Tampilkan postingan dengan label Peternakan. Tampilkan semua postingan

Peternakan Sapi Potong di Desa Tempe, Ngawi



Pada zaman dahulu kala, sumber makanan adalah alasan manusia utuk berpindah tempat tinggal, bahkan lebih memilih tidak membuat tempat tinggal permanen untuk dapat berpindah sesuai dengan jumlah makanannya. Itu dulu, kalau sekarang dimanapun manusia berada, makanan dapat di dapat dengan mudah asalkan ada uang untuk membelinya. Kebutuhan makan manusia pun berbeda-beda tergantung dari selera dan kantong tentunya.


Artikel Selengkapnya dapat dibaca di http://gubuktani.com/peternakan-sapi-potong-di-desa-tempe/

Nah, dewasa ini kebutuhan akan daging sapi semakin meningkat. Ternak sapi yang awalnya dari gembalaan dengan pakan terbatas, kini semakin dikembangkan apalagi ketersediaan lahan penggembalaan semakin terbatas. Kondisi ini menambah keinginan peternak untuk membukan usaha peternakan sapi secara intensif dan profesional. Pemeliharaan secara intensif meliputi pemenuhan pakan, bibit, pengobatan, manajemen, dan pasar. Aspek tersebut haruslah difahami dan dilaksanakan dengan baik oleh peternak, khususnya peternakan kecil agar dapat menuai keuntungan dalam usaha peternakannya.

Beternak Kambing Perah Peranakan Etawa

Kambing PE adalah salah satu penyedia protein hewani asal ternak berupa daging atau susu. Kambing PE merupakan persilangan antara kambing Etawah dan kambing kacang yang keberadaannya sudah adaptif dengan topografi di Indonesia (Tanius dan Setiawan, 2005). Kambing Etawah, dan keturunannya mempunyai ciri-ciri bentuk tubuh tinggi, bagian hidung keatas melengkung, telinga menggantung ke bawah, panjangnya 15 - 30 cm dan sedikit kaku, warna bulu bervariasi antara hitam dan coklat. Ciri lainnya kambing jantan mempunyai bulu tebal agak panjang dibawah leher dan pundak, sedangkan bulu kambing betina agak panjang terdapat di bagian bawah ekor ke arah garis kaki, bobot badan hidup kambing PE jantan sekitar 40 - 45 kg dan kambing PE betina sekitar 35 kg (Ensminger, 2002). Kambing PE merupakan jenis kambing perah yang unggul, karena mempunyai kemampuan memproduksi susu sebanyak 1,5 - 3 liter per hari. Selain itu kambing PE sangat adaptif dengan topografi Indonesia, tidak memerlukan lahan luas, dan pembudidayaannya relatif mudah sehingga dapat dijadikan bisnis sampingan keluarga (Setiawan, 2002).

Pemanfaatan kambing di Indonesia baru terbatas sebagai penghasil daging, sedangkan sebagai penghasil susu masih sedikit. Kambing yang umumnya dipelihara adalah kambing Peranakan Etawah (PE), karena kambing ini merupakan salah satu jenis kambing yang menghasilkan susu untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Jenis kambing PE merupakan jenis kambing yang memiliki produktivitas tinggi dan daya tahan yang lebih baik. Kambing PE banyak dipelihara oleh masyarakat di Indonesia dan tersebar luas diseluruh wilayah pedesaan karena mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dan mempertahankan diri terhadap lingkungan yang kurang baik.           
Susu kambing merupakan cairan putih berasal dari binatang ternak ruminansia berjenis kambing perah yang diproduksi oleh kelenjar susu dari hewan mamalia betina. Susu diproduksi oleh kambing betina setelah beranak atau disebut masa laktasi. Salah satu kelebihan susu kambing adalah kandungan gizinya relatif lebih lengkap dan seimbang.. Komponen komponen yang penting dalam air susu adalah protein, lemak, vitamin, mineral, laktosa serta enzim-enzim dan beberapa mikroba. Susu merupakan produk pangan yang menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan kalsium (Ca) tubuh (Syarifah, 2007). 

Komposisi air susu dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis ternak dan keturunannya (hereditas), bulan laktasi, umur ternak, peradangan pada ambing, pakan ternak, lingkungan dan prosedur pemerahan susu. Lebih kentalnya susu dibandingkan air adalah karena banyaknya bahan kering yang terdapat didalamnya, seperti lemak, protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral Saleh (2004). Secara kimiawi susu normal mempunyai susunan sebagai berikut: air (87,20%), lemak (3,70%), protein (3,50%), laktosa (4,90%), dan mineral (0,07%) SNI. Kandungan protein susu kambing relatif lebih tinggi, yaitu 4,3% dibanding susu sapi 3%, (Gunawan, E.2010).  

Berat jenis merupakan sifat fisik susu yang dipengaruhi oleh komposisi susu, nilai protein dan lemak susu. Semakin kental susu maka semakin banyak jumlah padatan didalam susu yang akan meningkatkan berat jenis susu. Oleh karena itu,berat jenis dan kekentalan selalu berbanding positif. Menurut Herdiansyah (2011), jika berat jenis susu rendah maka kekentalan susu tersebut sangat rendah, namun sebaliknya. Susu kambing memiliki partikel lemak yang lebih kecil dan homogen sehingga mudah dicerna dan diserap. Besar kecilnya globula lemak ditentukan oleh kadar air yang ada didalamnya (Saleh, 2004). Kadar lemak susu kambing dipengaruhi oleh pakan hijauan, semakin tinggi pakan hijauan yang diberikan maka semakin tinggi pula kadar lemak susu (Zurriyanti et al., 2011). Menurut Sukarini (2006), bahwa ternak yang diberi pakan tambahan konsentrat akan menurunkan kadar lemak susu dan pakan yang hanya terdiri dari hijauan memiliki kadar lemak yang lebih tinggi dibanding pakan yang ditambah dengan konsentrat.

Menurut Suardana dan Swacita (2004), pengujian terhadap kualitas susu dapat dilakukan berdasarkan keadaan dan susunan susu. Pemeriksaan kualitas susu berdasarkan kandungan nutrisinya, antara lain meliputi berat jenis,  kandungan protein, dan kandungan lemak. Hal ini sesuai dengan pendapat Julmiaty (2002), bahwa kualitas susu dapat dilihat dari susunan dan keadaan proteinnya. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka dalam penelitian ini akan diteliti tentang kualitas susu kambing PE ditinjau dari uji berat jenis, uji kandungan protein, dan uji kandungan lemak.

Berat jenis (BJ) digunakan untuk mengetahui grafitasi spesifik suatu larutan. Pengujian berat jenis dilakukan di laboratorium bioteknologi UMM dengan menggunakan lactodensimeter dan tabung ukur, susu dimasukan ke dalam tabung ukur sebanyak 500 ml kemudian memasukan lactodensimeter ke dalam tabung yang terisis susu. Nilai rata-rata berat jenis susu kambing pada setiap peternak di Kota Batu.

Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa susu kambing dari setiap peternak di Kota Batu memiliki berat jenis yang sama. Hal ini  disebabkan karena jenis kambing yang sama yaitu kambing Peranakan Etawa (PE). Hal ini sesuai dengan pendapat Tasiprin (2011) yang menyatakan bahwa  faktor yang mempengaruhi berat jenis susu segar di antaranya umur dan jenis ternak.  

Berat jenis susu segar peternak A sama dengan peternak B,C D  dan E. Rata-rata berat jenis susu segar pada setiap peternak yaitu 1,03. Berat Jenis susu segar pada semua peternak tersebut berada diatas Standar Nasional Indonesia (SNI). Berat Jenis susu segar sesuai Stasndar Nasional Indonesia (SNI) dan Milk Codex  yaitu 1,028. Susu mempunyai berat jenis yang lebih besar dari  air yaitu 1,027 – 1,035 dengan rata-rata 1,031. Codex susu  adalah suatu daftar satuan yang harus dipenuhi  susu sebagai bahan makanan. Daftar ini telah disepakati oleh para ahli gizi dan kesehatan sedunia, walaupun di setiap negara atau daerah mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri (Saleh, 2004).
Jumlah pemberian pakan dan jenis pakan yang berbeda serta perbedaan periode laktasi tidak berpengaruh terhadap berat jenis susu kambing Peranakan Etawa (PE) di setiap peternak di Kota Batu. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Atmaja (2011) yang menyatakan bahwa penurunan berat jenis susu segar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : makanan, perubahan kondisi kadar lemak, adanya gas-gas yang timbul dalam susu, protein, laktosa, jenis ternak, usia ternak, dan kesehatan lingkungan.

Semakin besar berat jenis pada susu  semakin bagus karena komposisi atau kandungan dari susu tersebut masih pekat dan kadar air dalam susu adalah kecil, sedangkan semakin banyak lemak pada susu maka semakin rendah berat jenis-nya, semakin banyak persentase bahan padat bukan lemak, maka semakin berat susu tersebut (Hadi, 2008). 

Beternak Ayam Broiller Sistem Kemitraan



Pembangunan peternakan merupakan bagian dari pembangunan keseluruhan yang bertujuan untuk menyediakan pangan hewani berupa daging, susu, serta telur yang bernilai gizi tinggi. Hal inilah yang mendorong pembangunan sektor peternakan sehingga pada masa yang akan datang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam pembangunan perekonomian bangsa. Di Indonesia, usaha perunggasan  telah menjadi sebuah industri yang memiliki nilai strategis khususnya dalam penyediaan protein hewani untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menurut Afriadi (2008), broiler merupakan jenis ayam ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam potong lainnya. yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging. Sebagaimana diketahui broiler merupakan ternak penghasil daging yang relatif lebih cepat bila dibandingkan dengan ternak, hal inilah yang mendorong sehingga banyak peternak yang mengusahakan peternakan broiler. Perkembangan tersebut didukung oleh semakin kuatnya industri hilir seperti perusahaan pembibitan (Breeding Farm), perusahaan pakan ternak (Feed Mill), perusahaan obat hewan dan peralatan peternakan. 

Perkembangan populasi ternak broiler tidak terlepas dari permasalahan yang menjadi dilema bagi peternak dan sulit dipecahkan oleh peternak yaitu aspek pasar dan penyediaan sarana produksi yang tidak seimbang dengan harga jual produk, sehingga membuat peternak takut mengambil resiko untuk  mengembangkan usaha peternakan broiler dengan skala produksi yang lebih besar. Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh peternak maka diperlukan peran pemerintah dalam menggerakan perusahaan swasta dan lembaga-lembaga pembiayaan agribisnis dalam menunjang pengembangan produksi peternakan khususnya broiler (ayam pedaging). Peran perusahaan dan lembaga-lembaga agribisnis ini sangat membantu peternak yakni dalam menyiapkan sarana produksi berupa bibit, pakan, obat-obatan, vaksin, vitamin dan pemasaran hasil peternakan dengan pola kemitraan.

Pola kemitaran merupakan suatu bentuk kerja sama antara pengusaha dengan peternak dari segi pengelolaan usaha -peternakan (Dewanto, 2005). Dalam kemitraan pihak pengusaha dan peternak harus mempunyai posisi yang sejajar agar tujuan kemitraan dapat tercapai dimana dalam hal perhitungan tentang biaya produksi diatur sepenuhnya oleh perusahaan yang disepakati bersama oleh peternak. Pada hakekatnya kemitraan disertai  pembinaan dan pengembangan berkelanjutan dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, memperkuat dan menguntungkan.

Untuk memperoleh gambaran kelayakan usaha pemeliharaan broiler secara kemitraan dengan Peternak Mitra maka perlu dilakukan penelitian berdasarkan penerapan aspek teknis pemeliharaan broiler pola kemitraan dan keuntungan yang diterima peternak berdasarkan berat badan panen serta Feed Convertion Rasio (FCR) yang tercapai di tingkat Peternak Mitra.

Peternakan kecil merupakan jumlah terbesar dari seluruh peternakan ayam ras di Indonesia. Keuntungan merupakan tolok ukur atas keberhasilan atau kegagalan seorang peternak dalam mengendalikan sumber daya yang dimiliki oleh peternakan kecil maupun peternakan komersil. Kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi diusahakan sedemikian rupa agar dalam jumlah tertentu menghasilkan produksi  optimal dengan keuntungan yang tinggi.

Peternak Mitra disebut Perusahaan Inti berperan sebagai pihak inti yang memberikan pembinaan budidaya atau pemeliharaan broiler dan menyediakan sapronak yang meliputi anak ayam umur sehari (DOC), pakan, dan obat-obatan. Dalam rangka pembinaan budidaya broiler kepada Peternak Mitra, melakukan hal-hal sebagai berikut: memberikan petunjuk-petunjuk mengenai budidaya broiler, menetapkan ketentuan-ketentuan pemeliharaan broiler, mencarikan pembeli bagi Peternak Mitra dan membantu menjual ayam, dan membantu melakukan manajemen penjualan ayam bagi peternak.

Usaha peternakan ayam broiller dilakukan oleh berbagai golongan masyarakat. Pengelolaan usaha ternak ayam broiller tersebut secara faktual telah memberikan sumbangan bagi perekonomian di wilayah masing-masing, dan saat ini pengelolaannya dilakukan secara mandiri dan pola kemitraan usaha dengan segala kelebihan dan kekurangannya 

Peternak ayam broiller yang melakukan kemitraan telah mempunyai suatu wadah untuk menunjang pelaksaan kemitraan, seperti kelompok tani. Di lapangan, para peternak anggota kemitraan langsung berhadapan dengan perusahaan inti melalui TS (Technical Services). Aturan main kerjasama kemitraan dicerminkan oleh adanya kewajiban bagi masing-masing lembaga yang terlibat dalam pengelolaan usaha ternak ayam broiller. Kewajiban-kewajiban tersebut didasarkan pada kontrak yang telah ditandatangani oleh peternak plasma dan perusahaan inti sebelum melakukan proses produksi.
Peternak pemula atau skala kecil yang melakukan kemitraan dengan Peternak Mitra, umumnya merasa sangat terbantu dengan adanya kerjasama kemitraan karena modal awal yang seharusnya ditanggung oleh peternak, sebagian ditanggung oleh perusahaan inti melalui pemberian kredit penyediaan alat-alat kandang. Keuntungan lain dari kerjasama kemitraan yang paling besar manfaatnya bagi peternak adalah adanya bimbingan dan penyuluhan yang diberikan oleh technical service (TS) dari  sebagai perusahaan inti (Peternak Mitra). 

Penyuluhan dan bimbingan melalui TS ini sangat intensif karena setiap satu orang peternak akan memperoleh bimbingan secara langsung. Melalui penyuluhan tersebut, peternak peserta kemitraan memperoleh informasi perkembangan (inovasi) teknologi usaha ternak relatif lebih cepat dibandingkan peternak non mitra. Peternak Mitra menyatakan bahwa teknologi dan informasi yang diberikan oleh TS terbukti mampu meningkatkan kualitas ayam broiller yang dihasilkan. Penanggungan resiko, usaha ternak ayam broiller sangat rentan terhadap kegagalan produksi seperti rendahnya bobot ayam (biasanya disebabkan oleh kualitas DOC dan pakan yang rendah), serangan penyakit atau turunnya harga ayam di pasar.

Jika terjadi kegagalan panen, pendapatan yang diperoleh biasanya tidak mampu lagi digunakan untuk membiayai proses produksi pada periode berikutnya. Bagi Peternak Mitra, kegagalan panen tidak menyebabkan proses produksi periode berikutnya terhenti karena perusahaan inti akan tetap menyediakan sarana produksi ternak (DOC, pakan, obat dan vaksin). Hal ini tidak bisa dilakukan oleh peternak non mitra, yang resiko kegagalan usaha akan ditanggung sendiri sehingga jika harus memulai proses produksi pada berikutnya mereka harus mampu mencari sumber modal baru. Manfaat yang dirasakan oleh peternak inilah yang membuat para peternak tetap melaksanakan program kemitraan walaupun masih terdapat beberapa kekurangan dan perselisihan antara peternak dengan Peternak Mitra.

Perselisihan tersebut seringkali disebabkan oleh adanya peluang dari Peternak Mitra sebagai perusahaan inti untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya, pengiriman pakan yang telat serta harga yang terkadang melebihi harga pasar. Dalam hal ini kepatuhan terhadap kesepakatan (credible commitment) merupakan kunci keberhasilan dari suatu program kemitraan. 
Beberapa kasus kemitraan peternakan ayam broiller, pihak yang seringkali tidak mematuhi kesepakatan justru dilakukan oleh perusahaan inti. Keuntungan-keuntungan bermitra yang selama ini dijalankan oleh peternak dan perusahaan inti adalah ketersediaan modal awal untuk berusaha ternak. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa untuk memulai usaha ternak ayam broiller, peternak membutuhkan modal yang relatif besar untuk pembuatan kandang dan pembelian alat-alat kandang. Untuk skala usaha 5000 ekor ayam dalam satu siklus produksi (± 35 hari) dibutuhkan dana berkisar antara Rp 70 juta sampai Rp 95 juta untuk biaya operasional saja, belum termasuk biaya investasi.

Beberapa peternak di yang tergabung dalam Peternak Mitra memilih untuk menjadi peternak mandiri (keluar dari program kemitraan) karena mereka telah memiliki modal besar dan bersedia menanggung resiko kegagalan. Peternak yang memilih jalur mandiri berati harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, yaitu harga yang selalu dapat mengikuti pasar serta dapat memberikan penawaran harga kepada pembeli. Keuntungan yang didapat pun bisa optimal dan jika mengalami kerugian, kerugian pun akan ditanggung sendiri oleh peternak.
Oleh sebab itu, peternak yang masih minim pengalaman dalam beternak ayam broiller, maka disarankan untuk mencoba sistem kemitraan ini agar dapat diajari dan didampingi oleh Peternak Mitra yang telah teruji dan telah memiliki pengalaman yang banyak mengenai pemeliharaan ayam broiller. 

Pekan ini, 2.000 Sapi Indukan Australia Tiba di Indonesia

Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan, 2.000 sapi indukan asal Australia akan datang pekan depan. Sapi-sapi tersebut didatangkan untuk meningkatkan populasi sapi nasional.

"Sapi indukan asal Australia akan sampai di Kalimantan Tengah tanggal 21 (Juni 2014) ini. Jumlahnya 2.000 ekor," ujar Direktur Pembibitan Ternak Derektorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewah, Abu Bakar, Jumat (12/6/2014).

Dia menjelaskan, impor sapi indukan tersebut melalui PT Sulungren. Sapi indukan asal Australia tersebut baru akan dikirim pada 15 Juni 2014 dan akan sampai pada 21 Juni 2014 di Gumai, Kalimantan Tengah.

Namun, Abu Bakar menyayangkan, sapi indukan tersebut masih terkena pajak sebesar 5 persen. Padahal, sapi yang didatangkan adalah sapi yang masuk dalam katagori indukan dan harusnya tidak dikenakan pajak.

"Masih kena pajak 5 persen. Kami sudah kirim surat 9 november ke Kemenkeu, terus kami konsepkan lagi, untuk pajaknya agar 0 persen, karena ini indukan," katanya.

Sebelumnya, Direktur Budidaya Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Fauzi Luthan menjelaskan, populasi sapi saat ini disinyalir mengalami penurunan. Dia menduga ada kemungkinan pemotongan sapi betina secara besar yang mengakibatkan Indonesia kekurangan sapi indukan.

"Impor indukan peraturannya sudah kita buat untuk dimanfaatkan kalau kesulitan mendapatan indukan di dalam negeri," kata Fauzi beberapa waktu lalu.


sumber: kompas.com

Cara Praktis Mengolah Limbah Ternak


Limbah ternak pada umumnya berbentuk bahan organik yang mudah membusuk, sehingga perlu mendapat penanganan khusus. Jika tidak segera ditangani, limbah ternak dapat menimbulkan polusi udara, tanah dan air. Yang termasuk limbah ternak antara lain feses (kotoran), urine (air kencing), rambut atau bulu, kuku atau tracak pada ternak, serta sisa pengolahan susu, sisa pakan, tulang, darah, dan bahan-bahan lainnya.

Feses ternak terdiri atas dua komponen asal, yaitu feses padat dan cair dengan perbandingan sekitar 3:1. Menurut Musnamar (2005), produksi kotoran sapi yang dihasilkan dalam bentuk padat mencapai 23,59 kg/ekor/ hari serta dalam bentuk cair mencapai 9,07 kg/ekor/hari.

Selain menimbulkan bau tak sedap, keberadaan kotoran ternak bisa mengganggu kesehatan masyarakat dan menjadi vektor penyakit. Berbagai dampak negatif itu dapat teratasi kalau limbah ternak dikelola secara riil dan berkelanjutan. Cara praktis, sederhana, murah, alias tepat guna yang disarankan adalah melalui teknologi fermentasi dan dekomposisi. 

Fermentasi Para ahli bioteknologi mendefinisikan istilah fermentasi sebagai proses pemecahan molekul kompleks menjadi molekul sederhana. Dalam hal ini, komponen kimiawi yang dihasilkan merupakan akibat dari pertumbuhan atau metabolisme mikroba yang ber-langsung secara anaerob atau aerob. 

Fermentasi dilakukan untuk meningkatkan nilai suatu bahan, dan menghilangkan racun yang melekat di dalamnya. Adapun teknologi fermentasi yang diterapkan adalah memfermentasi onggok yang merupakan limbah industri pembuatan tepung ta-pioka. Sebagai inokulan, digunakan kapang Aspergillus niger.

Selain dapat mengurangi tingkat pencemaran lingkungan, onggok hasil fermentasi akan meningkatkan nilai nutriennya, terutama kandungan protein hingga 18 persen (sebelumnya 1,9 %).  Proses fermentasi dilakukan dengan medium semi padat. Dengan menambah mineral tertentu dan memeram selama empat hari, akan dihasilkan onggok terfermentasi dengan kualitas lebih baik. Hasil fermentasi inilah yang akan dipakai sebagai fortifikator, sehingga kualitas kompos meningkat akibat kandungan protein dalam onggok terfermentasi oleh Aspergillus niger.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah melalui proses dekomposisi. Cara ini dapat mengurangi pencemaran, sekaligus meningkatkan nilai kotoran ternak. Sebagian karbon dibebaskan dalam bentuk gula sederhana. Gula sederhana akan di-ambil mikroorganisme, dan sisa karbon dilepaskan ke lingkungan dalam bentuk gas CO2. Akibatnya kandungan karbon dalam bahan menurun, sehingga C/N ratio feses berkurang. 

Prinsip utama dekomposisi bahan organik adalah menurunkan C/N ratio feses mendekati C/N ratio tanah —yaitu kurang dari 18%— serta meningkatkan kandungan hara feses terutama nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Pelepasan unsur C inilah yang menyebabkan ikatan senyawa amoniak (CH4) terdegradasi, akibat bereaksi dengan air (H2O) menjadi senyawa CO2 yang dilepas ke udara dan hidrogen (H2). Melalui proses dekomposisi, kandungan CH4 dalam feses berkurang, sehingga emisi gas metan juga berkurang.

Proses Kerja Aplikasi teknologi dalam kasus ini adalah menggabungkan dua teknologi sekaligus, yaitu fermentasi dan dekomposisi, dengan tujuan utama mengurangi zat pencemar. Proses kerja fermentasi dan dekomposisi pada intinya hampir sama, yaitu perubahan fisik dan kimia bahan organik menjadi zat yang lebih sederhana.

Tahap pertama adalah memfermentasi onggok kering dengan inokulan kapang Aspergillus niger secara anaerob. Campurkan 10 kg onggok kering dan 580 gram mineral, lalu diaduk sampai merata. Tambahkan 8 liter air hangat. Setelah agak dingin, tambahkan 80 gram Aspergillus niger, kemudian masukkan ke dalam baskom. Tutup rapat dengan kain, dan simpan selama empat hari sampai terbentuk misellium.

Hasil fermentasi dipotong-potong dan dikeringkan dalam oven pada suhu 60 derajat Celcius, kemudian digiling halus. Onggok terfermentasi dapat dicampurkan ke feses hasil dekomposisi. 

Tahap kedua adalah dekomposisi feses (ternak sapi). Feses dicampur dengan bahan organik lainnya seperti sekam / abu abu, kapur dan aktivator. Proses ini juga dilakukan secara anaerob, dan memerlukan waktu selama 10-14 hari.

Yang perlu diperhatikan dalam dekomposisi adalah proses penyisiran campuran bahan dengan tujuan untuk aerasi dan mempercepat pematangan bahan, sehingga dihasilkan kompos berkualitas. Kompos matang memiliki ciri-ciri cokelat kehitaman, tidak berbau feses lagi, dan suhu turun antara 26-34 derajat Celcius, serta teksturnya menjadi remah. Selanjutnya, onggok terfermentasi dicampurkan sehingga menghasilkan kualitas kompos yang kaya unsur hara.

Tujuan utama dalam penerapan teknologi tepat guna ini pun dapat tercapai yaitu berkurangnya pencemaran lingkungan akibat kotoran ternak. Selain itu, kalau jumlah kompos berlebihan, kita dapat menjualnya ke kalangan petani sehingga dapat menambah penghasilan keluarga.

Sanitasi Dan Pengolahan Limbah Pabrik Susu [4]


SANITASI PADA PENERIMAAN SUSU

Sanitasi awal dilakukan pada saat penerimaan susu melalui truk tanki pengirim sus. Sanitasi truk tangki pengumpul susu dilakukan dengan cara menyiram lubang kran penghubung tangki dengan pipa pabrik dengan menggunakan air panas. Sebelumnya dilakukan pengecekan terlebih dahulu untuk memastikan susu dalam keadaan baik. Keseluruhan peralatan yang digunakan untuk mengambil susu seperti kaleng pengukur volume dan pengambil sampel juga dibersihkan dengan menggunakan air panas.

SANITASI PADA STASIUN PENDINGINAN

Sanitasi yang dilakukan pada stasiun pendinginan berupa pembersihan pada seluruh pipa dan alat atau mesin yang ada dalam alur aliran pipa susu, pembersihan ini dilakukan dengan menggunakan metode CIP (Clean in Place).

Unit Pendingin Cepat Susu (Chilling Unit)
Sebagai tempat penerima susu biasanya di pusat pendinginan susu dilengkapi dengan fasilitas pendinginan cepat susu. Unit pendingin cepat susu pada dasarnya terdiri atas :
  • Tangki tuang susu (dumping tank) berfungsi untuk menerima susu yang datang dari para peternak atau kelompok peternak, baik dalam wadah milk can maupun transfer tank. Susu disaring dengan kain saring halus untuk menyaring benda-benda asing yang terikut kedalam susu.
  • Pompa Susu  berfungsi untuk mengalirkan susu ke unit pendingin.
  • Plate/Tubular cooler adalah alat yang memiliki sekat-sekat yang dialiri secara berlawanan arah antara media pendingin dengan susu sehingga suhu susu turun menjadi 4˚C. Pengurangan suhu susu dimaksudkan untuk melakukan pertukaran panas dengan air es yang berasal dari ice bank.
  • Storage tank / Cooling unit berfungsi sebagai tangki penyimpanan susu berpendingin.
  • Unit Ice bank berfungsi untuk membuat air dingin / es.
  • CIP (cleaning in place) tank .
Untuk saluran pipa serta alat dan mesin yang dilalui pipa pada stasiun pendinginan sanitasi dilakukan dengan menggunakan metode CIP (Clean in Place). Air panas dialirkan dari tangki air panas dan kemudian disalurkan melalui pipa dengan menggunakan pompa dan mengalir ke seluruh saluran yang dilalui pipa tersebut. Hal ini akan mengeluarkan semua sisa-sisa susu dan kotoran yang mungkin ada pada saluran pipa dan alat serta mesin yang dilalui pipa tersebut.

Aliran air panas ini diharapkan juga akan membunuh seluruh mikroorganisme yang ada dalam seluruh saluran yang dilalui pipa sehingga pada proses penerimaan susu selanjutnya diharapkan seluruh saluran telah steril dan siap digunakan. Dengan demikian tidak perlu dilakukan pembongkaran pipa sehingga akan menghemat waktu dan biaya. Namun metode ini menghendaki seluruh saluran harus dapat terhubung dalam jalur perjalanan air panas. Apabila saluran tidak terhubung, maka dapat menyebabkan konsleting dalam proses pembersihan.

Pendingin Susu (Packo Cooler)
Pencucian pendingin susu (Packo Cooler) dilakukan setiap selesai dipakai untuk  pendingin susu dan tidak ada susu didalamnya. Bagian-bagian pendingin susu (Packo Cooler) diurai dibilas dengan air bersih dan direndam dalam bak pencucian (washing bassin) yang berisi air tepol panas kemudian dicuci, disikat sampai bersih, bilas dan dikeringkan lalu disimpan pada tempatnya. Sedangkan pembersihan pendingin susu (packo cooler) yang dilakukan dengan pembilasan bagian dalam dan luar dengan air bersih, dengan cara masuk ke dalam pendingin, mencuci dinding bagian dalam, pengaduk, bagian penyangga pengaduk, penutup cooling, bagian luar dengan menggunakan tepol dan air panas hingga bersih dan kering.

SANITASI PADA STASIUN PENGEMASAN

Pra Proses
Sanitasi sebelum proses produksi dilakukan pada semua peralatan dan fasilitas antara lain pada mesin pengemas, pipa saluran, pompa dan cooling unit.

Khusus untuk tangki pendingin atau Cooling Unit sanitasi dilakukan setelah Cooling Unit kosong atau susu telah selesai diproses atau dikirimkan. Prosedur pembersihannya adalah sebagai berikut:

  1. Cooling Unit dibilas dengan air bersih.
  2. Cooling Unit dicuci dengan air panas yang telah diberi tepol dan disikat sampai bersih untuk membersihkan sisa bahan dan kotoran yang ada pada Cooling Unit dan mencegah kontaminasi mikroorganisme.
  3. Cooling Unit kemudian dibilas dengan air bersih.
  4. Cooling Unit dilap sampai kering dengan lap yang bersih.
Material cooling unit seluruhnya terbuat dari stainless steel sheet. Fungsi dari cooling unit ini antara lain: mendinginkan susu pada suhu 0°C sampai 1°C, mempertahankan suhu susu pada suhu tersebut, sebagai tempat penyimpanan sementara susu yang akan diproses atau dikirimkan, menurunkan suhu susu yang akan dikemas, menjaga keseimbangan suhu susu selama menunggu proses pengemasan, sebagai tempat pencampuran bahan tambahan pada susu.

Cooling unit adalah sebuah tabung yang terdiri atas dua lapisan yang membagi alat ini menjadi dua ruang. Ruang bagian dalam berisi susu yang akan disimpan sedangkan ruang bagian luar berisi udara yang digunakan untuk mendinginkan susu. Udara yang ada pada lapisan luar akan didinginkan dengan menggunakan kompresor sehingga akan menyerap kalor susu melalui tabung lapisan dalam. Hal ini akan membuat suhu susu turun, ketika suhu susu sudah turun pada 0°C sampai 1°C maka kompresor akan mati dan jika suhu susu naik maka kompresor akan berjalan lagi untuk menurunkan suhu susu. Alat ini dilengkapi dengan pengaduk yang digunakan untuk menghomogenkan susu yang ada dalam tabung.

Pasca Proses
Setelah proses produksi selesai seluruh bagian peralatan dan mesin dalam stasiun pengemasan di bersihkan dengan menggunakan air panas. Pembersihan ini termasuk pembersihan pada mesin pengemas, cooling unit, pipa dan pompa yang telah mengalami proses pengolahan ataupun akan berganti produk. Hal ini ditujukan agar tidak mengkontaminasi produk selanjutnya. Sanitasi yang dilakukan pada mesin pengemas adalah sebagai berikut :
  1. Bagian-bagian yang memungkinkan adanya kotoran dibersihkan dengan mengunakan larutan detergen, seperti pada tempat peletakan gelas kemasan. Hal ini dilakukan untuk membersihkan kotoran dan bahan yang tersisa di sela-sela alat agar kontaminasi dapat dihindari.
  2. Bagian-bagian tersebut kemudian dibilas dengan menggunakan air.
  3. Tangki penempatan dan saluran mengalirnya susu yang telah dipasteurisasi dibersihkan dengan air panas untuk menghindari adanya kontaminasi mikroorganisme.

SANITASI PABRIK SECARA UMUM

Sanitasi lantai
Sanitasi pada lantai pabrik dilakukan tiap hari setelah selesai melaksanakan proses produksi dengan cara mencucinya dengan menggunakan air detergen dan air panas. Sanitasi dapat pula dilakukan setiap saat ketika dinilai perlu untuk dilakukan misalnya ketika ada tumpahan susu yang ada pada lantai.

Sanitasi Gedung Produksi
Sanitasi ini dilakukan dengan cara membersihkan bagian luar gedung seperti pintu dan jendela dengan tujuan untuk membersihkan kotoran agar kontaminasi terhadap bahan selama proses dapat ditekan seminimal mungkin. Hal ini dilakukan setiap hari atau dinilai perlu untuk dilakukan pembersihan. Selain itu untuk meminimalisir adanya serangga seperti kecoak, lalat, dan nyamuk dilakukan pula proses foogging setiap 1 bulan sekali.

Pengolahan Limbah
Berdasarkan karakteristiknya, limbah industri dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu: limbah cair, limbah gas dan partikel, limbah padat. Limbah harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang jika mengandung pencemar yang mengakibatkan rusaknya lingkungan, atau paling tidak berpotensi menciptakan pencemaran.

Limbah yang dihasilkan oleh unit pengolahan susu dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu:

Limbah padat
Pengolahan limbah juga dapat dilakukan dengan cara yang sedehana yaitu mendaur ulang, dijual ke pasar loak atau tukang rongsokan. Cara ini bisa menjadikan limbah atau sampah yang semula bukan apa-apa sehingga bisa menjadi barang yang ekonomis dan bisa menghasilkan uang. Limbah padat ini berupa plastik dan karton sisa hasil proses pengemasan baik dari kerusakan gelas maupun kemasan susu.

Limbah cair
Limbah cair ini berupa:

  1. Limbah fresh milk berasal dari susu yang baru datang dari KUD yang uda bekerja sama dengan perusahaan. Melalui tumpahan saat berada di receptic tank ataupun saat pengolahan sebelum dilakukan mixing pada produk
  2. Limbah produk berasal dari produk yang sudah jadi namun ada masalah baik dari isi maupun kemasan. Biasanya isi yang diduga bermasalah dibuang lagi melalui lubang – lubang yang ada di proses pengolahan, sedangkan bungkusnya ditampung di tempat penampungan sementara. Limbah produk ini juga menyangkut semua bahan material yang terlibat saat pengolahan berlangsung
  3. Limbah bahan kimia berasal dari CIP dan aktivitas laboratorium yang dapat membahayakan apabila tidak dilakukan penanganan berkelanjutan pada limbah ini.
Limbah cair ini semuanya dialirkan menuju kolam oksidasi dengan menggunakan sistem bertingkat, artinya limbah mengalami proses penyaringan, pengendapan dan peresapan secara bertingkat sehingga dihasilkan keluaran limbah yang jernih karena partikel padatannya telah mengendap. Sebagian besar limbah cairnya berupa air maka konsentrasi limbah lainnya dapat diperkecil sehingga tidak membahayakan.

Dengan adanya ikan-ikan seperti lele di dalamnya mampu merombak unsur limbah tersebut sehingga ikan-ikan aktif di dasar kolam.  Selanjutnya ikan akan dipanen dan diganti lagi setelahnya. Limbah cair yang dihasilkan kemudian dialirkan ke sawah – sawah yang ada dibelakang perusahaan yang sudah menjadi hak milik perusahaan. Selain itu apabila air sungai dibelakang banjir, limbah cair ini akan dialirkan langsung menuju sungai. Secara tidak langsung proses dari pengolahan limbah ini diproses untuk mendapatkan manfaat lain seperti ikan dan hasil dari panen sawah yang berada di lingkungan perusahaan.

KESIMPULAN

Proses sanitasi mempunyai beberapa tahap yakni sanitasi yang dilakukan saat penerimaan susu, sanitasi pada stasiun pendingin (seluruh lubang pipa dan mesin menggunak metode CIP). Sanitasi pada Stasiun Pengemasan. Sanitasi pada lantai dilakukan setiap hari setelah produksi selesai, untuk sanitasi atap pabrik dilakukan tiap minggu sekali atau setiap dirasa perlu untuk dilakukan sanitasi.

Limbah yang dihasilkan meliputi limbah padat dan cair. Limbah padat dijual ke pengasok yang tiap sore mengambilnya sehingga bermanfaat hasil samping perusahaan, sedangkan limbah cair dialirkan dengan sistem bertingkat untuk dilakukan pemurnian sebelum dialirkan ke sawah atau sungai.

← Bagian Ketiga

Sanitasi Dan Pengolahan Limbah Pabrik Susu [3]


BAHAN SANITAISER

Meskipun pembersihan telah dilakukan, belum ada jaminan bahwa cemaran mikrobiologis terutama bakteri patogen dapat dihilangkan. Oleh karena itu, proses pembersihan pada umumnya harus diikuti dengan desinfeksi menggunakan bahan sanitaiser. Tujuan utama desinfeksi adalah untuk mereduksi jumlah mikroorganisme patogen dan perusak dalam pengolahan makanan, serta pada fasilitas dan perlengkapan persiapan serta pengolahan.

Sebuah lingkungan yang saniter dapat dicapai dengan menghilangkan cemaran sebaik-baiknya, diikuti dengan penerapan sanitaiser secukupnya untuk menghancurkan mikroorganisme yang tertinggal. Keberadaan deposit cemaran dapat memberikan perlindungan bagi mikroorganisme terhadap kerja sanitaiser, baik melalui efek pengenceran sanitaiser maupun karena adanya reaksi antara bahan organic dalam cemaran dengan sanitaiser. Karena itu, untuk menjamin tercapainya proses pengolahan yang saniter, penting untuk menerapkan bahan sanitaiser segera setelah pembersihan. Secara garis besar, bahan sanitaiser dibedakan menjadi 2, yaitu sanitaiser kimiawi dan non kimiawi.

Sanitizer Non Kimiawi
Sanitaiser non kimiawi dapat mematikan mikroorganisme melalui aktivitas fisik dari energi yang dimilikinya. Beberapa contoh sanitaiser non kimiawi antara lain uap, air panas dan radiasi.
  • Uap, penggunaan uap air panas untuik tujuan sanitasi dapat dilakukan dengan menggunakan uap air mengalir bersuhu 76,7 ‘C selama 15 menit, atau 93,3 ‘C selama 5 menit.
  • Air Panas, sanitasi dengan metode ini dapat dilakukan dengan merendam benda-benda dalam air panas bersuhu 80 ‘C atau lebih.
  • Sanitasi Radiasi, radiasi sinar pada panjang gelombang 2500 A dari sinar ultraviolet, sinar gamma atau dari katode energi tinggi dapat digunakan untuk mematikan mikroorganisme. Radiasi sinar ultraviolet telah banyak diaplikasikan di rumah sakit (Barido, 2013).
Sanitaiser Kimiawi
Sanitaiser kimiawi (desinfektan) adalah senyawa kimiawi yang memiliki kemampuan membunuh mikroorganisme. Desinfektan tidak memiliki daya penetrasi, sehingga tidak mampu mematikan mikroorganisme yang terdapat dalam celah, lubang atau dalam cemaran mineral.

Banyak faktor yang mempengaruhi penggunaan desinfektan, antara lain waktu kontak, suhu, konsentrasi, pH, kebersihan alat, dan ada tidaknya bahan pengganggu. Suhu yang disarankan untuk proses desinfeksi berkisar antara 21,1-37,8 ‘C.

Derajat keasaman merupakan factor kritis yang mana desinfektan berbahan klorin akan inaktif pada pH lebih dari 10. Adapun desinfektan berbahan dasar iodine akan inaktif pada pH 5,0. Ada 4 macam desinfektan yang lazim digunakan dalam proses pengolahan pangan, yang dibedakan menurut komponen utama yang dikandungnya, yaitu sebagai berikut:
  • Desinfektan berbahan dasar klorin.
  • Desinfektan berbahan dasar iodine.
  • Senyawa ammonium kuartener (quad), dan
  • Surfaktan anionic asam.
ASPEK SANITASI

Sanitasi merupakan bagian penting dalam proses pengolahan pangan yang harus dilakukan dengan baik. Sanitasi dapat didefinisikan sebagai usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit.

Untuk menjaga agar kandungan bakteri dalam hasil olahan susu dapat serendah mungkin, semua peralatan yang dipakai untuk penanganan dan pengolahan air susu segar harus diusahakan tetap bersih, dalam keadaan sanitasi yang baik dan kering setelah dipakai. Dalam keadaan sanitasi yang baik berarti bersih dan semua bakteri yang semula ada telah dapat dibasmi. Untuk dapat memenuhi harapan itu, maka semua peralatan yang digunakan dalam industri susu harus didesain dengan baik.

SANITASI BAHAN BAKU

Bahan baku merupakan salah satu faktor terpenting pada proses pengolahan agar makanan sehat bagi setiap orang dan konsumen diperlukan persyaratan khusus antara lain; dari bahan baku yang berkualitas baik, cara pengolahan yang memenuhi syarat, cara penyimpanan yang betul, pengangkutan yang sesuai ketentuan dan cara yang benar. Kontaminasi makanan adalah terdapatnya bahan atau organisme berbahaya dalam makanan secara tidak tidak sengaja, yaitu secara langsung dan silang. Kontaminasi langsung adalah kontaminasi yang terjadi pada makanan mentah atau disebut bahan baku. Kontaminasi silang adalah kontaminasi pada bahan makanan mentah atau makanan masak melalui perantara.

SANITASI ALAT

Sanitasi peralatan dilakukan dengan menggunakan detergen, selanjutnya dibilas dengan air mengalir dan dikeringkan atau disterilisasi dengan air panas terlebih dahulu. Detergen sintetik disebut sebagai surfaktan karena dapat menurunkan tegangan permukaan larutan, membantu membasahkan partikel cemaran, memecah gumpalan partikel cemaran dan mensuspensikannya kedalam cairan. Pengguyuran peralatan akan menghasilkan 99 % kotoran atau sisa susu yang tertinggal.

Penggunaan air panas disini berperan untuk sterilisasi, sebagaimana dituturkan penggunaan air panas sebaiknya dilakukan dengan suhu minimal 75oC dan dikerjakan paling sedikit 5 menit.

Energi panas diperkirakan dapat menyebabkan denaturalisasi protein dalam sel mikroorganisme yang dapat menimbulkan kematian. Cara ini cukup efektif dan dapat diterapkan pada semua jenis permukaan yang bersentuhan dengan makanan. Kelemahannya, cara ini tidak dapat mematikan spora bakteri yang tahan terhadap panas.

Pengeringan alat-alat persusuan dilakukan dengan menaruh alat pada rak dalam posisi terbalik dan sedikit dimiringkan agar proses pengeringan berlangsung sempurna. Menurut Van den Berg (1987), pengeringan alat-alat yang sudah disanitasi bertujuan untuk mencegah kemungkinan adanya bakteri yang mampu tumbuh dan berkembang pada tempat-tempat basah. Adapun program sanitasi alat persusuan yang baik meliputi 5 tahap, yaitu : membasuh dengan air dingin atau hangat untuk menghasilkan sebanyak mungkin sisa susu, membersihkan dengan detergen asam atau basa, membersihkan dengan air hangat atau dingin untuk menghilangkan detergen atau kotoran, sterilisasi (desinfeksi alat-alat) dan pengeringan alat-alat persusuan.

SANITASI PEKERJA

Pekerja harus mengikuti proses sanitasi yang memadai untuk mencegah kontaminasi pada makanan yang ditanganinya. Karyawan yang melakukan kontak langsung dengan makanan dapat menjadi sumber cemaran baik biologis, kimia maupun fisik.

Proses sanitasi yang penting bagi pekerja terdiri dari pencucian tangan, kebersihan dan kesehatan diri yaitu bebas infeksi saluran pernafasan, pencernaan dan penyakit kulit. Kewajiban mandi dan mencuci tangan sebelum melaksanakan penanganan susu baik pemerahan maupun proses pengolahan sangat tepat. Pencucuian tangan dengan sabun dan diikuti dengan pembilasan akan menghilangkan sebagian besar mikro organisme yang terdapat pada tangan. Kombinasi antar aktivitas sabun sebagai pembersih, penggosokan dan aliran air akan menghanyutkan partikel kotoran yang banyak mengandung mikroorganisme.

SANITASI LINGKUNGAN

Jumlah bakteri dalam susu dapat naik dengan cepat jika kandang hewan tidak bersih dan sehat. Kandang yang kotor dapat menyebabkan banyaknya kontaminan baik bakteri maupun benda lainnya seperti debu, bulu, pasir dan sebagainya.

Air susu mudah tercemar kotoran dan bau-bauan yang tidak diinginkan baik melalui badan hewan atau lingkungan. Dalam pembuatan produk olahan susu diperlukan susu bersih, bermutu baik, berkomposisi normal dan mempunyai kandungan bakteri yang rendah. Kondisi ini apabila tidak diimbangi dengan sanitasi lingkungan yang benar dapat mengakibatkan kontaminasi fisik dan mikroorganisme terhadap produk yang dihasilkan.

LIMBAH

Limbah dari pengolahan susu dihasilkan selama pengolahan dan pemindahan susu dari petani sampai ke penerima (industri). Limbah dapat terdiri dari susu penuh dan olah, maupun air pencuci dan pasteurisasi. Penanganan limbah cair dapat dilakukan dengan metode perlakuan secara fisik, perlakuan secara kimia, perlakuan secara biologi. Penangan secara fisika yaitu dengan menyisihkan limbah padat secara fisik dari bagian cairan. Secara kimia dilakukan dengan mengendapkan partikel menggunakan senyawa kimia sebagai koagulan seperti ferisulfat, almunium sulfat, kalsium hidroksida. Penanganan limbah secara biologi dilakukan dengan menggunakan agensia hayati (mikroba) melalui proses fermentasi baik fermentasi aerob maupun anaerob yang dikenal sebagai lumpur aktif (activity sludge).

Pengelolaan limbah cair yaitu dengan sistem kolam atau sering disebut juga sebagai kolam oksidasi. Sistem kolam merupakan salah satu sistem pengolahan limbah cair dengan cara pembuangan limbah cair secara langsung ke badan air. Pada sistem kolam konsentrasi mikroorganisme relatif kecil, suplai oksigen dan pengadukan berlangsung secara alami. Sehingga proses perombakan bahan organik berlangsung relative lama dan pada area yang luas, yang cukup tersedia lahan. Sistem kolam berfungsi untuk pengolahan limbah cair, sekaligus pengolahan sludge. Alga atau ikan-ikan kecil yang tumbuh dapat dipanen dan digunakan sebagai hasil samping yang bermanfaat. Suplai oksigen merupakan factor pembatas, pembebanan system serine didasarkan pada luas permukaan kolam dan dinyatakan dalam P- BOD,/m-,hari, dan tidak didasarkan pada volume kolam atau jumlah biomassa.

Sistem kolam umumnya dirancang dengan kedalaman maksimum 1,0 -1,5 m, sehingga pencahayaan dan pengadukan oleh angin. Waktu tinggal hidrolik dalam kolam sekitar 20 hari. Kolam sebaiknya dibagi menjadi tiga bagian, sehingga dalam masing-masing bagian organisme dapat tumbuh secara optimum dan proses perombakan berlangsung lebih cepat. Sistem kolam merupakan system pengolahan limbah cair sederhana yang tidak memerlukan peralatan mekanis, mudah dioperasikan dan tidak memerlukan biaya tinggi.

Kekurangan sistem ini adalah sangat tergantung pada cuaca, dan memerlukan lahan luas, serta berpotensi menimbulkan bau busuk terutama pada malam hari dimana suplai oksigen tidak mencukupi untuk proses aerobik. Selain itu, kolam juga dapat digunakan sebagai tempat berkembang biak nyamuk.


← Bagian Kedua Bagian Keempat →

Sanitasi Dan Pengolahan Limbah Pabrik Susu [2]


Sanitasi adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk menjaga kebersihan. Sanitasi dilakukan sebgai usaha mencegah penyakit atau kecelakaan dari konsumsi pangan yang diproduksi dengan cara menghilangkan atau mengendalikan faktor-faktor di dalam pengolahan pangan yang berperan dalam pemindahan bahaya (hazard) sejak penerimaan bahan baku, pengelolaan, pengemasan, penggudangan produk sampai produk akhir didistribusikan. Ada 5 tahapan standar yang biasanya digunakan untuk sanitasi, antara lain:

Pre Rinse
Pre rinse (langkah awal) merupakan satu tahap awal yang dilakukan sebagai persiapan untuk kegiatan pembersihan. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan tanah dan sisa makanan dengan cara mengikis, membilas atau menyemprot dengan air, menyedot kotoran dan lain-lain.

Pembersihan
Proses ini dilakukan untuk menghilangkan tanah atau sisa makanan dengan cara mekanis atau mencuci dengan lebih efektif. Pada tahap ini biasanya pembersihan dilakukan dengan menggunakan air dan deterjen, bahkan untuk noda-noda tertentu seperti minyak, dapat dibersihkan dengan menggunakan air hangat dan sabun.

Pembilasan
Pembilasan dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran yang mungkin masih tertinggal setelah proses pembersihan. Pembilasan yang efektif adalah dengan menggunakan air mengalir.

Desinfection
Pembersihan akhir dengan desinfektan sangat disarankan untuk menghilangkan bakteri yang mungkin masih bertahan pada proses pembersihan. Pembersihan ini biasanya dipadukan dengan pemanasan atau dengan bahan kimia seperti pemutih, namun beberapa desinfektan dapat juga mengkontaminasi makanan sehingga terkadang perlu dilakukan pembilasan kedua.

Drying
Pembilasan kering dilakukan agar tidak ada genangan air yang dapat menjadi tempat pertumbuhan mikroba. Pengeringan ini biasanya menggunakan evaporator atau dengan lap yang bersih.

Dalam upaya menciptakan kondisi sanitasi yang baik pada pengolahan makanan diperlukan beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Beberapa jenis bahan utama yang sering digunakan adalah bahan pembersih, sistem pembersihan, bahan sanitaiser, sanitasi peralatan dan sanitasi ruang.

BAHAN PEMBERSIH

Proses pembersihan dilakukan untuk menghilangkan sisa-sisa makanan, sumber zat gizi bagi pertumbuhan mikroorganisme.  Selain itu, proses pembersihan juga dapat menghilangkan sebagian besar populasi mikroorganisme, melalui kerja fisik dari pencucian dan pembilasan. Oleh karenanya, proses pembersihan harus dilakukan sedemikian rupa agar efektif dalam mengendalikan pertumbuhan mikroorganisme. Faktor-faktor yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan proses pembersihan adalah sifat permukaan yang kontak dengan sisa makanan. Permukaan benda yang tidak mudah ditembus misalkan baja anti karat (stainless steel) akan lebih mudah dibersihkan daripada permukaan yang berpori-pori, misalkan kayu.

Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap proses dan prosedur pembersihan adalah jenis sisa makanan yang harus dibersihkan. Sisa makanan yang banyak mengandung lemak dapat dibersihkan dengan bantuan air panas dan sabun, atau dengan menggunakan bahan pelarut lemak, misalkan alcohol dengan kadar 70%. Bahan berprotein dapat dibersihkan melalui proses peptidasi menggunakan bahan pengoksidasi semisal klorin. Pemahaman mengenai kesesuaian antara bahan pembersih dengan materi yang akan dibersihkan akan sangat membantu upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pembersihan.

Pada prinsipnya pemilihan bahan pembersih yang akan digunakan sangat tergantung pada beberapa faktor berikut:

  1. Jenis dan jumlah cemaran yang akan dibersihkan.
  2. Sifat bahan permukaan yang akan dibersihkan, misalnya alumunium, baja stainless, karet, plastik atau kayu.
  3. Sifat fisik senyawa bahan pembersih (zat padat atau cair).
  4. Metode pembersihan yang tersedia.
  5. Mutu air yang tersedia.
  6. Biaya.
Bahan pembersih yang baik memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Ekonomis,
  2. Tidak beracun,
  3. Tidak korosif,
  4. Tidak menggumpal dan tidak berdebu,
  5. Mudah diukur,
  6. Stabil selama penyimpanan, dan
  7. Mudah larut dengan sempurna.
Bahan pembersih yang sering digunakan dalam proses pembersihan antara lain pembersih alkali, pembersih asam, sabun dan deterjen.

Pembersih Alkali
Pembersih alkali terdiri dari alkali kuat, sedang dan lemah. Pembersih alkali kuat memiliki daya bersih dan kelarutan yang tinggi, namun sangat korosif, dapat menyebabkan kerusakan kulit dan mengikis logam atau bahan yang dicat. Bahan aktif yang terdapat dalam pembersih alkali kuat adalah natrium hidroksida (NaOH/kaustik soda) dan silikat. Jenis pembersih ini hanya digunakan untuk menghilangkan cemaran berat, misalnya yang terdapat dalam ruang pengasapan. Contoh bahan pembersih alkali kuat antara lain natrium metasilikat dan natrium ortosilikat.

Pembersih alkali lemah memiliki sifat korosif dan daya bersih yang lebih rendah, sehingga bahan-bahan ini lebih aman digunakan serta banyak dijumpai pada kebanyakan bahan pembersih. Bahan pembersih alkali ringan berbentuk cair banyak digunakan untuk membersihkan tangan yang tercemar ringan. Contoh bahan pembersih kelompok ini antara lain natrium karbonat, boraks, trinatrium karbonat. Senyawa-senyawa tersebut selain berfungsi sebagai pembersih juga dapat menurunkan kesadahan air dengan baik, tapi tak dapat digunakan untuk menghilangkan deposit mineral dalam air.

Pembersih Asam
Pembersih asam memiliki efektivitas yang lebih rendah dari pembersih alkali, terutama bila digunakan untuk membersihkan cemaran yang mengandung lemak, minyak atau protein. Pembersih alkali dapat memecah secara kimiawi ikatan dalam senyawa organik, sedangkan pembersih asam tidak memiliki kemampuan tersebut.

Senyawa pembersih asam efektif terutama untuk menghilangkan deposit mineral yang sering terbentuk sebagai akibat dari penggunaan pembersih alkali. Deposit mineral tersebut melekat pada permukaan logam dan tampak sebagai karat atau noda keputih-putihan. Penggunaan pembersih asam organik seperti sitrat, tartarat, sulfamat dan glukonat juga dapat melunakkan air dengan baik, mudah dibilas serta tidak korosif atau menimbulkan iritasi pada kulit.

Senyawa pembersih asam kuat dari asam anorganik memerlukan kehati-hatian dalam penggunaanya, karena asam jenis ini korosif terhadap beton, logam dan serat. Beberapa jenis asam apabila dipanaskan juga dapat menghasilkan gas yang korosif dan beracun, serta menyebabkan radang pada paru-paru.

Sabun
Secara kimiawi sabun ialah garam natrium (sodium) dari asam organik. Karena sifatnya yang tidak menyebabkan iritasi pada kulit, maka sabun banyak dimanfaatkan untuk membersihkan kulit.

Deterjen
Deterjen merupakan bahan pembersih mirip sabun, tetapi diperkaya dengan bahan-bahan yang dapat meningkatkan daya bersihnya. Fungsi deterjen dalam menghilangkan kotoran berminyak serupa dengan sabun, yaitu mengemulsi lemak, minyak atau gemuk (grease). Tetapi deterjen tidak menyebabkan penggumpalan seperti pada sabun. Deterjen sintetik disebut juga surfaktan (surface active agents), atau bahan pembasah (wetting agent), karena akan menurunkan tegangan permukaan larutan, membantu membasahkan partikel cemaran, memecahkan gumpalan partikel cemaran dan mensuspensikannya ke dalam cairan. Deterjen juga memiliki beberapa fungsi, antara lain:
  • Mendispersi atau memecah kotoran dan mensuspensikannya ke dalam larutan.
  • Melarutkan padatan dan mengemulsi cemaran cemaran minyak, sehingga   mudah dihilangkan.
  • Mensuspensikan kotoran yang tidak larut ke dalam larutan dan mencegah kotoran menempel kembali pada permukaan.
  • Beberapa deterjen mampu melunakkan air, sehingga efektivitas air sebagai pelarut meningkat.
Deterjen dikatakan ideal jika memenuhi persyaratan antara lain, mampu melunakkan air, tidak menyebabkan korosi pada permukaan logam, memiliki efek germisidal (mematikan bakteri) dan tidak mahal.

SISTEM PEMBERSIHAN

Pada dasarnya sistem pembersihan meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
  • Penghilangan kotoran atau cemaran kasar.
  • Pembersihan residu cemaran dengan deterjen atau bahan pembersih lainnya.
  • Pembilasan untuk menghilangkan cemaran dan deterjen.
Sistem pembersihan yang dipilih disesuaikan dengan kebutuhan, dan pada prakteknya jenis-jenis pembersihan yang umum dilakukan adalah sebagai berikut:

Pembersihan Manual
Pembersihan secara manual dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu seperti bahan penggosok mekanik, selang air, sikat, alat penggaruk, spons, atau alat penggosok lainnya. Pembersihan dengan metode ini umumnya diterapkan untuk membersihkan peralatan kecil, wadah-wadah makanan atau bagian-bagian kecil dari suatu peralatan seperti blender, chopper, mixer dan lain-lain.

Pembersihan dengan Busa
Sistem pembersihan dengan busa merupakan metode pembersihan secara mekanik yang paling banyak dipilih, karena aplikasi busa yang mudah dan cepat. Metode ini cocok diterapkan pada pembersihan ruangan maupun peralatan pengolahan berukuran besar. Cara kerja metode ini adalah dengan menyebarkan busa deterjen yang akan menempel pada permukaan benda yang dibersihkan. Busa mudah terlihat, sehingga kemungkinan duplikasi pekerjaan dapat dihindari. Aplikasi ini cukup karena 1 bagian cairan pembersih akan menghasilkan 10 bagian busa. Kontak antara busa dengan permukaan yang akan dibersihkan tergantung pada berat ringannya cemaran, tetapi biasanya antara 10-20 menit.
Pembersihan dengan busa efektif diterapkan untuk membersihkan permukaan yang luas. Teknik ini cocok diterapkan untuk membersihkan bagian dalam dan luar dari peralatan transportasi, langit-langit, dinding dan saluran pipa, belt/conveyor dan wadah-wadah penyimpanan.

Pembersihan Ultrasonik
Pembersihan ultrasonik ini memerlukan investasi yang lebih mahal dari metode pembersihan lainnya. Kelebihan metode ini yaitu sangat cocok untuk diterapkan pada peralatan-peralatan kecil, bagian kecil dari suatu peralatan atau benda-benda plastik yang sulit dibersihkan, atau yang akan rusak jika dibersihkan dengan metode konvensional.
Proses pembersihan dilakukan dengan merendam benda pada tangki berisi larutan deterjen bersuhu 60-70 ‘C. Generator ultrasonik akan mengubah listrik pusat menjadi energi listrik dengan frekuensi tinggi (30.000-40.000 siklus/detik), kemudian peralatan transduser akan mengubah energi ultrasonik menjadi vibrasi mekanik. Vibrasi tersebut akan menghasilkan jutaan gelembung-gelembung vakum mikroskopis dalam larutan deterjen yang akan berperan dalam pembersihan.

Pembersihan dengan Gel
Bahan pembersih yang digunakan dalam metode ini diaplikasikan dalam bentuk gel. Metode ini cocok untuk membersihkan peralatan pengemasan dalam suatu sistem yang bergerak.



← Bagian Pertama Bagian Ketiga →

Sanitasi Dan Pengolahan Limbah Pabrik Susu


Susu merupakan sumber protein dengan mutu yang sangat tinggi dan dilengkapi oleh asam-asam amino esensial yang dikandung. Disamping itu, susu juga mengandung mineral, fosfor dan kalsium serta vitamin A yang larut dalam susu. Karena kandungan gizi yang tinggi maka susu harus segera diolah atau diawetkan setelah pemerahan agar tidak mengalami kerusakan akibat mikroorganisme dan penurunan kandungan gizi. 

Oleh karena itu, diperlukan suatu teknologi pasca panen yang dapat meningkatkan daya simpan susu dan meningkatkan daya jual susu. Salah satu usaha dalam meningkatkan daya simpan dan daya jual susu adalah mengolahnya dalam beberapa bentuk produk makanan seperti es krim, susu pasteurisasi, stick susu, permen susu, yoghurt dan lain-lain.

Proses pengolahan susu bertujuan untuk memperoleh susu yang beraneka ragam, berkualitas tinggi, berkadar gizi tinggi, tahan simpan, mempermudah pemasaran dan transportasi, sekaligus meningkatkan nilai tukar dan daya guna bahan mentahnya. Proses pengolahan susu selalu berkembang sejalan dengan berkembangnya ilmu dibidang teknologi pangan. Dengan demikian semakin lama akan semakin banyak jenis produk susu yang dikenal. Hal ini merupakan langkah yang sangat tepat untuk mengimbangi laju permintaan pasar.

Sanitasi  industri adalah kegiatan yang sangat penting untuk dilkuakan dengan baik, agar makanan yang ditangani bersih dan higienis. kegiatan yang berkaitan dengan tindakan sanitasi yang dilakukan dalam lingkungan industri, yang berkaitan dengan pengolahan produk yang safety food atau dasar pemilihan produk makanan yang akan dikonsumsi seperti sanitasi dalam hal bahan baku, peralatan produksi, pekerja serta lingkungan. Bahan baku perlu mendapatkan sanitasi yang baik karena dalam bahan baku biasanya terjadi kontaminasi yang menyebabkan produk tidak hygienes. Jadi bahan sanitasi sangat diperlukan untuk safety food serta meningkatkan kualitas produk. Apabila kualitas produk rendah, maka permintaan konsumen juga rendah.

Kualitas lingkungan suatu industri sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain; fasilitas pelayanan, perlengkapan, peralatan yang menunjang terselenggaranya kesehatan fisik, kesehatan mental guna mencapai kesejahteraan karyawan dan kemajuan suatu industri. Mengingat hal tersebut, proses sanitasi  ini perlu dipelajari lebih dalam di pabrik susu yang berlokasi di desa Mortopura, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Hal ini merupakan salah satu kajian ilmu di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian yang beroperasi secara lancar dimana produksi dilaksanakan untuk persediaan di koperasi, outlet maupun partner dengan perusahaan lain yang masih berhubungan dengan pengolahan susu.




Bagian Kedua (belum tersedia) →

Penggunaan Mikro Organisme Lokal Sebagai Bahan Adiktif

 
Sektor pertanian di Indonesia merupakan sektor pembentuk PDB (Produk Domestik Bruto). Melalui kontribusi pada PDB tahun 2011 yang mencapai mencapai 14,72% yang kemudian pada tahun 2012 mengalami peningkatan menjadi 15,14% (BPS, 2012; 34). Salah satu subsektor pertanian adalah peternakan dengan produk yang di hasilkan seperti daging, telur dan susu. Meskipun daging bukan merupakan kebutuhan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia namun, untuk tahun 2013, kebutuhan daging sapi mencapai 550 ribu ton, sedangkan ketersediaan dalam negeri hanya sekitar 431ribu ton,artinya ada sekitar 133,6 ribu ton yang harus dipenuhi untuk menutupi kebutuhan daging dalam negeri. Pada sisi lain, laju pertumbuhan sapi nasional berdasarkan data sekunder yang tersedia dalam 30 tahun hanya 1,44 persen (BPS, 2009; 158). Pertumbuhan tersebut dinilai sangat lambat. Berdasarkan data jumlah sapi potong di Indonesia tahun 2005 sekitar 11 juta ekor yang tersebar di 30 provinsi. Pada tahun 2007 jumlah penduduk di Indonesia diatas 220 juta jiwa, artinya kebutuhan pasok daging sangat tinggi. Ketidakseimbangan antara pertumbuhan laju penduduk mengakibatkan tingginya tingkat permintaan terhadap daging sapi. Hal tersebut tidak diimbangi dengan laju pertumbuhan sapi potong di Indonesia.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan sebagai pakan ternak dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas limbah pertanian dan perkebunan melalui teknologi fermentasi atau penggunaan mikro organisme.

Saat ini tidak sedikit masyarakat yang menjadikan hijauan makanan ternak ini sebagai bahan pakan pokok bagi hewan ternak, mereka secara khusus menanam rumput ini. Memang hijauan makanan ternak ini dapat dikatakan salah satu kemudahan beternak sebab untuk merawat rumput ini tidak dibutuhkan perlakuan khusus. Umumnya semua rumput ini memiliki sifat rumput kebanyakan yakni sangat mudah tumbuh dimana saja bahkan tanpa adanya pemupukan sekalipun. Namun salah satu masalah yang umum dihadapi oleh peternak tradisional adalah rendahnya mutu pakan dengan kandungan serat kasar yang tinggi, berupa jerami, rumput lapangan dan berbagai jenis hijauan lainnya. Jenis pakan ternak tersebut sulit dicerna dan tidak dapat memberikan zat-zat nutrisi yang berimbang untuk mendukung produktivitas yang optimal, perlu adanya teknologi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas ternak yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas daging ternak.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengadaan pakan ternak ini melalui proses fermentasi dengan menggunakan mikroorganisme. Fermentasi adalah proses amoniasi, atau dalam bahasa sehari-harinya sering disebut dengan peragian atau pemeraman

Melalui teknik pakan fermentasi dengan menggunakan MOL, diharapkan kekurangan akan pakan hijauan disaat musim kemarau dapat diminimalisir dan pakan fermentasi ini dapat berperan langsung dalam penambahan nutrisi pakan sapi, sehingga sapi dapat tumbuh dan berkembang dan peternak bisa meminimalisir pengeluaran untuk pakan ternak, dan dapat memperbaiki produktifitas sapi di indonesia.

Anda dapat melihat dan mengunduh PKM GT -  Penggunaan Mikro Organisme Lokal Sebagai Bahan Adiktif Pada Limbah Pertanian Untuk Meningkatkan Produktifitas Hasil Ternak selengkapnya dengan menekan tombol download dibawah ini.


 

Berbagai Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit


Kelapa sawit terbukti memberikan peran yang nyata dalam pembangunan perekonomian, sosial, dan lingkungan di indonesia, peran tersebut terutama dalam hal penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan masyarakat, perolehan devisa bagi negara, mendukung industri dalam negeri berbasis bahan dasar kelapa sawit, pemanfaatan lahan kritis, sumber oksigen bagi kehidupan, dan menyerap karbon dari udara.

Luas areal kelapa sawit di indonesia tahun 2008 menurut Dirjenbun, diperkirakan mencapai 7,4 juta ha dan produksi Crude Palm Oil (CPO) mencapai 17,5 juta ton. Luas areal ini akan berkembang terus sejalan dengan kebijakan revitalisasi perkebunan, kelapa sawit bukan monopoli perusahaan skala besar milik pemerintas dan swasta, tetapi terbuka luas untuk diusahakan pekebun rakyat.

CPO berasal dari pengolahan tandan buah segar (TBS), setiap ton TBS yang diolah dapat menghasilkan 140-200 kg CPO dan limbah atau produk samping, antara lain:

- Limbah padat
- Limbah cair
- Gas

Limbah cair yang dihasilkan cukup banyak yaitu berkisar 600-700 kg, bilamana limbah atau probuk cair sampingan ini tidak diolah akan menimbulkan masalah berupa penumpukan limbah dan resiko cairan serta gas.

Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi informasi kepada pembaca tentang pemanfaatan limbah atau produk samping kelapa sawit yang dapat menyumbangkan manfaaat dan nilai ekonomis yang tinggi bagi pekebun dan pabrik.


POTENSI LIMBAH KELAPA SAWIT


Limbah kelapa sawit memiliki potensi untuk dimanfaatkan dan memberi nilai ekonomi dalam bidang pertanian dan industri yaitu : pupuk, kompos, kertas, arang, dll. Limbah kelapa sawit terdiri dari tandan kosong, pelepah, daun, serat buah, cangkang, limbah cair, dan gas. Pada tabel 1 disajikan jenis, potensi, dan manfaat limbah kelapa sawit.


Limbah kelapa sawit menghasilkan unsur hara makro yang diperlukan tanaman seperti nitrogen, posfor, kalium, magnesium, dan kalsium. Kandungan unsur hara atas dasar persen berat kering dari berbagai jenis limbah kelapa sawit disajikan dalam tabel 2.



PEMANFAATAN LIMBAH KELAPA SAWIT

A.Pemanfaatan limbah kelapa sawit untuk pertanian.

1.Pemanfaatan tandan kosong

Tandan kososng pada kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai mulsa, kompos dan pupuk organik, bokasi

a.Tandan kosong sebagai mulsa
Tandan kososng pada kelapa sawit berfungsi ganda yaitu menambah hara dan kandungan bahan organik yang diperlukan untuk sifat fisik tanah. Setiap ton tandan kososng mengandung unsur hara N,P,K, dan Mg secara berturut-turut setara dengan 3 kg urea, 0,6 kh CIRP, 12 kg MOP dan 2 kg Kieserit.

Penempatan tankos sebagai mulsa dapat dilakukan dengan menyusun selapis dipiringan pada jarak 50 cm dari pangkal batang. Melalui kegiatan mikroorganisme atau proses mineralisasi, unsur hara dalam tankos kembali kedalam tanah. Namun tidak seluruhnya hara dapat diserap oleh akar tanaman disebabkan beberapa hal yaitu:

- Unsur hara N termobilisasi atau digunakan mikroorganisme tanah untuk kelangsungan hidupnya, tercuci oleh air perkolasi kelapisan tanah yang lebih dalam.
- Unsur hara P termobilisasi dan berubah menjadi senyawa yang sukar larut
- Unsur K dan Mg tercuci oleh air perkolasi ke lapisan tanah yang lebih dalam


b.Tandan kosong sebagai kompos dan pupuk organik

Kompos merupakan limbah padat yang mengandung bahan organik, dan jika pelapukannya berlangsung dengan baik disebut pupuk organik. Sebelum melaksanakan pengomposan tankos bahan baku dirajang dengan ukuran 3-5 cm agar proses dekomposisi dapat dipercepat.

Penguraian bahan organik dapat berlangsung pada kelembapan lingkungan yaitu antara 50-60 %. Pertumbuhan mikroba membutuhkan nitrogen dan jika nisbah C/N dalam limbah terlalu besar berarti N tidak mencukupi dan mikroba akan menggunakan cadangan N yang tersapat dalam tanah dan tanah tempat pembuangan akan mengalami defisiensi N. jika nisbah C/N bernilai sekitar 20 akan terjadi pengomposan limbah atas kekurangan limbah sendiri tanpa mengganggu keseimbangan cadangan nitrogen setempat, pengomposan harus dikerjakan dengan nisbah antara 15-20.


c.Tandan kososng sebagai kompos bokasi

Bokasi merupakan hasil fermentasi bahan organik, tahapan pembuatan bahan organik dengan pembuatan bokasi dengan memanfaatkan limbah tandan kososng kelapa sawit adalah sebagai berikut:

- Tandan kosong kelapa sawit yang telah dirajang ditambah dengan dedak dan sekam padi lalu dicampur rata menjadi adonan
- Gula pasir, EM4, dan air dicampur lalu disiram perlahan – lahan ke adonan sampai kandungan air adonan mencapai 50%
- Adonan dibungkus lalu ditutup dengan plastik atau karung goni selama 4 hari
- Pertahankan suhu adonan 40-50 derajat C, jika adonan lebih dari 50 derajat C, didinginkan dengan cara dibuka karung lalu adonan dibalik – balik, kemudian ditutup lagi
- Adonan disimpan dalam ruang yang terbuka namun tidak boleh terneka matahari atau hujan.



2.Pemanfaatan pelepah untuk pakan ternak

Pelepah kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak dengan komposisi :

- Pelepah sawit 55%
- Rumput lapangan 30%
- Lumpur sawit / solid 15%

Limbah kelapa sawit seperti batang, buah, dan daun, berpotensi untuk diolah menjadi bahan-bahan yang bermanfaat dibidang pertanian dan bahan baku industri, pengolahan limbah ini memerlukan teknologi dan biaya yang besar sehingga diperlukan pemberdayaan SDM pekebun model kemitraan antara pekebun dan pabrik kelapa sawit (PKS)

Mesin penetas telur sistem rak putar


Mesin penetas telur sistem rak putar adalah generasi terbaru alat penetas telur kapasitas kecil yang bertujuan untuk mengoptimalkan efisiensi penetasan dengan teknik yang jauh lebih praktis dan mudah.

Asisten Direktur Maksindo Agrowindo, Yuli mengatakan mesin penetas yang dirancang telah memperhitungkan sudut penyinaran dan intensitas cahaya yang tepat dengan dilengkapi thermostat yang berkualitas sehingga mampu mengatur suhu penetasan yang stabil.

“Mesin tetas yang kita punya ini cukup menghemat energi, mudah diatur suhu penetasannya dan tidak menggunakan watt listrik yang terlalu tinggi. Mesin ini termasuk dalam tipe pemanasan yang terjadi di dalam ruang inkubator akibat perambatan panas dari lampu pijar pada bagian atas dan bawah,” terangnya.

Mesin penetas telur ini tingkat keberhasilan telur yang menetas bisa di atas 90%. Dengan cara tradisional biasanya di bawah 50%.

Sistem rak putar dalam mesin ini berfungsi agar kuning telur tidak menempel pada salah satu sisi kulit telur. Dengan menggunakan sistem rak putar seperti ini penetas tidak perlu membalik telur satu persatu tetapi cukup menggerakkan pegangan rak putar dari luar maka posisi kemiringan seluruh telur dalam mesin tetas sudah berubah.

Bahan yang digunakan adalah multiplex (kayu lapis) dan sebagai alternatif kami memakai MDF (medium Density Fiberboard) karena kedua bahan tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing sehingga anda dapat menilainya sendiri. Multiplex dengan lapisan vinil di samping ringan, kuat, awet juga tahan terhadap air, tidak mudah berubah dalam kondisi panas maupun dingin juga dapat menyimpan panas secara maksimal.

Dengan ukuran yang bervariasi mesin ini sangat cocok untuk sarana penunjang penelitian, pengaplikasian teknologi tepat guna bagi yang ingin memulai usaha mandiri, dan lain-lain.


“Seringkali kegagalan penetasan terjadi pada saat minggu ketiga, kondisi embrio sudah terbentuk sempurna tetapi tidak mampu untuk menetas. Hal seperti ini kebanyakan disebabkan karena penerimaan panas pada permukaan telur tidak merata,” tuturnya.

Keunggulannya antara lain :

* Menggunakan sistem rak putar, pemutaran semua telur hanya dengan sekali operasi (handling) tanpa membalik dengan tangan satu persatu
* Rak telur desain baru terbuat dari bahan full alumunium dengan ram profil “U” sangat baik dalam meratakan panas pada telur, tahan karat dan lebih higienis
* Efisiensi penetasan (daya tetas) tinggi, 70-80% dengan mengikuti petunjuk dan prosedur yang benar, bisa dibandingkan dengan mesin penetas telur jenis lain
* Pemanas darurat dengan pelat pemanas, cukup memakai lampu minyak kecuali untuk tipe C-500 dan C-1000
* Kontrol panas otomatis dengan thermostat yang dapat distel dari luar mesin, dengan fluktuasi suhu hanya 1ºF
* Dapat digunakan untuk berbagai jenis dan ukuran telur. Untuk telur itik dan ayam tidak perlu mengganti tray atau rak telur, sedang untuk telur puyuh, dara, perkutut, dan wallet perlu rak telur khusus
* Desain lebih indah dan artistik
* Harga yang murah dan terjangkau