Mengenal Proses Pengolahan Gula


Gula merupakan salah suatu nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Oleh sebab itu manusia harus berusaha memproduksi dan mengolah tebu hingga menjadi gula yang bersih dan memenuhi standart SNI yang telah ada. Dalam memasuki era teknologi canggih dan modern, perkembangan sentra industri perlu sekali untuk ditingkatkan.

Mengingat industri gula ini merupakan salah satu faktor penunjang utama pembangunan. Dengan adanya industri/pabrik gula ini diharapkan dapat menciptakan suatu lapangan pekerjaan, yang mana dapat menampung banyak tenaga kerja. Sehingga pendapatan penduduk dapat ditingkatkan dan juga dapat mengurangi pengangguran. Majunya suatu industri sangat ditunjang dari kualitas bahan baku sehingga didapatkan produk yang berkualitas, serta peralatan yang digunakan dan juga sumber daya manusianya.

PEMBUATAN GULA

★ Ekstraksi
Tahap pertama pengolahan adalah ekstraksi jus atau sari tebu. Di kebanyakan pabrik, tebu dihancurkan dalam sebuah serial penggiling putar yang berukuran besar. Cairan tebu manis dikeluarkan dan serat tebu dipisahkan, untuk selanjutnya digunakan di mesin pemanas (boiler). Di lain pabrik, sebuah diffuser digunakan seperti yang digambarkan pada pengolahan gula bit. Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor: sisa-sisa tanah dari lahan, serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari daun dan kulit tanaman, semuanya bercampur di dalam gula. Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 15% gula dan serat residu, dinamakan bagasse, yang mengandung 1 hingga 2% gula, sekitar 50% air serta pasir dan batu-batu kecil dari lahan yang terhitung sebagai “abu”. Sebuah tebu bisa mengandung 12 hingga 14% serat dimana untuk setiap 50% air mengandung sekitar 25 hingga 30 ton bagasse untuk tiap 100 ton tebu atau 10 ton gula.

Gambar 1. Ekstraksi Gula

★ Pengendapan kotoran dengan kapur (Liming)
Pabrik dapat membersihkan jus dengan mudah dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan mengendapkan sebanyak mungkin kotoran untuk kemudian kotoran ini dapat dikirim kembali ke lahan. Proses ini dinamakan liming. Jus hasil ekstraksi dipanaskan sebelum dilakukan liming untuk mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus dengan perbandingan yang diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian dimasukkan ke dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih (clarifier). Jus mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga padatan dapat mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih. Kotoran berupa lumpur dari clarifier masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya dilakukan penyaringan dalam penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan lumpur tersebut dapat dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang manis. Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke proses.

★ Penguapan (Evaporasi)
Setelah mengalami proses liming, jus dikentalkan menjadi sirup dengan cara menguapkan air menggunakan uap panas dalam suatu proses yang dinamakan evaporasi. Terkadang sirup dibersihkan lagi tetapi lebih sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya pembersihan lagi. Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung 15% gula tetapi cairan (liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang diperlukan dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan gula hingga 80%. Evaporasi dalam ‘evaporator majemuk' (multiple effect evaporator) yang dipanaskan dengan steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi mendekati kejenuhan (saturasi).

★ Pendidihan/ kristalisasi
Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam panci yang sangat besar untuk dididihkan. Di dalam panci ini sejumlah air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula tercapai. Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke dalam sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum disimpan.












Larutan induk hasil pemisahan dengan sentrifugasi masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi diulang beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula yang ada di dalamnya dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan gula-gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit, sampai kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak mungkin lagi dilanjutkan. 

Dalam sebuah pabrik pengolahan gula kasar (raw sugar) umumnya dilakukan tiga proses pendidihan. Pertama atau pendidihan “A” akan menghasilkan gula terbaik yang siap disimpan. Pendidihan “B” membutuhkan waktu yang lebih lama dan waktu tinggal di dalam panci pengkristal juga lebih lama hingga ukuran kristal yang dinginkan terbentuk. Beberapa pabrik melakukan pencairan ulang untuk gula B yang selanjutnya digunakan sebagai umpan untuk pendidihan A, pabrik yang lain menggunakan kristal sebagai umpan untuk pendidihan A dan pabrik yang lainnya menggunakan cara mencampur gula A dan B untuk dijual. Pendidihan “C” membutuhkan waktu secara proporsional lebih lama daripada pendidihan B dan juga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk terbentuk kristal. 

Gula yang dihasilkan biasanya digunakan sebagai umpan untuk pendidihan B dan sisanya dicairkan lagi. Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak dapat diekstrak semuanya, maka terbuatlah produk samping (byproduct) yang manis: molasses. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol. Inilah yang menyebabkan lokasi pabrik rum di Karibia selalu dekat dengan pabrik gula tebu

PENGOLAHAN GULA

 Tebu
Tanaman tebu atau Saccharum officinarum termasuk ke dalam keluarga rumput – rumputan. Mulai dari pangkal sampai dengan ujung batangnya mengandung nira dengan kadar mencapai 20%. Nira inilah yang kelak dibuat gula pasir. Di samping itu tebu juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan gula merah. Syarat tumbuh tanaman tebu yang baik adalah pada 40oLU dan 38oLS, suhu rata – rata 21oC, curah hujan 1000 – 1250 mm/tahun, untuk pertumbuhannya memerlukan air dan cukup sinar matahari.

Menurut Supriyadi (1992), proses kemasakan tebu berbeda – beda tergantung pada beberapa faktor, antara lain:

1. Varietas
  • Varietas genjah, masak optimal pada umur kurang dari 12 bulan sehingga varietas ini disebut masak awal
  • Varietas sedang, masak optimal pada umur 12 – 24 bulan sehingga varietas ini disebut varietas masak tengahan
  • Varietas dalam, masak optimal pada umur lebih dari 14 bulan disebut varietas masak akhir.
2. Jumlah pupuk yang diberikan
Ada berbagai macam pupuk yang dapat diberikan antara lain adalah pupuk phospat, pupuk natrium phospat, pupuk kalium dan pupuk CaCO4. Pemberian pupuk pada tanaman tebu perlu diperhatikan. Jika pemberian pupuk terlalu banyak maka akan menyebabakan timbulnya tunas baru. Tunas baru ini akan menggunakan gula yang sudah ada dalam batang tebu untuk pertumbuhannya sehingga kadar gula dalam tebu akan berkurang.

3. Curah hujan
Curah hujan yang tinggi pada saat tebu mencapai pertumbuhan optimal menyebabkan kandungan gulanya rendah karena tidak adanya sinar matahari sehingga menghambat proses fotosintesis.

4. Keadaan Got
Got yang terlalu dangkal akan menghambat pemanjangan akar sehingga pengambilan unsur hara berkurang.

5. Hama atau penyakit
Adanya hama penyakit akan dapat menghambat terbentuknya rendemen gula pada batang tebu.

Komponen – komponen tebu dapat berbeda – beda antara tebu yang satu dengan yang lainnya. Jenis tebu yang masih sering ditanam dan dipergunakan untuk bahan dasar di PG Krebet Baru Malang adalah jenis Triton atau BZ.207, BR.194 atau R.579 dan BW.1064 (PG Krebet Baru I, 2000).

♝ Gula
Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi perdagangan utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau minuman. Gula sederhana, seperti glukosa (yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam), menyimpan energi yang akan digunakan oleh sel. Gula sebagai sukrosa diperoleh dari nira tebu, bit gula, atau aren (Anonymous, 2010)

♝ Syarat Mutu Gula
Adapun syarat mutu gula yang telah menjadi syarat di Indonesia, yaitu:






  Baca Bagian Kedua »

0 Komentar: