Tampilkan postingan dengan label Kehutanan. Tampilkan semua postingan

Penyadapan Tanaman Karet



Karet merupakan salah satu jenis tanaman banyak diusahakan di daerah tropis seperti Indonesia. Berdasarkan data statistik Indonesia, karet memegang peranan yang penting bagi perekonomian karena sumbangan yang besar terhadap devisa Negara dan banyaknya tenaga kerja yang bekerja pada sektor perkebunan karet.

Meskipun hasil karet di Indonesia cukup tinggi bahkan menjadi pengekspor ketiga setelah Malaysia dan Thailand, namun kualitas karet Indonesia masih kurang baik terutama karet yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hasil karet adalah penyadapan.

Penyadapan pada dasarnya mengambil atau memanen hasil karet yang berupa getah atau lateks dengan cara melukai ( memotong atau menyobek ) pembuluh lateks yang ada di kulit tanaman karet sehingga lateks yang ada keluar. Pada dasarnya semua bagian tanaman karet mempunyai pembuluh lateks sehingga dapat menghasilkan lateks, tetapi karena bagian tanaman karet yang paling besar dan mudah dijangkau adalah batang pohon maka penyadapan hanya dilakukan pada kulit batang pohon karet saja. Dengan demikian maka batang pohon karet merupakan investasi yang penting karena dari batang pohon itulah akan diperoleh hasil.

Penyadapan dilakukan bukan untuk tujuan jangka pendek, tetapi untuk tujuan jangka panjang. Penyadapan dilakukan untuk mendapatkan hasil lateks dalam jumlah optimal dan tanaman mempunyai masa produktif yang lama. Untuk mencapai tujuan tersebut maka penyadapan harus dilakukan secara baik dengan memperhatikan berbagi aturan atau norma yang ada.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, tanaman karet sebaiknya mulai disadap pada umur 5 – 6 tahun dan mempunyai lilit batang 45 cm pada ketinggian 100 cm diatas permukaan tanah ( apabila tanaman berasal dari biji ) atau diatas pertautan okulasi / kaki gajah ( apabila tanaman berasal dari bibit okulasi ). Hal didasarkan pada umur tersebut jumlah pembuluh lateks sudah cukup banyak sehingga hasil yang diperoleh akan lebih banyak. 

Pada dasarnya penyadapan dapat dilakukan dengan beberapa metode, tetapi yang paling banyak dilakukan dengan menggunakan metode penyayatan karena hasil yang diperoleh cukup tinggi dan secara teknis mudah dilakukan. Aturan-aturan penyadapan tanaman karet meliputi ketinggian, arah dan kemiringan, panjang irisan, kedalaman, ketebalan dan waktu penyadapan serta penggunaan stimulansia.

Salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap banyaknya lateks yang diperoleh adalah waktu penyadapan karena berhubungan dengan tekanan turgor sel dan metode penyadapan. Dibawah ini kita anakan melakukan sebuah praktek dengan tujuan mengetahui metode dan memahami norma-norma penyadapan tanaman karet dan mengetahui pengaruh waktu penyadapan terhadap hasil lateks.

METODOLOGI

A. Bahan dan Alat
Bahan yang diperlukan adalah batang pohon karet, sedangkan alat yang diperlukan adalah pisau sadap, mistar / penggaris, sigmat, quadric atau paku, mal sadap, talang sadap, dan mangkuk sadap.

B. Metode
Penelitian ini dilakukan di green house dengan melakukan penyadapan pada waktu yang berbeda yaitu jam 06.00, 10.00 dan 14.00 dan dengan ketebalan 1,0 , 1,5 , 2,0 cm.

C. Cara kerja
  1. Siapkan / pilihlah sebuah batang pohon karet sepanjang 3 m dengan ketentuan sudah berumur minimal 5 tahun dan mempunyai diameter batang 45 cm pada ketinggian 100 cm.
  2. Ukuran diameter batang pohon karet tersebut menggunakan mistar dan bagilah menjadi dua bagian yang sama.
  3. Buatlah gambar bidang sadap dengan cara membuat torehan ke atas-bawah pada kulit batang pohon karet tersebut menggunakan quadric atau paku yang runcing sehingga terlihat gambar bidang sadapnya.
  4. Ukurlah titik sadap pembukaan ( sadap yang dilakukan pertama kalinya ) menggunakan mistar pada ketinggian 130 cm di atas tanah apabila tanaman berasal dari biji atau diatas pertautan okulasi apabila tanaman berasal dari bibit okulasi.
  5. Buatlah gambar kemiringan sadap menggunakan mal sadap dengan sudut 45° dari bidang horizontal.
  6. Buatlah gambar arah dan kemiringan sadap menggunakan quadric atau paku dengan cara menorah kulit batang pohon karet dari titik sadap pembukaan kea rah kanan bawah sepanjang setengah lingkaraan atau sampai garis torehan bidang sadap.
  7. Bersihkan kulit batang pohon tanaman karet dari berbagai kotoran yang dapat mengganggu proses penyadapan.
  8. Pasanglah talang sadap pada ujung bawah gambar bidang sadap ( di garis torehan bidang sadap ) serta mangkuk sadap 10-15 cm dibawah talang sadap.
  9. Lakukan penyadapan mulai dari titik sadap pembukaan dengan cara menyayat kulit batang pohon dengan menggunakan pisau sadap dengan kedalaman 0,5-1,0 dan 2,0 cm.
  10. Lakukan penyadapan tersebut pada waktu yang berbeda yaitu jam 06.00, 10.00 dan 14.00 dengan ketebalan 1,0 ; 1,5 dan 2,0 cm
  11. Amati dan hitung jumlah lateks yang keluar selama beberapa menit.
Pengamatan dan Analisis Data

Pengamatan dilakukan terhadap 2 perlakuan penggoresan kulit karet dengan ketebalan 1cm dan 2cm dengan 4x ulangan dengan berat lateks : ulangan 1 : 28,5 g, ulangan 2 : 24 g, ulangan 3 : 5,6 g, ulangan 4 : 13,7 g dan 2 cm dengan 4x ulangan dengan berat lateks : ulangan 1 : 27,9 g, ulangan 2 : 48,1 g, ulangan 3 : 8,2 g, ulangan 4 : 19 g

HASIL ANALISIS & PEMBAHASAN


Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan di green house penyadapan pada batang karet, goresan dilakukan dari kiri atas ke kanan bawah, sudut 45° dari datar. Apabila Kedalaman sadapan semakin dalam maka pembuluh akan terpotong banyak dan lateks semakin banyak.Apabila penyayatan terlalu dalam maka akan merusak kambium, rekomendasi penyayatan adalah : 0,5–1,0 mm dari kambium. 

Dalam praktikum yang dilaksanakan dilakukan penggoresan batang karet dengan ketebalan 1 cm dengan 4x ulangan dengan berat lateks : ulangan 1 : 28,5 g, ulangan 2 : 24 g, ulangan 3 : 5,6 g, ulangan 4 : 13,7 g dan 2 cm dengan 4x ulangan dengan berat lateks : ulangan 1 : 27,9 g, ulangan 2 : 48,1 g, ulangan 3 : 8,2 g, ulangan 4 : 19 g dengan waktu penyadapan pada siang hari, seharusnya waktu penyadapan yang baik adalah jam 5.00 – 7.30 pagi dengan dasar pemikirannya:
  1. Jumlah lateks yang keluar dan kecepatan aliran lateks dipengaruhi oleh tekanan turgor sel
  2. Tekanan turgor mencapai maksimum pada saat menjelang fajar, kemudian menurun bila hari semakin siang
  3. Pelaksanaan penyadapan dapat dilakukan dengan baik bila hari sudah cukup terang
Lateks adalah getah seperti susu dari banyak tumbuhan yang membeku ketika terkena udara. Ini merupakan emulsi kompleks yang mengandung protein, alkaloid, pati, gula, minyak, tanin, resin, dan gom. Pada banyak tumbuhan lateks biasanya berwarna putih, namun ada juga yang berwarna kuning, jingga, atau merah Untuk memperoleh hasil sadap yang baik, penyadapan harus mengikuti aturan tertentu agar diperoleh hasil yang tinggi, menguntungkan, serta berkesinambungan dengan tetap memperhatiakan faktor kesehatan tanaman agar tanaman dapat berproduksi secara optimal dan dalam waktu yang lama (Siregar, 1995). 

Dalam praktiknya untuk kelangsungan produksi, hal yang sangat mendasar adalah di dalam pemulihan bidang sadap. Agar bidang sadap dapat kembali pulih tentu ada yang dipelukan di dalam penyadapanya. Menghindari penggunaan Ethepon pada pohon yang kena kekeringan alur sadap adalah salah satu cara agar bidang sadap dapat kembali pulih dan pohon yang mengalami kekeringan alur sadap perlu diberikan pupuk ekstra untuk mempercepat pemulihan kulit (Santosa, 2007 )

KESIMPULAN
  1. Metode yang sering digunakan yaitu metode sadap sayat karena lebih mudah dalam pengaplikasiannya, Metode sadap sayat yaitu sadap yang dilakukan dengan mengiris / menyayat kulit batang sehingga pembuluh lateks terpotong. Norma – norma penyadapan juga harus diperhatikan karena dapat juga mempengaruhi kualitas dan jumlah lateks.
  2. Metode sadap sayat sangat berpengaruh terhadap jumlah lateks, dan waktu yang bagus untuk penyadapan yaitu pada pagi hari antara jam 5.00 – 7.30 pagi.
Seharusnya waktu penyadapan harus diperhatikan, karena waktu yang baik untuk menyadap adalah pada pagi hari, pada praktikum yang dilakukan pada siang hari sangat berpengaruh pada jumlah lateks yang dihasilkan.yaitu sangat sedikit jumlah lateks yang dihasilkan.

Pengawetan Air Menggunakan Bahan Organik



Kata “bahan Organik” atau biasanya disingkat dengan kata BO sering kita dengar bahkan ucapkan dalam kaitannya dengan masalah kehutanan. Bahan organik sendiri merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.

Bahan organik merupakan perekat butiran lepas dan sumber utama nitrogen, fosfor dan belerang. Bahan organik cenderung mampu meningkatkan jumlah air yang dapat ditahan di dalam tanah dan jumlah air yang tersedia pada tanaman. Akhirnya bahan organik merupakan sumber energi bagi jasad mikro. Tanpa bahan organik semua kegiatan biokimia akan terhenti (Doeswono, 1983). Pengaruh Bahan Organik pada Sifat Kimia Tanah

Meningkatkan daya jerap dan kapasitas tukar kation (KTK). Sekitar setengah dari kapasitas tukar kation (KTK) tanah berasal dari bahan organik. Bahan organik dapat meningkatkan kapasitas tukar kation dua sampai tiga puluh kali lebih besar daripada koloid mineral yang meliputi 30 sampai 90% dari tenaga jerap suatu tanah mineral. Peningkatan KTK akibat penambahan bahan organik dikarenakan pelapukan bahan organik akan menghasilkan humus (koloid organik) yang mempunyai permukaan dapat menahan unsur hara dan air sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian bahan organik dapat menyimpan pupuk dan air yang diberikan di dalam tanah. Peningkatan KTK menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur hara.

Bahan & Alat

  • Sampel tanah
  • Pupuk kandang
  • 3 paralon lengkap dengan tutupnya
  • 3 buah botol timbang
  • Oven
  • Timbangan analitik
  • Kain kassa

Cara Kerja

  • Siapkan 3 buah pipa paralon yang dasarnya telah ditutup kain kassa. Pipa pertama disiisi sampel tanah 3 kg, pipa ke-2 disi sampel tanah 3 kg + 350 g BO, sampel ke-3 tanah 3kg + 750 g BO.
  • Rendamlah ke-3 paralon kedala bak yang telah diisi air ke dalam bak sampai permukaan tanahnya terlihat basah , kemudian tiriskan sampai tidak ada lagi air yang menetes dari pipa. Tutup ke-3 pipa tersebut rapat-rapat dan simpanlah ditempat yang telah disediakan.
  • Lakukan pengamatan setiap 2 hari sekali, ukur kadar lengasnya
  • Buatlah grafik antara hasil pengamatan dari ketiga perlakuan

Hasil & Pembahasan



Pembahasan
Bahan organik berperan penting untuk menciptakan kesuburan tanah. Peranan bahan organik bagi tanah adalah dalam kaitannya dengan perubahan sifat-sifat tanah, yaitu sifat fisik, biologis, dan sifat kimia tanah. Bahan organik merupakan pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam pembentukan agregat tanah yang stabil. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada taranya. Melalui penambahan bahan organik, tanah yang tadinya berat menjadi berstruktur remah yang relatif lebih ringan. Pergerakan air secara vertikal atau infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat sehingga aliran permukaan dan erosi diperkecil. Demikian pula dengan aerasi tanah yang menjadi lebih baik karena ruang pori tanah (porositas) bertambah akibat terbentuknya agregat.

Bahan organik umumnya ditemukan dipermukaan tanah. Jumlahnya tidak besar, hanya sekitar 3-5% tetapi pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah besar sekali. Sekitar setengah dari kapasitas tukar kation berasal dari bahan organik. Ia merupakan sumber hara tanaman. Disamping itu bahan organik adalah sumber energi bagi sebagian besar organisme tanah. Dalam memainkan peranan tersebut bahan organik sangat ditentukan oleh sumber dan susunannya, oleh karena kelancaran dekomposisinya, serta hasil dari dekomposisi itu sendiri.

Pengaruh Bahan Organik pada Sifat Fisika Tanah
  • Meningkatkan kemampuan tanah menahan air. Hal ini dapat dikaitkan dengan sifat polaritas air yang bermuatan negatif dan positif yang selanjutnya berkaitan dengan partikel tanah dan bahan organik. Air tanah mempengaruhi mikroorganisme tanah dan tanaman di atasnya. Kadar air optimal bagi tanaman dan mikroorganisme adalah0,5bar/atmosfer.
  • Warna tanah menjadi coklat hingga hitam. Hal ini meningkatkan penyerapan energi radiasi matahari yang kemudian mempengaruhi suhu tanah.
  • Merangsang granulasi agregat dan memantapkannya
  • Menurunkan plastisitas, kohesi dan sifat buruk lainnya dari liat.

Salah satu peran bahan organik yaitu sebagai granulator, yaitu memperbaiki struktur tanah. Menurut Arsyad (1989) peranan bahan organik dalam pembentukan agregat yang stabil terjadi karena mudahnya tanah membentuk kompleks dengan bahan organik.Haiiniberlangsungmelaluimekanisme:
  • Penambahan bahan organik dapat meningkatkan populasi mikroorganisme tanah, diantaranya jamur dan cendawan, karena bahan organik digunakan oleh mikroorganisme tanah sebagai penyusun tubuh dan sumber energinya. Miselia atau hifa cendawan tersebut mampu menyatukan butir tanah menjadi agregat, sedangkan bakteri berfungsi seperti semen yang menyatukan agregat.
  • Peningkatan secara fisik butir-butir prima oleh miselia jamur dan aktinomisetes. Dengan cara ini pembentukan struktur tanpa adanya fraksi liat dapat terjadi dalam tanah.
  • Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan bagian-bagian pada senyawa organik yang berbentuk rantai panjang.
  • Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan antar bagian negatif liat dengan bagian negatif (karbosil) dari senyawa organik dengan perantara basa dan ikatan hidrogen.
  • Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan antara bagian negatif liat dan bagian positf dari senyawa organik berbentuk rantai polimer.

Pengaruh Bahan Organik pada Sifat Biologi Tanah
Jumlah dan aktivitas metabolik organisme tanah meningkat. Secara umum, pemberian bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme. Bahan organik merupakan sumber energi dan bahan makanan bagi mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Mikroorganisme tanah saling berinteraksi dengan kebutuhannya akan bahan organik karena bahan organik menyediakan karbon sebagai sumber energi untuk tumbuh.

Kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik meningkat. Bahan organik segar yang ditambahkan ke dalam tanah akan dicerna oleh berbagai jasad renik yang ada dalam tanah dan selanjutnya didekomposisisi jika faktor lingkungan mendukung terjadinya proses tersebut. Dekomposisi berarti perombakan yang dilakukan oleh sejumlah mikroorganisme (unsur biologi dalam tanah) dari senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana. Hasil dekomposisi berupa senyawa lebih stabil yang disebut humus. Makin banyak bahan organik maka makin banyak pula populasi jasad mikro dalam tanah.


Penyakit Karat Puru pada Sengon & Teknik Pengendaliannya


Saat ini Sengon banyak diusahakan di kawasan hutan tanaman, perkebunan maupun kebun-kebun milik rakyat di Pulau Jawa. Namun penanaman Sengon kurang berhasil karena pada tahun 2004 akhir tanaman tersebut terserang penyakit Karat Puru, yang sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1996 di Pulau Seram (Maluku). Berdasarkan informasiyang diperoleh Pusat Litbang Hutan Tanaman, ledakan serangan penyakit Karat Puru yang terjadi di Jawa Timur antara lain di Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, di beberapa kebun di lingkungan PT. Perkebunan Nusantara XII (Persero) yaitu UUS Kertowono (Kabupaten Lumajang), UUS Gunung Gumitir (Kabupaten Banyuwangi), UUS Jatirono dan UUS Malangsari (Kabupaten Banyuwangi), di Kabupaten Pacitan, di areal Perum Perhutani RPH Pandantoyo, BKPH Pare, KPH Kediri.

PENDAHULUAN

Penyakit karat puru pada sengon menunjukkan gejala yang khas, yaitu hiperplasia (pertumbuhan lebih) pada bagian tumbuhan yang terserang  Gejala penyakit diawali dengan adanya pembengkakan lokal (tumefaksi) di bagian tanaman yang terserang (daun, cabang, dan batang).Lama kelamaan pembengkakan berubah menjadi benjolan-benjolan yang kemudian menjadi bintil - bintil kecil atau disebut puru (gall). Puru yang timbul mempunyai bentuk bervariasi mulai bulat sampai tidak beraturan dengan diameter mulai dari beberapa milimeter sampai lebih besar dari 10 cm. Puru tersebut dapat berkelompok atau menyebar pada bagian yang terserang. Apabila yang terserang penyakit bagian tangkai daun majemuk atau tajuk maka bagian tersebut agak membengkok karena adanya penebalan dan pembengkakan kemudian tajuk daun menggulung berubah bentuk (malformasi) tanpa daun lagi 

Puru yang masih muda berwarna hijau kecoklat-coklatan yang diselimuti oleh lapisan seperti tepung berwarna agak kemerah-merahan yang merupakan kumpulan dari spora patogen, sedangkan puru yang tua berwarna coklat kemerah-merahan sampai hitam dan biasanya puru sudah keropos berlubang serta digunakan sebagai sarang semut atau serangga lainnya. Jika tanaman mengalami serangan yang parah, maka seluruh bagian tanaman dipenuhi oleh puru, kemudian daun mengering mengalami kerontokan, diikuti oleh batang dan cabang pohon dan akhirnya tanaman mati.

PEMBAHASAN

Penyebab penyakit karat puru pada sengon adalah fungi Uromycladium sp., masuk dalam kelas Basidiomycetes, ordo Uredinales, famili Pucciniceae dan genus Uromycladium. Menurut Old et al. (2000) hanya 2 jenis Uromycladium yang diketahui mengakibatkan pembentukan bintil-bintil dalam jumlah sangat besar pada tunas berkayu dan bagian-bagian lain dari pohon akasia dan albisia yang terserang yaitu U. notabile dan U. tepperianum. Hal ini dapat dibedakan dari morfologi teliospora yang dihasilkan secara seksual. Teliospora U.tepperianum mempunyai rabung-rabung yang radial disamping itu belum pernah ada uredospora aseksual yang dilaporkan untuk U.

Tepperianum. Franje et al. mengatakan bahwa penyakit karat puru yang menyerang Albisia di New Zealand disebabkan oleh Uromycladium mempunyai siklus hidup yang terdiri dari 3 tahap yaitu Piknial (0) Uredial (II) dan Telial (III). Teliospora tidak berkecambah tetapi infeksi dilakukan oleh uredospora. Semangun (1996) mengatakan bahwa bangsa Uredinales atau jamur karat umumnya dianggap parasit obligat dengan sifat:

Miselium mengandung tetes-tetes minyak yang berwarna kuning atau jingga, tumbuh interseluler dan mengambil makanan dari sel-sel dengan houstorium; 2) sepanjang daur hidupnya jamur karat dapat membentuk lima macam spora (pikniospora, aesiospora, uredospora, teliospora dan basidiospora); 3) teliospora tumbuh menjadi promiselium; 4) Pada jenis tertentu terdapat heterosisme (pembentukan bentuk-bentuk spora yang berbeda pada hospes yang berbeda).

PENANGGULANGAN

Pengendalian penyakit karat puru dapat dilakukan dengan cara mekanik, yaitu menghilangkan puru pada tanaman sengon yang terserang , puru dikumpulkan dan dikubur dalam tanah agar tidak menular .Setelah puru dihilangkan batang dilabur dan disemprot dengan bahan sebagai berikut :

  1. Kapur 1 kg dilarutkan dalam air 5 - 10 liter (untuk 50 pohon).
  2. Belerang 1 kg dilarutkan dalam air 5 - 10 liter (untuk 50 pohon).
  3. Kapur dicampur dengan belerang dengan perbandingan1:1 dilarutkan dalam air 5 - 10 liter (untuk 50 pohon).
  4. Kapur dicampur dengan garam dengan perbandingan10:1 dilarutkan dalam air 5 - 10 liter (untuk 50 pohon).
  5. Belerang dicampur garam dengan perbandingan 10 : 1 dilarutkan dalam air 5 - 10 liter (untuk 50 pohon).
Catatan :Bahan-bahan tersebut, untuk larutan labur lebih pekat dibandingkan dengan untuk semprot. Sebelum digunakan larutan yang akan disemprot terlebih dahulu disaring. Teknik pengendalian tersebut di atas telah diuji coba di perkebunan PT. Glenmore, Banyuwangi dan di RPH Pandantoyo, BKPH Pare, KPH Kediri. Berikut adalah gambaran dari keberhasilan penggunaan bahan tersebut di atas : sebelum dilakukan pembersihan puru pada tiap pohon, jumlah puru dihitung terlebih dahulu, barulah perlakuan dilaksanakan.

Perlakuan menggunakan bahan-bahan tersebut di atas dilakukan setiap 2 minggu sekali. Setelah 2 kali perlakuan maka dihitung jumlah puru yang tumbuh. Hasilnya adalah sebagai berikut (jumlah pohon uji masing-masing perlakuan 64 pohon) :

  • ŸPerlakuan belerang dapat menekan pertumbuhan puru sebesar 91,73% 
  • Perlakuan kapur dapat menekan pertumbuhan puru sebesar 94,32% 
  • ŸPerlakuan kapur : belerang (1:1) dapat menekan pertumbuhan puru sebesar sebesar 96,06%. 
  • ŸPerlakuan belerang : garam (10 : 1) dapat menekan pertumbuhan puru sebesar 93,45%. 
  • ŸPerlakuan kapur : garam (10 : 1) dapat menekan pertumbuhan puru sebesar 96,67.
Informasi harga bahan :

  • Kapur 10 kg = Rp. 10.000,-
  • Belerang 1 kg = Rp. 12.000,-
  • Garam 1 bungkus = Rp. 500,-

Perilaku Ramah Air, Spirit Menebar Manfaat


Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam hidup, namun seringkali terlewat begitu saja. Memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk menjadi kemanfaatan. Diawali motivasi dan niat yang kuat serta keikhlasan, agar kebaikan terasa ringan untuk dilakukan, tak lagi dirasa sebagai beban, memiliki semangat untuk senantiasa mengadakan perbaikan. Membiasakan dari hal-hal yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Ada yang menarik dari pembahasan mengenai Fikih Air pada Munas Tarjih Muhammadiyah beberapa waktu lalu. Bagian dari upaya mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata, menjadi rahmatan lil alamin yang sesungguhnya. Berikut hasil Munas Tarjih yang dikutip dari Web Sangpencerah:

Pada level individu dan keluarga perlu pembiasaan untuk membetulkan kran atau sambungan pipa di rumah, kantor, masjid atau pipa irigasi yang bocor. Kemudian tidak membiarkan anak bermain dengan kran atau selang air di halaman atau di kamar mandi dan tidak membiarkan kran air terus mengucur pada saat mencuci mobil atau sepeda motor, serta mematikan air bila tidak diperlukan. Juga membiasakan untuk mematikan kran ketika sedang menggosok gigi, mandi atau mencuci peralatan rumah tangga dengan sabun atau detergen. Mengganti ukuran kran dengan ukuran kecil sehingga tidak terlalu banyak mengeluarkan air. Menggunakan shower untuk kamar mandi. Sedapat mungkin tidak menggunakan kamar mandi yang banyak menggunakan air (semisal bath-up).

Demikian pula dalam berwudlu, hindari penggunaan air yang berlebihan. Menyisakan halaman rumah untuk resapan air hujan, dengan tidak menutup seluruh halaman rumah dengan pengerasan (aspal dan beton,) karena air hujan tidak akan bisa meresap ke dalam tanah untuk menambah cadangan air tanah. Arahkan kucuran air hujan dari atap rumah untuk dapat asuk ke sumur peresapan di halaman rumah, sehingga tidak langsung dibuang ke jalan atau selokan. Memilih tanaman hias, perkebunan atau tanaman pangan yang tidak rakus air. Siramilah tanaman di lahan pada waktu pagi atau sore hari pada waktu suhu udara tidak terlalu panas dan tiupan angin tak terlalu kencang, sehingga bisa mengurangi kehilangan air melalui evaporasi. Gunakan pupuk organik untuk tanaman daripada pupuk buatan. Pupuk organik disamping lebih sehat, lebih menghemat air untuk prosesnya. Sedangkan pupuk buatan (pupuk kimia/non-organik) prosesnya memerlukan air yang lebih banyak per kg berat pupuk, merusak tanah dan menjadi sumber polusi. Bila memungkinkan buatlah lubang-lubang pembuangan sampah organik di halaman rumah. Sampah organik akan bisa memperbaiki struktur tanah sehingga memudahkan air hujan meresap ke dalam tanah serta memperbaiki kesuburan tanah. Apabila di dalam rumah terdapat kolam renang, maka tutuplah kolam renang dengan penutup dari lembaran plastik pada saat tak digunakan, hal ini akan bisa menghambat penguapan air. Gunakan air kolam renang yang kotor untuk keperluan menyiram tanaman atau disalurkan ke kolam atau media lainnya sehingga tidak langsung terbuang.

Demikian pula tampungan air kucuran kran dan bekas air wudlu. Air ini masih bisa digunakan untuk menyiram tanaman atau untuk memelihara ikan di kolam dan keperluan lainnya. Gunakan peralatan dapur yang terbuat dari bahan alamiah (kayu, bambu, daun tanaman dan sebagainya) daripada menggunakan bahan yang terbuat dari plastik. Pilihan ini disamping lebih berwawasan lingkungan juga lebih sehat dan menghemat air. Bahan-bahan peralatan atau perlengkapan dapur dan perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari plastik memerlukan air yang cukup banyak per kg bahan dalam proses pembuatannya. Jika berbelanja ke pasar, supermarket atau ke toko, usahakan membawa keranjang atau tas belanja dari rumah utnuk mengurangi pemakaian tas plastik (tas kresek). Tas plastik dalam proses pembuatannya memerlukan banyak air dan tidak bisa didegradasi sehingga menjadi bahan polusi lingkungan. Pilihlah bahan makanan dan minuman yang proses pembuatannya tidak memerlukan banyak air untuk memprosesnya. Pilihlah untuk membuat jus buah sendiri daripada membeli jus buah siap saji. Cara ini disamping lebih sehat juga bisa menghemat air. Pada waktu mencuci pakaian (pakai tangan atau pakai mesin cuci) atau peralatan dapur, pilihlah detergen yang ringan dan ramah lingkungan, sehingga tidak memerlukan banyak air untuk membilas. Untuk membilas detergen kuat, diperlukan lebih banyak air dibandingkan dengan detergen ringan. Hindari tumpahnya minyak (goreng atau minyak lain) ke dalam tampungan atau sumber air. Hal ini karena untuk memurnikan atau membilasnya memerlukan banyak air.

Pada level masyarakat, kegiatan pengelolaan air berbasis masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. Tingginya tingkat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ini, diharapkan menjadikan daerah tangkapan hujan di hulu semakin berfungsi sebagai hutan lindung yang bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat. Wilayah hulu semakin produktif dengan basis jasa lingkungan wilayah hilir dan kawasan perkotaan terbebas dari ancaman daya rusak air, antara lain bencana banjir dan kekeringan. Melakukan sistem pengolahan limbah domestik di kawasan permukiman sehingga dapat menjaga kualitas air. Misalnya, pengolahan limbah domestik cair dan sampah untuk kompos. Juga bisa melalui teknologi tepat guna untuk membuat air berkualitas sesuai baku mutu untuk keperluan air minum penduduk di kawasan lingkungan dengan kualitas air rendah. Melakukan upaya penampungan air hujan (Rainwater Harvesting/RWH) untuk irigasi, mencuci, bilasan toilet, peternakan, dll. Upaya ini bisa melalui penggunaan ember atau lainnya. Melakukan irigasi tetes atau sprinkler atau alur yang lebih hemat air daripada cara irigasi dengan penggenangan (basin). Mewujudkan gerakan “Shadaqah Air” bagi masyarakat yang minus air, secara langsung atau melalui penggalangan dana untuk pembuatan saluran air bersih.

Pada level dunia usaha, perlunya sinergitas pelestarian air antara dunia usaha dan masyarakat melalui CSR (Corporate Social Responsibility). Mewujudkan usaha-usaha produktif yang berbasis pada penghematan air. Menciptakan lingkungan kerja yang ramah air melalui edukasi, ceramah, kampanye pelestarian lingkungan, poster, cek rutin sarana air serta audit lingkungan sekitar perusahaan.

Pada level pemerintah perlunya kontrol pelestarian air dan lingkungan sesuai aturan yang berlaku. Upaya penegakan hukum (law inforcement) terhadap perusahaan atau warga yang tidak ramah air dan lingkungan. Upaya membangun sinergitas pengelolaan sumberdaya air antar sektor dan wilayah pemerintahan setempat. Pengembangan sistem pembiayaan pengelolaan air sesuai prinsip cost recovery maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat yang ada.


★ Source: Muhamad Fauzi | Perilaku Ramah Air, Spirit Menebar Manfaat

Kementan: Suarakan ‘Stop Konversi Lahan, Sekarang Juga'


Kementerian Pertanian pada kesempatan partisipasi di Pameran Pekan Lingkungan Indonesia ke 18 Tahun 2014 yang dilaksanakan di Hall B, Jakarta Convention Center sejak 29 Mei s/d 1 Juni 2014 menyuarakan ‘Stop Konversi Lahan, sekarang juga’ melalui poster yang terpasang di stand terintegrasi Kementerian Pertanian. Upaya stop konversi lahan tentunya tidak dapat sendiri disuarakan oleh Kementerian Pertanian, tentunya harus juga disuarakan oleh Kementerian terkait lainnya (30/5).

PLI ke-18 Tahun 2014 kali ini mengusung tema "Satukan Langkah, Lindungi Ekosistem Pesisir dari Dampak Perubahan Iklim," dimaksudkan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat atas pentingnya perlindungan ekosistem pesisir dan dampak perubahan iklim dalam rangka ketahanan lingkungan. Tema tersebut selaras dengan tema World Environment Day 2014 yang diperingati setiap 5 Juni yang dikeluarkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP) yaitu "Raise Your Voice, Not the Sea Level". Terkait dengan hal tersebut Kementerian Pertanian mengusung tema ‘Satukan langkah Lindungi ekosistem Pertanian dari Perubahan Iklim.’ Sehingga dalam rangka melindungi ekosistem pertanian, akan sangat relevan apabila Pemerintah secara kompak memperhatikan upaya konversi lahan yang sinkron dengan semua bidang terkait.

Dalam kesempatan pembukaan, Deputi I Menkokesra Bidang Koordinasi Lingkungan dan Kerawanan Sosial, Ilyas Asaad, menyampaikan “Wilayah pesisir menjadi wilayah yang paling rentan terhadap perubahan iklim yang dapat berdampak buruk bagi ekosistem laut.” Tema yang diangkat juga menunjukkan perhatian besar atas ekosistem laut yang kaya akan sumberdaya hayati. Upaya perlindungan dan perbaikan lingkungan hidup yang pro-lingkungan, harus dari semua kalangan baik swasta maupun pemerintah.

Dibutuhkan kerja proaktif dalam memanfaatkan dan demi keberlanjutan fungsi lingkungan. Upaya yang dapat dilakukan dengan mengurangi jejak karbon dan bersama-sama menjaga lingkungan hidup dengan terus digerakkan sampai upaya nyata di lapangan. Dengan perubahan perilaku dan gaya hidup yang mendukung gerakan Indonesia bersih dengan komitmen, diri sendiri, keluarga, kota/desa, yang mendukung zero waste.

Materi terkait dengan tema tersebut Badan Litbang Pertanian menampilkan Pupuk organik curah, rhizoplus, pupuk organik granul, beta pupuk organik dan pembenah tabah, SMART pupuk hayati untuk padi, potensida, tithoganic, pupuk hayati kemiri sunan, pupuk hayati, briket kemiri sunan, kernel kemiri sunan 2, 1, minyak kasar kemiri sunan 1, gliserol kemiri sunan, bioaditif bensin dan solar, biodiesel kemiri sunan, biji kemiri sunan 1, biji kemiri sunan 2, PUTS, PUTK, PUTR, PUTP, leaflet, dryland, prosiding teknologi pemupukan lahan terdegradasi, lahan rawa, poster MES-V, poster ATECU (Biopestisida untuk pengendalian OPT Penting pada Tanaman Cabai), Video model pertanian ramah lingkungan dan budidaya sayuran dengan vertigasi yang banyak diminati pengunjung.


Teknologi Konservasi Guna Mencegah Terjadinya Degradasi Lahan (Bag.3)

Melanjutkan artikel kemarin masih mengenai pencegahan terjadinya degradasi lahan, pada artikel sebelumnya kita sudah membahas tentang latar belakang dan penyebab-penyebab terjadinya degradasi lahan, maka pada artikel kali ini kan membahas solusi dari dua artikel kami yang terdahulu beserta kesimpulannya. jika anda belum membaca artikel tersebut silahkan klik link dibawah.
Konservasi lahan atau lingkungan merupakan suatu cara untuk memperbaiki kondisi lahan atau lingkungan untuk mencegah terjadinya degradasi lahan yang semakin parah. Banyak cara yang bisa kita terapkan untuk mencegah terjadinya degradasi lahan yang semakin parah. Pada bagian atas makalah ini kami telah menjelaskan dan memaparkan beberapa hal yang bisa menyebabkan terjadinya degradasi lahan pertanian di Indonesia. Dibawah ini kami akan memberikan beberapa solusi teknik konservasi yang berhasil kami himpun dari beberapa sumber.

Reboisasi
Langkah ini sangat cocok untuk mencegah degradasi lahan, terutama pada lahan miring dan daerah aliran sungai baik di hulu maupun hilir. Dengan mengembalikan fungsi hutan alami pada lahan miring dan daerah aliran sungai dapat mencegah terjadinya erosi yang lebih parah lagi. Dengan rusaknya hutan pada daerah ini tingkat kesuburan tanah menjadi berkurang, apabila tanah mulai mengalami produktivitasnya maka akan berakibat kerusakan habitat yang ada didalamnya, apabila habitat ini telah rusak maka keberlangsungan hidup habitat yang disangganya akan turut terancam.
Penggunaan Pupuk Organik
Revolusi hijau yang terjadi dimasa lalu memang membawa perubahan besar pada pertanian di Indonesia. Tetapi selain membawa dampak positif revolusi ijau ini juga membawa dampak negatif dan itu baru dirasakan pada saat sekarang ini. Penggunaan pupuk kimia memang dapat menghasilkan hasil panen yang besar, tetapi bahan dari pupuk kimia ini dapat merusak kondisi tingkat kesuburan tanah, dan itu sedang dirasakan oleh petani kita pada saat sekarang ini. Untuk dapat mengembalikan tingkat kesuburan tanah, pada saat sekarang ini sudah banyak digiatkan untuk pemakaian pupuk organik.
Pembuatan Bak limbah Untuk Pabrik Pusat Industri
Banyak limbah buangan pabrik-pabrik yang beroperasi di Indonesia merusak lahan pertanian maupun sumber air di indonesia. Hal ini bisa terjadi karena berbagai macam faktor, mulai dari faktor kebocoran bak penampungan limbah sampai faktor kelalaian dari pihak operasional pabri-pabrik itu sendiri. Maka dari itu pembuatan bak limbah untuk menampung limbah hasil olahan produksi sangatlah penting.
Penerapan Sistem Rotasi Pada Penanaman Lahan Pertanian
Melakukan sistem rotasi pada saat bercocok tanam sangatlah penting, hal ini apabila dilakukan dapat mencegah terjadinya kemerosotan hara tanah yang terlalu besar. Disamping itu, pola tanam seperti ini dapat mencegah serangan hama secara permanen.
Masalah degradasi lahan di Indonesia harus kita pikirkan dan kita hadapi bersama, jika kita ingin menjadi pewaris yang baik untuk anak cucu kita dimasa yang akan datang. Masalah ini sudah tidak bisa dipandang sebelah mata lagi, karena kita sudah banyak melihat dampaknya pada pertanian kita. Mulai dari menurunnya hasil produktivitas pertanian kita, menurunnya tingkat kesuburan tanah, sampai juga berakibat pada menurunnya taraf hidup petani-petani indonesia.
 
Masalah degradasi lahan dan lingkungan yang sekarang kita hadapi bukanlah sebab alami dari alam itu sendiri, melainkan dari ulah manusia yang tidak lagi peduli akan kelestarian alam tempat dimana ia tinggal. Meskipun benyak teknologi yang telah kita terapkan, tetapi jika keinginan dari manusia itu sendiri tidak ada maka tidak akan membawa dampak yang positif bagi perubahan alam, lahan, serta lingkungan kita.

Untuk itu kami menuliskan artikel ini agar kita semua ketahui bahwa masalah yang sedang kita hadapi sangatlah berat dan itu menjadi beban kita bersama. Untuk itu kritik dan sarannya sangatlah kami butuhkan agar makalah ini dapat diterima dengan baik oleh semua kalangan. Jika ada pertanyaan ataun kritik/saran silahkan tinggalkan jejaknya pada kolom komentar dibawah.(RIJ)

Teknologi Konservasi Guna Mencegah Terjadinya Degradasi Lahan (Bag.2)

Meneruskan bagian pertama dari artikel kami kemarin yang bisa anda baca disini, tema bahasan kami kali ini akan mengupas sebab-sebab terjadinya degradasi pada lahan beserta penjelasannya. langsung saja simak ulasannya dibawah ini.

Sebab-Sebab Terjadinya Degradasi Lahan 
Suatu lahan dapat terdegradasi secara alami maupun secara buatan atau karena ulah manusia itu sendiri, degradasi lahan secara alami sebetulnya sulit diamati dalam waktu yang singkat, sebab prosesnya terlalu lama. Degradasi semacam ini, alam mempunyai kemampuan “mengobati” lukanya sendiri, walaupun dalam jangka waktu yang lama. Sebagai contoh proses pelapukan di mana proses ini menyebabkan terjadinya perubahan bentuk permukaan bumi. Berikut ini merupakan beberapa faktor penyebab degradasi lahan baik secara alami maupun karena ulah manusia itu sendiri;

Erosi
Erosi merupakan salah satu penyebeb dari terdegradasinya suatu lahan pertanian, biasanya lahan yang mengalami erosi adalah lahan yang berada pada daerah aliran sungai atau daerah hulu maupun daerah yang berada pada lereng-lereng pegunungan. Perubahan penggunaan lahan miring dari vegetasi permanen (hutan) menjadi lahan pertanian intensif menyebabkan tanah menjadi lebih mudah terdegradasi oleh erosi tanah. Akibat degradasi oleh erosi ini dapat dirasakan dengan semakin meluasnya lahan kritis. Praktek penebangan dan perusakan hutan (deforesterisasi) merupakan penyebab utama terjadinya erosi di kawasan daerah aliran sungai (DAS).
Sebagai contoh, pada tahun 2000 banyak terjadi deforesterisasi atau penebangan hutan liar baik di hutan produksi ataupun dihutan rakyat, yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan dan lahan. Pada tahun 2000, kerusakan hutan dan lahan di Indonesia mencapai 56,98 juta ha, sedangkan tahun 2002 mengindikasikan berkembang menjadi 94,17 juta ha, atau meningkat 65,5 % selama 2 tahun. Kerusakan yang disebabkan erosi tidak hanya dirasakan dibagian hulu (on site) saja, akan tetapi juga berpengaruh dibagian hilir (off site) dari suatu DAS. Kerusakan di hulu menyebabkan penurunan kesuburan tanah dan berpengaruh terhadap kemunduran produktivitas tanah atau meluasnya lahan kritis. Dibagian hilir kerusakan diakibatkan oleh sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan saluran air dan sungai dan berakibat terjadinya banjir dimusim penghujan, dan terjadi kekeringan di musim kemarau.

Pencemaran Agrokimia
Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan dilingkungan pertanian dapat disebabkan karena penggunaan agrokimia (pupuk dan pestisida) yang tidak proporsional. Pada tahun enampuluhan terjadilah biorevolusi dibidang pertanian, yang dikenal dengan revolusi hijau dan telah berhasil merubah pola pertanian dunia secara spektakuler, yaitu dengan dikenalkannya penggunaan agrokimia, baik berupa pupuk kimia maupun obat-obatan (insektisida). Memang dengan revolusi hijau tersebut, produksi pangan dunia meningkat dengan tajam, sehingga telah berhasil mengatasi kekhawatiran dunia akan adanya krisis pangan. Namun dampak penggunaan agrokimia mulai dirasakan saat ini. Dampak negatip dari penggunaan agrokimia antara lain berupa pencemaran air, tanah, dan hasil pertanian, gangguan kesehatan petani, menurunya keanekaragaman hayati, ketidak berdayaan petani dalam pengadaan bibit, pupuk kimia dan dalam menentukan komoditas yang akan ditanam.
Penggunaan pestisida yang berlebih dalam kurun yang panjang, akan berdampak pada kehidupan dan keberadaan musuh alami hama dan penyakit, dan juga berdampak pada kehidupan biota tanah. Hal ini menyebabkan terjadinya ledakan hama penyakit dan degradasi biota tanah. Perlu difikirkan pada saat ini residu pestisida akan menjadi faktor penentu daya saing produk-produk pertanian yang akan memasuki pasar global. Penggunaan pupuk kimia yang berkonsentrasi tinggi dan dengan dosis yang tinggi dalam kurun waktu yang panjang menyebabkan terjadinya kemerosotan kesuburan tanah karena terjadi ketimpangan hara atau kekurangan hara lain, dan semakin merosotnya kandungan bahan organik tanah. Misalnya petani menggunakan urea (hanya mengandung hara N) dalam dosis tinggi secara terus menerus, sementara tanaman mengambil unsur hara tidak hanya N (nitrogen) dalam jumlah yang banyak, maka akan terjadi pengurasan hara lainnya. Unsur hara pokok yang dibutuhkan tanaman semuanya ada 16 unsur, sehingga apabila tidak ditambahkan akan terjadi pengurasan hara lainnya (15 hara) dan pada saatnya akan terjadi kemerosotan kesuburan karena terjadi kekurangan hara lain.

Pencemaran Industri
Pencemaran dan kerusakan lingkungan di lingkungan pertanian dapat juga disebabkan karena kegiatan industri. Pengembangan sektor industri akan berpotensi menimbulkan dampak negatip terhadap lingkungan pertanian kita, dikarenakan adanya limbah cair, gas dan padatan yang asing bagi lingkungan pertanian. 
Dampak yang ditimbulkan dapat berupa gas buang seperti belerang dioksida (SO2) akan menyebabkan terjadinya hujan asam dan akan merusak lahan pertanian. Disamping itu, adanya limbah cair dengan kandungan logam berat beracun (Pb, Ni, Cd, Hg) akan menyebabkan degradasi lahan pertanian dan terjadinya pencemaran dakhil. Limbah cair ini apa bila masuk ke badan air pengairan, dampak negatifnya akan meluas ke lahan pertanian yang diairi oleh sistem pertanian yang tercemar limbah cair tersebut.

Pertambangan dan Galian C
Usaha pertambangan besar sering dilakukan diatas lahan yang subur atau hutan yang permanen. Dampak negatif pertambangan dapat berupa rusaknya permukaan bekas penambangan yang tidak teratur, hilangnya lapisan tanah yang subur, dan sisa ekstraksi (tailing) yang akan berpengaruh pada reaksi tanah dan komposisi tanah. Sisa ektraksi ini bisa bereaksi sangat asam atau sangat basa, sehingga akan berpengaruh pada degradasi kesuburan tanah. 
Semakin meningkatnya kebutuhan akan bahan bangunan terutama batu bata dan genteng, akan menyebabkan kebutuhan tanah galian juga semakin banyak (galian C). Tanah untuk pembuatan batu bata dan genteng lebih cocok pada tanah tanah yang subur yang produktif. Dengan dipicu dari rendahnya tingkat keuntungan berusaha tani dan besarnya resiko kegagalan, menyebabkan lahan-lahan pertanian banyak digunakan untuk pembuatan batu bata, genteng dan tembikar. Penggalian tanah sawah untuk galian C disamping akan merusak tata air pengairan (irigasi dan drainase) juga akan terjadi kehilangan lapisan tanah bagian atas (top soil) yang relatif lebih subur, dan meninggalkan lapisan tanah bawahan (sub soil) yang kurang subur, sehingga lahan sawah akan menjadi tidak produktif.

Alih Fungsi Lahan
Konversi lahan pertanian yang semakin meningkat akhir-akhir ini merupakan salah satu ancaman terhadap keberlanjutan pertanian. Salah satu pemicu alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan lain adalah rendahnya isentif bagi petani dalam berusaha tani dan tingkat keuntungan berusahatani relatif rendah. Selain itu, usaha pertanian dihadapkan pada berbagai masalah yang sulit diprediksi dan mahalnya biaya pengendalian seperti cuaca, hama dan penyakit, tidak tersedianya sarana produksi dan pemasaran. 
Alih fungsi lahan banyak terjadi justru pada lahan pertanian yang mempunyai produktivitas tinggi menjadi lahan non-pertanian. Dilaporkan dalam periode tahun 1981-1999, sekitar 30% (sekitar satu juta ha) lahan sawah di pulau Jawa, dan sekitar 17% (0,6 juta ha) di luar pulau Jawa telah menyusut dan beralih ke non-pertanian, terutama ke areal industri dan perumahan.

bersambung ke bagian 3

Teknologi Konservasi Guna Mencegah Terjadinya Degradasi Lahan (Bag.1)



Pada saat sekarang ini lahan di Indonesia sudah mengalami banyak sekali penurunan atau yang sering disebut dengan degradasi lahan. Maka dari itu banyak orang atau para ilmuan mulai mencari solusi ataupun teknologi yang bisa diterapkan untuk memperbaiki lahan-lahan yeng terdegradasi tersebut. Degradasi lahan ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari ulah tangan manusia itu sendiri maupun terdegradasi secara alami, pengelolaan dan pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan azas keseimbangan dan kelestarian dapat menjadi sebab dari terdegradasinya suatu lahan. 

Jika kita lihat lahan pertanian didaerah indonesia khusunya didaerah pedesaan banyak mengalami penurunan kualitas dari lahan itu sendiri, hal ini dapat terjadi akibat dari penggunaan pestisida, pemupukan, atau penggunaan lahan dengan satu jenis penggunaan secara terus menerus untuk beberapa musim. Padahal kita tetap ingin mempertahankan prestasi membanggakan yakni swasembada beras yang telah susah payah kita capai. Maka dari itu, untuk tetap bisa mempertahankan prestasi tersebut kita harus bisa menjegah penurunan kualitas lahan tersebut secara terus-menerus. Disamping itu degradasi lahan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain yakni erosifitas hujan, erodibilitas tanah, faktor konservasi (vegetasi dan pengelolaan), bentuk lahan (lereng), dan kehidupan (Departemen Kehutanan, 1986).

Kita sadari bahwa kegiatan pembangunan disamping akan menghasilkan manfaat juga akan membawa resiko (dampak negatip). Keduanya harus diperhitungkan secara seimbang. Dampak negatip harus kita hilangkan atau kita tekan menjadi seminim mungkin. Kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap degradasi lahan antara lain kegiatan deforesterisasi, industri, pertambangan, perumahan, dan kegiatan pertanian sendiri. Apabila kegiatan tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan mengakibatkan terjadinya degradasi lahan pertanian yang mengancam keberlanjutan uasaha tani dan ketahanan pangan. Oleh karenanya, dalam kegiatan pembangunan hendaknya harus dipikirkan keberlanjutannya dimasa mendatang (sustainabilitas).

Dua faktor penting dalam usaha pertanian yang potensial menimbulkan dampak pada sumberdaya lahan, yaitu tanaman dan manusia (sosio kultural) yang menjalankan pertanian. Diantara kedua faktor, faktor manusialah yang berpotensi berdampak positip atau negatip pada lahan, tergantung cara menjalankan pertaniannya. Apabila dalam menjalankan pertaniannya benar maka akan berdampak positip, namun apabila cara menjalankan pertaniannya salah maka akan berdampak negatif. Kegiatan menjalankan pertanian atau cara budidaya pertanian yang menimbulkan dampak antara lain meliputi kegiatan pengolahan tanah, penggunaan sarana produksi yang tidak ramah lingkungan (pupuk dan insektisida) serta sistem budidaya termasuk pola tanam yang mereka gunakan.

Pembangunan pertanian konvensional yang telah kita lakukan masa lalu nampaknya belum menjamin keberlanjutan program pembangunan pertanian. Kita berevaluasi diri, setelah lebih dari 30 tahun menerapkan pembangunan pertanian nasional kita menghadapi beberapa indikator yang memprihatinkan :
  1. Tingkat produktivitas lahan menurun
  2. Tingkat kesuburan lahan merosot
  3. Konversi lahan pertanian semakin meningkat
  4. Luas dan kualitas lahan kritis semakin meluas
  5. Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan pertanian meningkat
  6. Daya dukung lingkungan merosot
  7. Tingkat pengangguran di pedesaan meningkat
  8. Daya tukar petani berkurang
  9. Penghasilan dan kesejahteraan keluarga petani menurun
  10. Kesenjangan antar kelompok masyarakat meningkat.
Dari evaluasi singkat diatas degradasi lahan yang berupa penurunan daya dukung lahan dan pencemaran lahan pertanian nampaknya menjadi ancaman yang serius yang harus perlu kita pikirkan cara penanganannya. Kenapa semua ini bisa terjadi?, Apa penyebab terjadinya degradasi lahan?, lanjutan dari artikel 'Teknologi Konservasi Guna Mencegah Terjadinya Degradasi Lahan'  akan kami posting besok pada jam yang sama.

PS: Silahkan tinggalkan saran ataupun kritik anda pada kolom komentar dibawah.

Tips Ringan untuk Pecinta Lingkungan

Reboisasi di Bukit Panderman
Bagi penggiat alam bebas dan pecinta lingkungan, “reboisasi” sudah merupakan hal yang umum dan bahkan kita sendiri sering ikut berpartisipasi. Pada saat pelaksanaan kegiatan, terkadang kita larut dalam suasana menyenangkan di alam bebas. Akan tetapi pada saat pulang kerumah mungkin ada terbesit beberapa pikiran dan kekhawatiran…..,

“Apakah tanaman yang saya tanam tadi tumbuh ...? Jangan-jangan besok sudah mati karena layu dan sebagainya ...?“

Perlu diketahui bahwa kegiatan reboisasi mungkin sering dipandang sebagai kegiatan yang cukup simpel namun bermanfaat, padahal jika dikaji, reboisasi merupakan kegiatan yang rumit dimana ada proses pengangkutan (dari tempat pembibitan ke lokasi reboisasi), adaptasi tanaman, kondisi lingkungan, dll.

Untuk memastikan tanaman yang kita tanam bisa tumbuh dengan baik, maka kita perlu membahas beberapa aspek diantaranya :

1. Kondisi Tanaman
Perlu diketahui bahwa disetiap kegiatan reboisasi, hampir 80% bibit yang ada merupakan bibit yang didatangkan dari tempat pembibitan (membeli dari petani lokal), hal ini tentunya melibatkan aspek transportasi dari tempat pembibitan ke lokasi reboisasi. Proses pemindahan tanaman yang terkadang bisa memakan waktu sampai berjam-jam ini dapat memicu stress pada tanaman, yang akibatnya adalah ketahanan tanaman saat ditanam menjadi berkurang, sehingga pada proses penanaman, tanaman tersebut lebih cepat layu. Akan menjadi hal yang sia-sia jika memanam tanaman dalam kondisi tersebut karena kemungkinan kematian akan lebih besar.

Tips untuk mengatasi masalah ini adalah adaptasi tanaman. Diharapkan, panitia reboisasi dapat mengambil langkah bijak dengan mendatangkan tanaman-tanaman tersebut 3 hari lebih awal. Kemudian diberikan perlakuan penyiraman teratur disore hari selama 3 hari berturut-turut.

Jika tanaman masih sangat rentan (tinggi tanaman dibawah 30 cm), diharapkan panitia reboisasi menyiapkan naungan (paranet).

2. Kondisi Lingkungan
Lokasi yang biasanya dijadikan target untuk reboisasi, biasanya merupakan daerah yang tandus, panas, gersang, dll. Untuk daerah seperti itu dapat dipastikan bahwa ketersediaan hara, air, mikrobiologi, kondisi fisik, dan kimiawi tanah berada pada kondisi sangat buruk. Hal ini diawali dari hilangnya vegetasi dilingkungan tersebut, sehingga aktifitas biologi tanah terganggu, kemudian dalam jangka waktu yang singkat aktifitas kimiawi pun akan mengalami ketidak stabilan. Dan jika kondisi ini berlangsung lama, akan menyebabkan kerusakan fisik tanah. Kondisi lingkungan seperti itu tentunya sangat tidak menunjang untuk kegiatan penanaman. Tips untuk mengatasi masalah tersebut adalah pengolahan tanah. Ada 2 tahap untuk trik pengolahan tanah yang mudah :

- Penambahan pupuk organik, diharapkan panitia atau peserta reboisasi menyediakan pupuk kandang yang sudah diolah dari kotoran ternak, yang dapat dibeli dari peternak lokal didaerah tersebut. pupuk kandang tersebut ditabur di setiap titik-titik penanaman sebanyak 500 gr - 1 kg, kegiatan ini dilakukan pada pagi hari, sehari sebelum pelaksanaan reboisasi. Tujuan dari pemberian pupuk kandang adalah untuk penambah nutrisi pada tanaman yang akan ditanam keesokan harinya.

- Bioremediasi Tanah, yaitu perombakan tanah dengan bantuan mikroorganisme saat sinar UV berkurang. Panitia atau peserta reboisasi, diharapkan membawa mikroorganisme perombak tanah (starter) yang dapat dibeli ditoko-toko pertanian seperti EM4, Ecoplant, Moebillin (Merk) atau membeli mikroorganisme biakan murni seperti Trichoderma sp, Bacillus, Lactobacillus, Pseudomonas, Micrococcus, Escherichia, Aerococcus (mikroorganisme) dari Laboratorium universitas setempat. Kemudian bakteri perombak tanah tersebut disemprotkan ke tanah pada sore hari, sehari sebelum pelaksanaan reboisasi. Perlakuan ini dapat memicu tumbuhnya beberapa organisme lain yang menunjang pertumbuhan tanaman dan dapat memperbaiki kondisi fisik tanah walaupun tidak mencapai taraf yang signifikan.

Dari ke dua perlakuan diatas diharapkan agar kondisi tanah (lingkungan) dapat sedikit dioptimalkan, dan dapat menunjang tanaman reboisasi saat ditanam maupun saat tumbuh dan berkembang.

3. Tata Cara Penanaman
Setelah beberapa kegiatan pra-reboisasi telah dilaksanakan, sekarang adalah fase terakhir dimana cara penanaman juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup tanaman. berikut ini akan penulis jabarkan beberapa langkah dalam penanaman :

- Saat membawa tanaman ketitik penanaman, jangan mengangkat tanaman dengan memegang batangnya, hal itu akan merusak perakaran tanaman tersebut. Cara yang tepat adalah pengang pada polibagnya dan angkat tanaman perlahan.

- Membuka polibag saat akan menanam sebaiknya jangan dirobek baik dengan pisau, gunting, atau tangan sendiri. sedikit lakukan pijatan pada bagian-bagian polybag hingga tanahnya sedikit menggembur, kemudian tarik polibag tersebut, hal ini bertujuan mengurangi limbah karena polibag sisa tersebut bisa digunakan kembali.

- Pegang bagian tanah dan perakaran tanaman saat akan memasukkan tanaman kedalam lubang.

- Posisikan tanaman dengan tegak, bisa juga dibantu dengan bambu (lanjaran) yang diikatkan disamping tanaman tersebut agar dapat berdiri tegak.

- Timbun lubang dengan tanah Tanpa menekan tanah tersebut.

- Siram tanaman dengan air yang banyak dan fokuskan pada tanah yang baru ditimbun tadi agar tanah memadat dengan sendirinya.

- Usahakan pelaksanaan kegiatan reboisasi berlangsung pada sore hari sekitar jam 15:00-selesai, hal ini dikarenakan tanaman yang baru saja pindah tanam harus menyesuaikan diri lagi degan lingkungan yang baru (diluar polibag), jika ditanam disiang hari, tanaman akan menghadapi panas terik dan hal itu akan menambah gangguan yang menyebabkan tanaman kesulitan beradaptasi.

Semoga beberapa uraian diatas dapat berguna bagi para penggiat alam dan pecinta lingkungan dalam upaya mewujudkan bumi yang sehat dan nyaman. Salam Lestari…!!!

Tugas Tata Guna Lahan

Gambar : http://penanusantara.files.wordpress.com
Pada saat sekarang ini lahan di Indonesia sudah mengalami banyak sekali penurunan atau yang sering disebut dengan degradasi lahan. Maka dari itu banyak orang atau para ilmuan mulai mencari solusi ataupun teknologi yang bisa diterapkan untuk memperbaiki lahan-lahan yeng terdegradasi tersebut. Degradasi lahan ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari ulah tangan manusia itu sendiri maupun terdegradasi secara alami, pengelolaan dan pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan azas keseimbangan dan kelestarian dapat menjadi sebab dari terdegradasinya suatu lahan.

Jika kita lihat lahan pertanian didaerah indonesia khusunya didaerah pedesaan banyak mengalami penurunan kualitas dari lahan itu sendiri, hal ini dapat terjadi akibat dari penggunaan pestisida, pemupukan, atau penggunaan lahan dengan satu jenis penggunaan secara terus menerus untuk beberapa musim. Padahal kita tetap ingin mempertahankan prestasi membanggakan yakni swasembada beras yang telah susah payah kita capai. Maka dari itu, untuk tetap bisa mempertahankan prestasi tersebut kita harus bisa menjegah penurunan kualitas lahan tersebut secara terus-menerus. Disamping itu degradasi lahan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain yakni erosifitas hujan, erodibilitas tanah, faktor konservasi (vegetasi dan pengelolaan), bentuk lahan (lereng), dan kehidupan (Departemen Kehutanan, 1986).

Anda dapat melihat dan mengunduh Tugas Tata Guna Lahan selengkapnya dengan menekan tombol download dibawah ini.


 

Tugas Makalah Kesuburan Tanah Dan Kesehatan - Pengelolaan Ekosistem Tanah Dan Tanaman

Tanah sebagai media tanam tumbuhan sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena di sanalah tanaman mendapatkan nutrisi dan unsur hara maupun unsur unsur kimia,dalam tanah proses respirasi tanah yang ada pada pori pori tanah sangat mempengaruhi kemampuan akar dalam menyerap nutrisi tanah maupun nutrisi tambahan seperti N,P,K,

Untuk itu harus di lakukan pengelolaan tanah dengan benar seperti rolling tanaman atau peng istirahatan tanah dengan tidak di tanami tanaman apapun itu bertujuan agar tanah ber istirahat atau peremajaan tanah

Selain tanah yang harus di perhatikan tanaman atau pola tanam harus di perhatikan, pada masa ini telah ada teknis pengelolaan tanam yang cukup taktis, Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) adalah suatu pendekatan dalam budi daya yang menekankan pengelolaan tanaman untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kelestarian kesuburan. PTT merupakan pengelolaan lahan, air, tanaman dan organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu dan berkelanjutan dalam upaya peningkatan produktivitas tanaman, pendapatan dan kesejahteraan petani serta menjamin keberlanjutan fungsi lingkungan.

Dengan kita mengelola tanah maupun tumbuhan kita akan menghasilkan hasil komoditas pertanian yang selain bagus juga tidak membuat tanah kita menjadi tidak produktif atau rusak di karenakan kesalahan kita dalam mengelola.

Anda dapat melihat dan mengunduh Pengelolaan Ekosistem Tanah Dan Tanaman selengkapnya dengan menekan tombol download dibawah ini.


 

Tugas Makalah Kesuburan Tanah Dan Kesehatan - Pengelolaan Ekosistem Tanah Dan Tanaman


Tanah sebagai media tanam tumbuhan sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena di sanalah tanaman mendapatkan nutrisi dan unsur hara maupun unsur unsur kimia,dalam tanah proses respirasi tanah yang ada pada pori pori tanah sangat mempengaruhi kemampuan akar dalam menyerap nutrisi tanah maupun nutrisi tambahan seperti N,P,K,. Untuk itu harus di lakukan pengelolaan tanah dengan benar seperti rolling tanaman atau peng istirahatan tanah dengan tidak di tanami tanaman apapun itu bertujuan agar tanah ber istirahat atau peremajaan tanah

Selain tanah yang harus di perhatikan tanaman atau pola tanam harus di perhatikan, pada masa ini telah ada teknis pengelolaan tanam yang cukup taktis, Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) adalah suatu pendekatan dalam budi daya yang menekankan pengelolaan tanaman untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kelestarian kesuburan. PTT merupakan pengelolaan lahan, air, tanaman dan organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu dan berkelanjutan dalam upaya peningkatan produktivitas tanaman, pendapatan dan kesejahteraan petani serta menjamin keberlanjutan fungsi lingkungan.

Dengan kita mengelola tanah maupun tumbuhan kita akan menghasilkan hasil komoditas pertanian yang selain bagus juga tidak membuat tanah kita menjadi tidak produktif atau rusak di karenakan kesalahan kita dalam mengelola.


Anda dapat melihat dan mengunduh Tugas Makalah Kesuburan Tanah Dan Kesehatan  - Pengelolaan Ekosistem Tanah Dan Tanaman selengkapnya dengan menekan tombol download dibawah ini.

 

Konversi Lahan Menjadi Pertanian