriza yang secara harfiah berarti “akar jamur” (Atmaja, 2001). Secara umum mikoriza di daerah tropika tergolong didalam dua tipe yaitu: Mikoriza Vesikular-Arbuskular (MVA)/Endomikoriza dan Vesikular-Arbuskular Mikoriza (VAM)/Ektomikoriza. Jamur ini pada umumnya tergolong kedalam kelompok ascomycetes dan basidiomycetes (Pujianto, 2001).

Penggunaan cendawan mikoriza sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Selain itu aplikasi cendawan mikoriza dapat membantu rehabilitasi lahan kritis dan meningkatkan produktivitas tanaman pertanian, perkebunan, kehutanan pada lahan-lahan marginal dan pakan ternak.( SINAR TANI, 2007)

Kondisi lingkungan tanah yang cocok untuk perkecambahan biji juga cocok untuk perkecambahan spora mikoriza. Demikian pula kindisi edafik yang dapat mendorong pertumbuhan akar juga sesuai untuk perkembangan hifa. Jamu mikoriza mempenetrasi epidermis akar melalui tekanan mekanis dan aktivitas enzim, yang selanjutnya tumbuh menuju korteks. Pertumbuhan hifa secara eksternal terjadi jika hifa internal tumbuh dari korteks melalui epidermis. 

Pertumbuhan hifa secara eksternal tersebut terus berlangsung sampai tidak memungkinnya untuk terjadi pertumbuhan lagi. Bagi jamur mikoriza, hifa eksternal berfungsi mendukung funsi reproduksi serta untuk transportasi karbon serta hara lainnya kedalam spora, selain fungsinya untuk menyerap unsur hara dari dalam tanah untuk digunakan oleh tanaman (Pujianto, 2001).

Manfaat dari MVA dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu manfaat dalam ekosistem, manfaat bagi tanaman, dan manfaatnya bagi manusia. Manfaat mikoriza MVA dalam ekosistem sangat penting, yaitu berperan dalam siklus hara, memperbaiki struktur tanah dan menyalurkan karbohidrat dari akar tanaman ke organisme tanah yang lain. (Iwan Sali, 1996). Sedangkan manfaat bagi tanaman yaitu dapat meningkatkan penyerapan unsur hara, terutama P (Iwan Sasli, 1991), dimana MVA dapat mengeluarkan enzim fosfatase dan asam-asam organik, khususnya oksalatyang dapat membantu membebaskan P. 

MVA dapat membantu mengatasi masalah ketersediaan fosfat melalui dua cara, pengaruh langsung melalui jalinan hifa eksternal yang diproduksinya secara intensif sehingga tanaman bermikoriza akan mampu meningkatkan kapasitasnya dalam menyerap unsur hara dan air (Sieverding, 1991) dan pengaruh tidak langsung, dimana mikoriza dapat memodifikasi fisiologis akar sehingga dapat mengeksresikan asam-asam organik dan fosfatase asam ke dalam tanah (Iwan Sasli, 1992), dimana menurut Marschner dan Dell, (1994) dan Widiastuty lewat Smith dan Read, (1997) fosfatase asam merupakan suatu enzim yang dapat mamacu proises mineralisasi P Organik dengan mengkatalisis pelepasan P dari kompleks organik menjadi kompleks anorganik.
Lahan pantai di Indonesia terdapat dalam jumlah yang cukup luas. Di daerah Istimewa Yogyakarta, lahan pesir pantai meliputi sekitar 4 % dari lahan pertanian (arable land). Lahan ini dikenal sebagai lahan marginal dengan produktivitas yang sangat rendah. Kondisi lahan dicirikan oleh bahan penyusun tanah yang dominan (> 80 %) terdiri dari pasir sehingga ketersediaan air dan unsur hara tanaman sangat rendah. Ini berakibat hanya tanaman tertentu yang dapat tumbuh dengan kondisi yang merana. Oleh karena itu pemanfatan jamur mikoriza yang telah diketahui mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mening-katkan serapan hara akan sangat meningkatkan peluang tumbuh tanaman. ( Syamsul A Siradz, dkk. 2003).

Pasir pantai selatan ini terdiri atas berbagai komponen yang sebagian besar berukuran pasir dan debu. Bahan-bahan ini terutama berasal dari deposit pasir hasil kegiatan erupsi gunung Merapi yang berada di bagian utara. Deposit pasir ini diangkut dan diendapkan dengan berbagai kecepatan serta bercampur dengan berbagai bahan baik yang berasal dari daerah aliran sungai maupun yang berasal dari laut.

Bahan pasir ini dicirikan terutama oleh ukuran butir yang kasar, butir tungal yang lepas-lepas. Sifat-sifat ini menimbulkan karakteristik daya menahan air yang sangat rendah, kandungan hara terutama hara P tersediakan rendah sampai sangat rendah, dan kapasitas pertukaran kation yang sangat rendah. Sebagai konsekuensi dari karakteristik tanah yang demikian itu adalah tingkat kesuburan tanah dan taraf kehidupan biota tanah sangat rendah. Tanah biasanya gersang, tidak produktif sehingga sering juga disebut tanah marginal.

TATA CARA PENELITIAN

Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Green House dan pengamatan akhir dilakukan dilaboratorium Fakultas Pertanian UMY pada tanggal 7 April-8 Mei 2010.

Alat dan Bahan
Bahan yang Digunakan
  • Bahan pembibitan, biji kacang hijau berasal dari Laboratorium Proteksi Tanaman dan Green House Fakultas Pertanian UMY, polybag ukuran 2 kg, pasir dari pantai bugel Kulon Progo. 
  • Bahan perlakuan yaitu inokulum Mikoriza yang berasal dari produksi Fakultas Pertanian UMY.
  • Bahan analisis berupa KOH 10%, KCl 1%, dan Acid Fushin.
Alat yang Digunakan
  • Pengamatan MVA memerlukan Timbangan elektrik, saringan ukuran 80 dan 38 µm, Gelas benda, Mikropipet, Mikroskop dan alat tulis.
  • Persiapan tanam menggunakan Cangkul, Sekop, Polybag, Gelas ukur 500 ml, dan Timbangan duduk.
  • Pengamatan Agronomis menggunakan Gunting, Oven, Penggaris, Jangka sorong, Timbangan, LAM dan alat tulis.
Metode
Penelitian ini disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktor Tunggal. Faktor tersebut adalah macam inokulum Mikoriza yang terdiri dari perlakuan yaitu sebagai berikut:
  • Inokulum Mikoriza UMY dengan penyiraman 3 hari sekali, 
  • Inokulum Mikoriza UMY dengan penyiraman 5 hari sekali, 
  • Tanpa Inokulum Mikoriza dengan penyiraman 3 hari sekali, 
  • Tanpa Inokulum Mikoriza dengan penyiraman 5 hari sekali.
Tata Laksana
Persiapan Media dan Tempat
Media pasir yang akan digunakan disiapkan, kemudian dimasukkan kedalam polybag yang sudah dilubangi bagian bawahnya dan sudah disiram hingga mencapai titik kejenuhan airnya. Kemudian diberikan mikoriza pada perlakuan yang menggunakan Mikoriza dan disertai pupuk dasar (N, P, K). Setelah itu diberi label pada setiap perlakuan dan diletakkan di Green House.

Persiapan Bibit Kacang Hijau
  • Bibit kacang hijau direndam didalam air sebagai seleksi bibit yang bagus untuk ditanam yaitu bibit kacang hijau yang tenggelam pada saat perendaman.
  • Bibit kacang hijau diambil dari perendaman dan siap untuk ditanam dalam polybag yang sudah disiapkan.
Pemeliharaan
  • Penyiraman dilakukan sesuai dengan perlakuan.
  • Penyiangan gulma dilakukan setiap ada tanaman lain yang tumbuh di polybag dengan cara manual.
  • Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara manual dengan cara mengambil hama yang ada pada bibit kacang hijau dan menghilangkan bagian tanaman yang terserang penyakit.
Variabel Pengamatan
Pengamatan Pertumbuhan
  • Tinggi tanaman (cm)
    Pengamatan dilakukan 6 hari sekali untuk setiap perlakuan dengan melakukan pengukuran dari pangkal batang sampai titik tumbuh dengan menggunakan penggaris yang dinyatakan dalam cm.
  • Jumlah daun (helai)
    Pengamatan pertambahan jumlah daun dilakukan setiap 6 hari sekali untuk setiap perlakuan tanaman sampel.
  • Berat segar (g)
    Pengamatan berat segar tanaman dilakukan pada minggu ke-4 dengan menimbang seluruh bagian organ tanaman dengan menggunakan timbangan analitik yang dinyatakan dalam satuan gram.
  • Luas daun (cm2)
    Pengamatan luas daun dilakukan pada minggu ke-4 dengan pegukuran menggunakan pola daun yang digambar pada kertas buram/koran yang dinyatakan dalam satuan cm2.
  • Berat kering (g)
    Pengamatan berat kering tanaman dilakukan pada minggu ke-4 dengan menimbang seluruh bagian organ tanaman setelah pengovenan hingga mencapai berat konstan dengan menggunakan timbangan analitik yang dinyatakan dalam gram.
Efektifitas CMA
  • Jumlah spora (satuan)
    Pengamatan jumlah spora dengan cara menggambil sebagian pasir dari salah satu polybag dan dimasukan dalam penyaring lalu disiram dengan air dan air yang berada dibawah saringan yang terakhir diambil untuk diamati dengan menggunakan mikroskop yang dinyatakan dalam jumlah satuan.
  • Presentasi Infeksi Mikoriza (%)
    Pengamatan presentasi Mikoriza dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:
1) Diambil 10 sampel akar sesuai dengan perlakuan, kemudian dibersihkan menggunakan air dan ujung akar dipoitong dengan ukuran 0,5-1 cm.

2) Akar yang telah dipotong dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian diberi KHO 10% selama 24 jam.

3) Setelah 24 jam akar dicuci hingga bersih menggunakan aquades kemudian direndam kembali dengan menggunakan HCl 1% selama 1 jam, kemudian dibersihkan lagi dengan aquades hingga bersih.

4) Setelah dicuci hingga bersih potongan akar tersebut direndam dengan acid fushin selama 10 menit, kemudian potong akar tersebut dan letakkan berjajar didalam gelas benda sejumlah 10 buah potongan akar, kemudian diamati di dalam mikroskop dan dihitung presentase infeksi dengan menggunakan rumus:

Akar
  • Proliferasi akar
    Pengamatan dilakukan terhadap pertambahan percabangan akar tanaman melalui visualisasi.
  • Panjang akar (cm)
    Pengamatan panjang akar dilakukan pada minggu ke-4 dengan cara mengukur panjang akar dari pangkal akar sampai ujung akar terpanjang dengan menggunakan penggaris dan dinyatakan dalam cm.
  • Berat segar akar (g)
    Pengamatan berat segar akar dilakukan pada minggu ke-4 dengan menimbang seluruh bagian akar dengan menggunakan timbangan analitik dan dinyatakan dalam satuan gram.
Nodulasi
  • Jumlah nodul (satuan)
    Pengamatan jumlah nodulasi akar dilakukan dengan menghitung nodul dan dinyatakan dalam jumlah satuan. 
  • Nodul Efektif (%)
    Menghitung nodul efektif dilakukan dengan menggunakan rumus perhitungan nodul yang efektif dengan menggunakan dan dinyatakan dalam satuan %. Nodul aktif = x 100%
  • Diameter nodul (mm)
    Pengamatan diameter nodul dilakukan dengan mengukur diameter nodul akar dengan menggunakan jangka sorong dan dinyatakan dalam satuan mm.
  • Berat segar (g)
    Pengamatan berat segar nodul dilakukan pada minggu ke-4 dengan menimbang seluruh bagian nodul dengan menggunakan timbangan analitik dan dinyatakan dalam satuan gram.
Analisis Data
Setelah data hasil penelitian diperoleh lalu dilakukan pengujian dengan menggunakan analisis sidik ragam (Analisis of variance), apabila ada beda nyata antar perlakuan, maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan Uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) pada taraf kesalahan 5%.

HASIL & PEMBAHASAN



Akar
Mikoriza merupakan asosiasi simbiotik antara akar tanaman dengan jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang, memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar, 2002).

Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Menurut Hakim, dkk (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme, seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya. Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza, sekresi dari senyawa-senyawa pilysakarida, asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal, akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. 

Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa, 2002).Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah, perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah.

Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman, akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air, karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah unsur hara dan kekurangan air. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. 

Kemiskinan bahan organik akan akan memburukkan struktur tanah, lebih-labih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendahKendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air, baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. 

Tingkat kekeringan berkurang atau masa tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat, atau masa dengan dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Pada pengamatan yang dilakukan terhadap 4 perlakuan yang berbeda terhadap tanaman kacang hijau dihasilkan panjang akar yang berbeda antara perlakuan inokulum yang menggunakan mikoriza dengan penyiraman 3 dan 5 hari, dengan perlakuan tanpa inokulum mikoriza dengan penyiraman 3 dan 5 hari.yang tertera pada table hasil pengamatan akar diatas.

CMA
Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu, 2004). Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma, pembentukan organ baru, pembengkokan inti sel, peningkatan respirasi dan aktivitas enzim.Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks, tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. Arbuskul berperan dua arah, yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang.

Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar, kebanyakan berbentuk bulat telur, dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman, sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu, 2004).

Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal, berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. 

Mirip dengan cendawan patogen, hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis, kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul,vesikel dan akhirnya spora (Mosse, 1981).

CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. (Sagin Junior & Da Silva, 2006). Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah, tanaman inang, kepadatan propagula, serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya.

Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al., 2002).Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang, kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding, 1991).