Peternakan Sapi Potong di Desa Tempe, Ngawi



Pada zaman dahulu kala, sumber makanan adalah alasan manusia utuk berpindah tempat tinggal, bahkan lebih memilih tidak membuat tempat tinggal permanen untuk dapat berpindah sesuai dengan jumlah makanannya. Itu dulu, kalau sekarang dimanapun manusia berada, makanan dapat di dapat dengan mudah asalkan ada uang untuk membelinya. Kebutuhan makan manusia pun berbeda-beda tergantung dari selera dan kantong tentunya.


Artikel Selengkapnya dapat dibaca di http://gubuktani.com/peternakan-sapi-potong-di-desa-tempe/

Nah, dewasa ini kebutuhan akan daging sapi semakin meningkat. Ternak sapi yang awalnya dari gembalaan dengan pakan terbatas, kini semakin dikembangkan apalagi ketersediaan lahan penggembalaan semakin terbatas. Kondisi ini menambah keinginan peternak untuk membukan usaha peternakan sapi secara intensif dan profesional. Pemeliharaan secara intensif meliputi pemenuhan pakan, bibit, pengobatan, manajemen, dan pasar. Aspek tersebut haruslah difahami dan dilaksanakan dengan baik oleh peternak, khususnya peternakan kecil agar dapat menuai keuntungan dalam usaha peternakannya.

Beternak Kambing Perah Peranakan Etawa

Kambing PE adalah salah satu penyedia protein hewani asal ternak berupa daging atau susu. Kambing PE merupakan persilangan antara kambing Etawah dan kambing kacang yang keberadaannya sudah adaptif dengan topografi di Indonesia (Tanius dan Setiawan, 2005). Kambing Etawah, dan keturunannya mempunyai ciri-ciri bentuk tubuh tinggi, bagian hidung keatas melengkung, telinga menggantung ke bawah, panjangnya 15 - 30 cm dan sedikit kaku, warna bulu bervariasi antara hitam dan coklat. Ciri lainnya kambing jantan mempunyai bulu tebal agak panjang dibawah leher dan pundak, sedangkan bulu kambing betina agak panjang terdapat di bagian bawah ekor ke arah garis kaki, bobot badan hidup kambing PE jantan sekitar 40 - 45 kg dan kambing PE betina sekitar 35 kg (Ensminger, 2002). Kambing PE merupakan jenis kambing perah yang unggul, karena mempunyai kemampuan memproduksi susu sebanyak 1,5 - 3 liter per hari. Selain itu kambing PE sangat adaptif dengan topografi Indonesia, tidak memerlukan lahan luas, dan pembudidayaannya relatif mudah sehingga dapat dijadikan bisnis sampingan keluarga (Setiawan, 2002).

Pemanfaatan kambing di Indonesia baru terbatas sebagai penghasil daging, sedangkan sebagai penghasil susu masih sedikit. Kambing yang umumnya dipelihara adalah kambing Peranakan Etawah (PE), karena kambing ini merupakan salah satu jenis kambing yang menghasilkan susu untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Jenis kambing PE merupakan jenis kambing yang memiliki produktivitas tinggi dan daya tahan yang lebih baik. Kambing PE banyak dipelihara oleh masyarakat di Indonesia dan tersebar luas diseluruh wilayah pedesaan karena mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dan mempertahankan diri terhadap lingkungan yang kurang baik.           
Susu kambing merupakan cairan putih berasal dari binatang ternak ruminansia berjenis kambing perah yang diproduksi oleh kelenjar susu dari hewan mamalia betina. Susu diproduksi oleh kambing betina setelah beranak atau disebut masa laktasi. Salah satu kelebihan susu kambing adalah kandungan gizinya relatif lebih lengkap dan seimbang.. Komponen komponen yang penting dalam air susu adalah protein, lemak, vitamin, mineral, laktosa serta enzim-enzim dan beberapa mikroba. Susu merupakan produk pangan yang menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan kalsium (Ca) tubuh (Syarifah, 2007). 

Komposisi air susu dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis ternak dan keturunannya (hereditas), bulan laktasi, umur ternak, peradangan pada ambing, pakan ternak, lingkungan dan prosedur pemerahan susu. Lebih kentalnya susu dibandingkan air adalah karena banyaknya bahan kering yang terdapat didalamnya, seperti lemak, protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral Saleh (2004). Secara kimiawi susu normal mempunyai susunan sebagai berikut: air (87,20%), lemak (3,70%), protein (3,50%), laktosa (4,90%), dan mineral (0,07%) SNI. Kandungan protein susu kambing relatif lebih tinggi, yaitu 4,3% dibanding susu sapi 3%, (Gunawan, E.2010).  

Berat jenis merupakan sifat fisik susu yang dipengaruhi oleh komposisi susu, nilai protein dan lemak susu. Semakin kental susu maka semakin banyak jumlah padatan didalam susu yang akan meningkatkan berat jenis susu. Oleh karena itu,berat jenis dan kekentalan selalu berbanding positif. Menurut Herdiansyah (2011), jika berat jenis susu rendah maka kekentalan susu tersebut sangat rendah, namun sebaliknya. Susu kambing memiliki partikel lemak yang lebih kecil dan homogen sehingga mudah dicerna dan diserap. Besar kecilnya globula lemak ditentukan oleh kadar air yang ada didalamnya (Saleh, 2004). Kadar lemak susu kambing dipengaruhi oleh pakan hijauan, semakin tinggi pakan hijauan yang diberikan maka semakin tinggi pula kadar lemak susu (Zurriyanti et al., 2011). Menurut Sukarini (2006), bahwa ternak yang diberi pakan tambahan konsentrat akan menurunkan kadar lemak susu dan pakan yang hanya terdiri dari hijauan memiliki kadar lemak yang lebih tinggi dibanding pakan yang ditambah dengan konsentrat.

Menurut Suardana dan Swacita (2004), pengujian terhadap kualitas susu dapat dilakukan berdasarkan keadaan dan susunan susu. Pemeriksaan kualitas susu berdasarkan kandungan nutrisinya, antara lain meliputi berat jenis,  kandungan protein, dan kandungan lemak. Hal ini sesuai dengan pendapat Julmiaty (2002), bahwa kualitas susu dapat dilihat dari susunan dan keadaan proteinnya. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka dalam penelitian ini akan diteliti tentang kualitas susu kambing PE ditinjau dari uji berat jenis, uji kandungan protein, dan uji kandungan lemak.

Berat jenis (BJ) digunakan untuk mengetahui grafitasi spesifik suatu larutan. Pengujian berat jenis dilakukan di laboratorium bioteknologi UMM dengan menggunakan lactodensimeter dan tabung ukur, susu dimasukan ke dalam tabung ukur sebanyak 500 ml kemudian memasukan lactodensimeter ke dalam tabung yang terisis susu. Nilai rata-rata berat jenis susu kambing pada setiap peternak di Kota Batu.

Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa susu kambing dari setiap peternak di Kota Batu memiliki berat jenis yang sama. Hal ini  disebabkan karena jenis kambing yang sama yaitu kambing Peranakan Etawa (PE). Hal ini sesuai dengan pendapat Tasiprin (2011) yang menyatakan bahwa  faktor yang mempengaruhi berat jenis susu segar di antaranya umur dan jenis ternak.  

Berat jenis susu segar peternak A sama dengan peternak B,C D  dan E. Rata-rata berat jenis susu segar pada setiap peternak yaitu 1,03. Berat Jenis susu segar pada semua peternak tersebut berada diatas Standar Nasional Indonesia (SNI). Berat Jenis susu segar sesuai Stasndar Nasional Indonesia (SNI) dan Milk Codex  yaitu 1,028. Susu mempunyai berat jenis yang lebih besar dari  air yaitu 1,027 – 1,035 dengan rata-rata 1,031. Codex susu  adalah suatu daftar satuan yang harus dipenuhi  susu sebagai bahan makanan. Daftar ini telah disepakati oleh para ahli gizi dan kesehatan sedunia, walaupun di setiap negara atau daerah mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri (Saleh, 2004).
Jumlah pemberian pakan dan jenis pakan yang berbeda serta perbedaan periode laktasi tidak berpengaruh terhadap berat jenis susu kambing Peranakan Etawa (PE) di setiap peternak di Kota Batu. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Atmaja (2011) yang menyatakan bahwa penurunan berat jenis susu segar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : makanan, perubahan kondisi kadar lemak, adanya gas-gas yang timbul dalam susu, protein, laktosa, jenis ternak, usia ternak, dan kesehatan lingkungan.

Semakin besar berat jenis pada susu  semakin bagus karena komposisi atau kandungan dari susu tersebut masih pekat dan kadar air dalam susu adalah kecil, sedangkan semakin banyak lemak pada susu maka semakin rendah berat jenis-nya, semakin banyak persentase bahan padat bukan lemak, maka semakin berat susu tersebut (Hadi, 2008). 

Beternak Ayam Broiller Sistem Kemitraan



Pembangunan peternakan merupakan bagian dari pembangunan keseluruhan yang bertujuan untuk menyediakan pangan hewani berupa daging, susu, serta telur yang bernilai gizi tinggi. Hal inilah yang mendorong pembangunan sektor peternakan sehingga pada masa yang akan datang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam pembangunan perekonomian bangsa. Di Indonesia, usaha perunggasan  telah menjadi sebuah industri yang memiliki nilai strategis khususnya dalam penyediaan protein hewani untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menurut Afriadi (2008), broiler merupakan jenis ayam ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam potong lainnya. yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging. Sebagaimana diketahui broiler merupakan ternak penghasil daging yang relatif lebih cepat bila dibandingkan dengan ternak, hal inilah yang mendorong sehingga banyak peternak yang mengusahakan peternakan broiler. Perkembangan tersebut didukung oleh semakin kuatnya industri hilir seperti perusahaan pembibitan (Breeding Farm), perusahaan pakan ternak (Feed Mill), perusahaan obat hewan dan peralatan peternakan. 

Perkembangan populasi ternak broiler tidak terlepas dari permasalahan yang menjadi dilema bagi peternak dan sulit dipecahkan oleh peternak yaitu aspek pasar dan penyediaan sarana produksi yang tidak seimbang dengan harga jual produk, sehingga membuat peternak takut mengambil resiko untuk  mengembangkan usaha peternakan broiler dengan skala produksi yang lebih besar. Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh peternak maka diperlukan peran pemerintah dalam menggerakan perusahaan swasta dan lembaga-lembaga pembiayaan agribisnis dalam menunjang pengembangan produksi peternakan khususnya broiler (ayam pedaging). Peran perusahaan dan lembaga-lembaga agribisnis ini sangat membantu peternak yakni dalam menyiapkan sarana produksi berupa bibit, pakan, obat-obatan, vaksin, vitamin dan pemasaran hasil peternakan dengan pola kemitraan.

Pola kemitaran merupakan suatu bentuk kerja sama antara pengusaha dengan peternak dari segi pengelolaan usaha -peternakan (Dewanto, 2005). Dalam kemitraan pihak pengusaha dan peternak harus mempunyai posisi yang sejajar agar tujuan kemitraan dapat tercapai dimana dalam hal perhitungan tentang biaya produksi diatur sepenuhnya oleh perusahaan yang disepakati bersama oleh peternak. Pada hakekatnya kemitraan disertai  pembinaan dan pengembangan berkelanjutan dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, memperkuat dan menguntungkan.

Untuk memperoleh gambaran kelayakan usaha pemeliharaan broiler secara kemitraan dengan Peternak Mitra maka perlu dilakukan penelitian berdasarkan penerapan aspek teknis pemeliharaan broiler pola kemitraan dan keuntungan yang diterima peternak berdasarkan berat badan panen serta Feed Convertion Rasio (FCR) yang tercapai di tingkat Peternak Mitra.

Peternakan kecil merupakan jumlah terbesar dari seluruh peternakan ayam ras di Indonesia. Keuntungan merupakan tolok ukur atas keberhasilan atau kegagalan seorang peternak dalam mengendalikan sumber daya yang dimiliki oleh peternakan kecil maupun peternakan komersil. Kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi diusahakan sedemikian rupa agar dalam jumlah tertentu menghasilkan produksi  optimal dengan keuntungan yang tinggi.

Peternak Mitra disebut Perusahaan Inti berperan sebagai pihak inti yang memberikan pembinaan budidaya atau pemeliharaan broiler dan menyediakan sapronak yang meliputi anak ayam umur sehari (DOC), pakan, dan obat-obatan. Dalam rangka pembinaan budidaya broiler kepada Peternak Mitra, melakukan hal-hal sebagai berikut: memberikan petunjuk-petunjuk mengenai budidaya broiler, menetapkan ketentuan-ketentuan pemeliharaan broiler, mencarikan pembeli bagi Peternak Mitra dan membantu menjual ayam, dan membantu melakukan manajemen penjualan ayam bagi peternak.

Usaha peternakan ayam broiller dilakukan oleh berbagai golongan masyarakat. Pengelolaan usaha ternak ayam broiller tersebut secara faktual telah memberikan sumbangan bagi perekonomian di wilayah masing-masing, dan saat ini pengelolaannya dilakukan secara mandiri dan pola kemitraan usaha dengan segala kelebihan dan kekurangannya 

Peternak ayam broiller yang melakukan kemitraan telah mempunyai suatu wadah untuk menunjang pelaksaan kemitraan, seperti kelompok tani. Di lapangan, para peternak anggota kemitraan langsung berhadapan dengan perusahaan inti melalui TS (Technical Services). Aturan main kerjasama kemitraan dicerminkan oleh adanya kewajiban bagi masing-masing lembaga yang terlibat dalam pengelolaan usaha ternak ayam broiller. Kewajiban-kewajiban tersebut didasarkan pada kontrak yang telah ditandatangani oleh peternak plasma dan perusahaan inti sebelum melakukan proses produksi.
Peternak pemula atau skala kecil yang melakukan kemitraan dengan Peternak Mitra, umumnya merasa sangat terbantu dengan adanya kerjasama kemitraan karena modal awal yang seharusnya ditanggung oleh peternak, sebagian ditanggung oleh perusahaan inti melalui pemberian kredit penyediaan alat-alat kandang. Keuntungan lain dari kerjasama kemitraan yang paling besar manfaatnya bagi peternak adalah adanya bimbingan dan penyuluhan yang diberikan oleh technical service (TS) dari  sebagai perusahaan inti (Peternak Mitra). 

Penyuluhan dan bimbingan melalui TS ini sangat intensif karena setiap satu orang peternak akan memperoleh bimbingan secara langsung. Melalui penyuluhan tersebut, peternak peserta kemitraan memperoleh informasi perkembangan (inovasi) teknologi usaha ternak relatif lebih cepat dibandingkan peternak non mitra. Peternak Mitra menyatakan bahwa teknologi dan informasi yang diberikan oleh TS terbukti mampu meningkatkan kualitas ayam broiller yang dihasilkan. Penanggungan resiko, usaha ternak ayam broiller sangat rentan terhadap kegagalan produksi seperti rendahnya bobot ayam (biasanya disebabkan oleh kualitas DOC dan pakan yang rendah), serangan penyakit atau turunnya harga ayam di pasar.

Jika terjadi kegagalan panen, pendapatan yang diperoleh biasanya tidak mampu lagi digunakan untuk membiayai proses produksi pada periode berikutnya. Bagi Peternak Mitra, kegagalan panen tidak menyebabkan proses produksi periode berikutnya terhenti karena perusahaan inti akan tetap menyediakan sarana produksi ternak (DOC, pakan, obat dan vaksin). Hal ini tidak bisa dilakukan oleh peternak non mitra, yang resiko kegagalan usaha akan ditanggung sendiri sehingga jika harus memulai proses produksi pada berikutnya mereka harus mampu mencari sumber modal baru. Manfaat yang dirasakan oleh peternak inilah yang membuat para peternak tetap melaksanakan program kemitraan walaupun masih terdapat beberapa kekurangan dan perselisihan antara peternak dengan Peternak Mitra.

Perselisihan tersebut seringkali disebabkan oleh adanya peluang dari Peternak Mitra sebagai perusahaan inti untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya, pengiriman pakan yang telat serta harga yang terkadang melebihi harga pasar. Dalam hal ini kepatuhan terhadap kesepakatan (credible commitment) merupakan kunci keberhasilan dari suatu program kemitraan. 
Beberapa kasus kemitraan peternakan ayam broiller, pihak yang seringkali tidak mematuhi kesepakatan justru dilakukan oleh perusahaan inti. Keuntungan-keuntungan bermitra yang selama ini dijalankan oleh peternak dan perusahaan inti adalah ketersediaan modal awal untuk berusaha ternak. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa untuk memulai usaha ternak ayam broiller, peternak membutuhkan modal yang relatif besar untuk pembuatan kandang dan pembelian alat-alat kandang. Untuk skala usaha 5000 ekor ayam dalam satu siklus produksi (± 35 hari) dibutuhkan dana berkisar antara Rp 70 juta sampai Rp 95 juta untuk biaya operasional saja, belum termasuk biaya investasi.

Beberapa peternak di yang tergabung dalam Peternak Mitra memilih untuk menjadi peternak mandiri (keluar dari program kemitraan) karena mereka telah memiliki modal besar dan bersedia menanggung resiko kegagalan. Peternak yang memilih jalur mandiri berati harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, yaitu harga yang selalu dapat mengikuti pasar serta dapat memberikan penawaran harga kepada pembeli. Keuntungan yang didapat pun bisa optimal dan jika mengalami kerugian, kerugian pun akan ditanggung sendiri oleh peternak.
Oleh sebab itu, peternak yang masih minim pengalaman dalam beternak ayam broiller, maka disarankan untuk mencoba sistem kemitraan ini agar dapat diajari dan didampingi oleh Peternak Mitra yang telah teruji dan telah memiliki pengalaman yang banyak mengenai pemeliharaan ayam broiller. 

Gula Jagung


Jagung, merupakan komoditas tanaman pangan yang sangat potensial. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung Indonesia pada tahun 2003 sebesar 10,7 juta ton dan meningkat menjadi 11,35 juta ton pada tahun 2004.
Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga merupakan sumber protein yang penting dalam menu masyarakat Indonesia. Kandungan gizi utama jagung adalah pati (72-73%). Kadar gula sederhana jagung (glukosa, fruktosa, dan sukrosa) berkisar antara 1-3%. Protein jagung (8-11%) terdiri atas lima fraksi, yaitu: albumin, globulin, prolamin, glutelin, dan nitrogen nonprotein.

Umur panen yang berbeda akan mempengaruhi kandungan gula biji jagung manis. Dan umur panen yang paling tepat adalah pada umur 70 hari setelah tanam, karena pada umur panen ini kandungan gula biji jagung manis mencapai 15.78 %.

Gula alternatif yang sekarang sudah digunakan antara lain adalah gula siklamat, stearin, dan gula dari hidrolisa pati. Gula dari pati dapat berupa sirup glukosa, fruktosa, maltosa, manitol, dan sorbitol. Gula pati tersebut mempunyai rasa dan tingkat kemanisan yang hampir sama dengan gula tebu (sukrosa), bahkan beberapa jenis lebih manis. Gula pati dibuat dari bahan berpati seperti jagung.

Gula jagung merupakan gula yang diekstraksi dari tanaman jagung. Gula jagung ini dikatakan baik bagi penderita diabetes karena termasuk kedalam jenis pemanis non - sintetis yang memiliki kadar kalori cukup rendah yang sangat bagus untuk mengontrol kadar glukosa dalam darah. Gula jagung ini termasuk kedalam jenis gula dari pati-patian yang sering disebut juga sebagai High Fructose Syrup (HFS). HFS yang berbentuk cair sangat menguntungkan untuk penggunaan industri minuman, tetapi sekarang HFS juga banyak digunakan di industri beralkohol, makanan hewan, permen, soft drink, makanan dan farmasi. Kandungan utama gula jagung adalah glukosa dan fruktosa, kadar fruktosa antara 42% -90%.

HFS merupakan kelompok sirup jagung melalui proses enzimatis untuk meningkatkan kandungan fruktosa. Gula jagung memiliki karakteristik warna putih, manis seperti gula-gula lainnya. Selain itu, gula jagung kadar kalorinya rendah dibandingkan dengan gula-gula lainnya. Berikut beberapa bentuk dari gula jagung:
banyak digunakan dalam produk baking, yang rata-rata terdiri dari 90% fruktosa dan 10% glukosa
banyak digunakan dalam produk minuman ringan, yang rata-rata terdiri dari 55% fruktosa dan 45% glukosa
banyak digunakan dalam produk minuman olahraga, yang rata-rata terdiri dari 42% fruktosa dan 58% glukosa

Pembuatan HFCS (High Fructose Corn Syrup) dapat dilakukan dengan tersedianya substrat pati jagung dan enzim isomerase yang mampu merubah glukosa menjadi fruktosa. Kini telah berkembang penggunaan “immobilized enzymes”, suatu enzim yang dikurung dalam sejenis kapsul, sehingga substrat dan produknya saja yang dapat masuk ke luar, sedang enzimnya tidak ke luar (immobilize) dari kapsulnya. Dengan demikian penggunaannya dapat berulang-ulang, sampai mengalami stadium “fatigue”. Salah satu produk HFCS (yang pertama diproduksi) mengandung 71% padatan terlarut, dengan susunan 42% fruktosa, 52% dekstrosa (glukosa) dan 6% gula-gula lain, karena kandungan dektrosanya, suhu penyimpanan sebaiknya dilakukan pada 80 – 90 oF, untuk mencegah terjadinya kristalisasi glukosa.

Gula Jagung memiliki manfaat yang cukup banyak yaitu :
  1. Pemanis rendah kalori bagi penderita diabetesGula putih dan gula merah merupakan karbohidrat sederhana yang sangat mudah diserap oleh tubuh. Dalam jumlah yang besar atau berlebihan karbohidrat sederhana menyebabkan meningkatnya kadar gula dalam darah dengan cepat. Gula jagung merupakan pemanis non-nutritif yang memiliki kadar kalori cukup rendah yang sangat bagus untuk mengontrol kadar glukosa dalam darah.
  2. Pemanis rendah kalori untuk makanan diet
    Rendahnya kadar kalori gula jagung menyebabkan gula jagung banyak digunakan sebagai pemanis substitusi. Gula jagung juga dapat digunakan untuk meningkatkan kenikmatan cita rasa produk-produk tertentu, tetapi hanya menghasilkan sedikit energi atau sama sekali tidak ada. Pemanis jenis ini banyak membantu dalam mengatasi kelebihan berat badan.
  3. Meningkatkan cita rasa dan aroma
    Dengan citarasa dan aroma yang bersih maka tidak akan membuat citarasa yang menyimpang apabila digunakan dalam jumlah yang sesuai
  4. Tingkat kemanisan yang lebih tinggi dari sukrosa
    Gula jagung merupakan kombinasi dua jenis pemanis yaitu fruktosa dan glukosa yang saling bersinergi sehingga mempunyai tingkat kemanisan yang lebih tinggi.
  5. Memperbaiki sifat-sifat fisik
  6. Memperbaiki sifat-sifat kimia
  7. Sebagai pengawet
Apabila gula ditambahkan ke dalam bahan pangan dalam konsentrasi yang tinggi (paling sedikit 40% padatan terlarut) sebagian dari air yang ada menjadi tidak tersedia untuk pertumbuhan mikroorganisme dan aktivitas air (aw) dari bahan pangan berkurang.

Ada kepercayaan bahwa pemanis berkalori adalah sumber dari berbagai penyakit kronik seperti kegemukan, penyakit gula, penyakit jantung, karies gigi bahkan gangguan tingkah laku. Sesungguhnya kepercayaan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dalam jumlah tertentu kita sangat membutuhkan pemanis berkalori. Pemanis berkalori memang bisa menimbulkan masalah bila dikonsumsi secara berlebihan, tapi hal ini pun tentu berlaku untuk unsur-unsur nutrisi lain. Keseimbangan adalah faktor terpenting untuk diperhatikan. (Mufin, 2013)

Menurut Astri (2012), gula jagung mempunyai kadar kalori yang lebih rendah dari gula tebu, sehingga bisa dijadikan alternatif pengganti gula untuk penderita penyakit diabetes, tetapi ada salah satu jenis gula jagung yang berbahaya untuk penderita penyakit diabetes karena di dalamnya terkandung kalori yang cukup tinggi yaitu HFCS atau High Fructose Corn Syrup. Oleh karena itu, jangan salah untuk memilih jenis gula jagung. Pillih yang benar-benar rendah kalori dan aman untuk dikonsumsi untuk penderita diabetes. Gula jagung di sini adalah gula rendah kalori yang diformulasikan dari pemanis rendah kalori dan sorbitol dari jagung.

Jadi gula jagung mungkin adalah gula yang dibuat dari pati jagung seperti sorbitol, maltosa, dan sirup glukosa. Maltosa adalah disakarida yang terdiri atas ikatan glukosa dan glukosa. Siat dan pemanfaatannya hampir sama dengan sirup glukosa. Pembuatan sirup maltosa hampir sama dengan glukosa, hanya saja jenis enzim yang digunakan berbeda. Maltosa memiliki karakteristik yang khas, mengatur viskositas, tidak mempengaruhi flavor, tekanan osmotik, dan kelarutan tinggi, dan tidak mengubah tekstur produk.

Sorbitol merupakan polihidrat, serupa dengan gliserin dan merupakan gula alkohol yang mudah larut dalam air. Sorbitol secara komersial dibuat dari glukosa dengan Brix 45 – 50, dihidrogenasi tekanan tinggi atau reduksielektrolit melalui reaksi kimia atau dapat dengaan teknik fermentasi. Bahan pembantu adalah katalis nikel untuk proses hidrogenasi, MgO sebagai aktivator, dan gas hidrogen untuk hidrogenasi dan gas nitrogen pada perlakuan purging, sebelum bahan masuk ke autoklaf.

Konversi glukosa ke dalam bentuk sorbitol merupakan reaksi adisi dua unsur hidrogen terhadap aldosa (glukosa) melalui pemutusan ikatan rangkap C dan O pada gugus fungsional aldehid. Proses tersebut terjadi pada tahap hidrogenasi. Sebagai gula alkohol, sorbitol digunakan untuk bahan pemanis yang tidak meningkatkan kadar gula dalam darah, seperti halnya fruktosa.

Pembuatan sirup glukosa menggunakan bahan baku pati yang memiliki kandungan amilosa rendah dan amilopektin tinggi yang dapat dihidrolisis secara asam maupun enzimatik. Bahan pembantu yang digunakan yaitu enzim alfa amilase, glukoamilase, karbon aktif, resin, NaOH dan HCL untuk mengatur pH, lalu NaHCO2 untuk menstabilkan pH. Tahapan pembuatan sirup glukosa ini meliputi likuifikasi, penjernihan, penetralan, dan evaporasi.

Budi Daya Jamur Tiram



Dalam kehidupan manusia, jamur dapat mendatangkan keuntungan (manfaat) maupun kerugian. Manfaat langsung, misalnya beberapa jenis jamur dapat dijadikan bahan makanan seperti jamur merang, jamur kuping, jamur kancing, jamur shiitake, dan sebagainya. Manfaat tidak langsung yaitu banyak jamur yang menjadi bagian di dalam pembuatan obat-obatan tradisional (misalnya jamu-jamu) ataupun obat-obatan modern.

Jamur yang tergolong bermanfaat tidak langsung antara lain bolets, supa kakabu di dalam jamu-jamu. Jenis yang paling populer sejak ribuan tahun lalu adalah jamur ling-zhi/lingshih dalam bentuk serbuk, pil, kapsul, ataupun produk olahan lainnya di dalam ramuan obat tradisional ataupun modern.

Dari belasan ribu jenis jamur, ternyata baru beberapa jenis saja yang sudah dibudidayakan, antara lain jamur padi (Volvariella volvacea), jamur tiram (Pleurotus ostreatus), jamur kuping atau lember (Aricularia polytricha), jamur shiitake (Lentinus edodes), jamur maitake (Grifolia frondosa), dan yang sudah sangat terkenal adalah jamur ling-zhi (Ganoderma lucidum).



Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) mempunyai nama lain shimeji (Jepang), abalone-mushroom atau oyster mushroom (Eropa atau Amerika), supa liat (Jawa Barat). Warna tubuhnya putih, kecokelat-cokelatan, keabu-abuan, kekuning-kuningan, kemerah-merahan, dan sebagainya sehingga namanya tergantung pada warna tubuhnya. Bila sudah terlalu tua, apalagi kalau sudah kering, jamur tiram akan alot atau liat walaupun terus-menerus direbus. Jenis supa liat yang paling banyak dicari serta tumbuh secara alami yaitu yang tumbuh pada kayu lunak, seperti karet, kapuk, dan kidamar karena bentuknya besar, berdaging tebal, dan empuk.

Sekarang jenis jamur tiram banyak dibudidayakan. Selain dapat disayur, jamur tiram juga dapat diolah menjadi makanan lain, misalnya kerupuk, keripik, atau dengan nama yang lebih mentereng menjadi tiram-crisp atau tiram-chips. Di Eropa dan Amerika, jamur tiram sering dikonsumsi langsung, dijadikan semacam sayuran pada pembuatan salad. Bahkan beberapa rumah makan di hotel berbintang di Jakarta ada yang sudah menyajikan jamur tiram segar sebagai campuran di dalam ramuan gado-gado. Jamur tiram juga populer sebagai masakan sup dan pepes.

Vitamin di dalam jamur terdiri dari thiamine (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), niasin, biotin, vitamin C, dan sebagainya. Kandungan mineral jamur tersusun oleh K, P, Ca, Na, Mg, Cu, dan beberapa elemen mikro. Kandungan serat di dalam jamur berkisar mulai dari 7,4 - 27,6%, tergantung kepada jenisnya.

Kandungan vitamin dan mineral jamur tiram yaitu thiamin 4,8%, riboflavin 4,7%, niasin 108,7%, vitamin C 0%, kalsium 33%, fosfor 134,8%, besi 15,2 5, natrium 837 %.

Hal yang perlu diperhatikan dalam budi daya jamur tiram menyangkut faktor penentu, antara lain lokasi dengan ketinggian dan persyaratan lingkungan tertentu, sumber bahan baku untuk substrat tanam, dan sumber bibit (kalau mungkin bibit unggul).

Pemeliharaan substrat tanam harus memperhatikan faktor lingkungan. Selama pertumbuhan bibit (serat/miselia seperti benang-kapas), temperatur diatur antara 28-300 C. Sementara untuk pertumbuhan tubuh buah jamur sampai panen, temperatur diatur antara 26-280 C.

Selama pertumbuhan bibit dan pertumbuhan tubuh buah, kelembapan udara diatur sekitar 90 % karena kalau kurang maka substrat tanam akan mengering, agar kelembapan terjamin, lantai ruangan sebaiknya disiram air bersih pada pagi dan sore hari.


Sarana Produksi


Alat :

  • Drum
  • .Auto Clup
  • Plastik Polybag

Bahan :
  • Spora jamur (F2)
  • Serbuk kayu (sengon algasia) atau jenis-jenis serbuk kayu yang tidak mengandung getah tinggi atau minyak.
  • Bekatul.

Pembuatan
  • Pertama – tama serbuk kayu dicampur dengan bekatul lalu dimasukkan kedalam sebuah plastik polibag, kemudian disterilkan kedalam alat pensteril selama 2 jam dengan suhu 900, lalu polibag siap di isi dengan Spora jamur (F2).kemudian di diamkan selama 40 hari dan jamur akan tumbuh dengan ukuran 2cm.
  • Selama pertumbuhan bibit, dikondisikan ruangan dengan suhu yang lembab. Dengan cara dilakukan penyiraman pada lantai minimal sehari 1 kali. Kemudian dilakukan pensterilan dengan memberi polibag uap air 900 C atau dengan alat auto clup (dari bahan kaca) 1200 C untuk 1,5 kg/30 menit.
  • Bibit jamur yang terdapat pada polibag, didiamkan selama 1 bulan setelah melalui proses pembibitan dan pensterilisasi. Dihitung setelah didiamkan selama 1 bulan, maka bibit jamur pada polibag mulai merambat memenuhi serbuk kayu pada polibag.
  • Setelah 10 hari jamur tiram sudah bisa di panen. Setelah panen pertama dengan jarak 14 hari jamur akan tumbuh lagi dan seterusnya sampai akhir.
  • Setiap panen per polibag 5 s/d 7 kali panen tergantung dari suhu dan tempat atau kelembapan ruangan.



Kesimpulan & Saran
  1. Budi daya jamur tiram sudah banyak dibudidayakan di Indonesia.
  2. Perawatan jamur tiram ketika pertumbuhan bibit kelembapan dan suhu ruangan diatur sekitar 28-300 C.
  3. Pemasaran jamur tiram sudah menyebar hampir keseluruh wilayah di Indonesia.
  4. Sebaiknya petani diberi penyuluhan terlebih dahulu mengenai cara membudidayakan jamur tiram agar hasil yang diperoleh adalah jamur tiram unggulan.
  5. Sebaiknya mencoba untuk mengekspor jamur tiram agar pendapatan yang diperoleh dapat meningkat.

BBM Naik? Stop Protes, Mari Berkebun!

Rasanya, bukan hal aneh bila sebagian masyarakat memprotes secara besar-besaran setiap pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Ajaibnya, protes ini akan hilang dalam hitungan pekan, bahkan hari. Selanjutnya, para pemrotes ini akan lupa dengan isu kenaikan harga BBM, dan kehidupan akan kembali berjalan sebagaimana mestinya. Bagi mereka yang hobi memprotes, biasanya akan memprotes isu lainnya yang seksi untuk diprotes.

Berbicara kenaikan harga BBM, banyak kalangan mengkhawatirkan kebijakan ini berdampak negatif terhadap perekonomian masyarakat. Salah satunya adalah naiknya harga berbagai hal, mulai dari jasa, barang, bahan makanan, dan lain sebagainya.

Logikanya, sederhana saja. Naiknya harga BBM membuat biaya transportasi naik. Karena dunia modern tidak lepas dari sektor transportasi, mengakibatkan biaya produksi dan distribusi pun ikut naik. Ujung-ujungnya, harga komoditas pun turut naik. Karena harga komoditas naik, masyarakat harus beradaptasi dengan meningkatkan daya belinya. Caranya, tentunya meminta kenaikan gaji bagi yang bekerja dan meningkatkan nilai jual jasa dan barangnya bagi wirausahawan.

Lingkaran setan ini akan terus menerus terjadi. Lucunya, tidak ada yang pernah belajar dari kejadian ini. Seperti yang saya tulis di atas, sebagian masyarakat akan memprotes pemerintah, kemudian lupa. Ketika kasus yang sama terulang kembali, mereka juga akan mengulangi perbuatannya: memprotes dan lupa. Demikian seterusnya, tanpa ada kesadaran dan usaha untuk mencari solusinya.

Bagi saya, kenaikan harga BBM seharusnya membuat kita sadar bahwa kita sudah terlalu jauh dengan alam. Coba tanya diri kita masing-masing, dari mana asal makanan yang kita makan sehari-hari. Seberapa jauh jaraknya dari tempat tinggal kita? Berapa harganya di tempat asal makanan tersebut? Berapa biaya untuk mengangkutnya dari tempat asalnya hingga sampai di rumah kita? Berapa persen kenaikan harga makanan setelah ditambah biaya transportasi dan distribusinya? Barangkali, inilah yang akhirnya membuat kita tidak bisa lepas dari beban kenaikan harga BBM.

Padahal, untuk mengatasi semua itu cukup mudah. Salah satu caranya dengan membangun Kebun Bersama Warga di sekitar lingkungan kita, misalnya di tingkat Rukun Tetangga atau Rukun Warga. Kebun ini digarap, dipelihara, dan dijaga bersama-sama oleh masyarakat sekitarnya. Hasilnya, tentu dikonsumsi bersama-sama.

Bayangkan, bila kita tidak harus lagi tercekik dengan mahalnya harga cabai atau beras. Kita cukup mengambilnya dari kebun bersama warga. Juga makanan yang kita konsumsi lebih sehat, karena kita bisa mengawasi penggunaan pestisida kimia, atau bahkan tanpa pestisida kimia sama sekali. Juga tak perlu khawatir dengan meningkatnya harga bahan makanan setiap kenaikan harga BBM, karena jaraknya yang sangat dekat dengan rumah warga.

Selain Kebun Bersama Warga, cara lainnya adalah Kebun Mikro Rumah Tangga. Dalam hal ini, setiap kepala keluarga membangun kebun mini dan menanam berbagai sayuran, bahkan tanaman pokok berkarbohidrat seperti padi dan singkong. Mereka bisa membangun kebunnya di halaman rumahnya, atau pun di pot-pot gantung di ruang terbuka di rumahnya. Pot tanamannya pun bisa menggunakan berbagai barang bekas, seperti kaleng atau pun ember bekas.

Kemudian, setiap bulannya, warga bermusyawarah untuk mengkoordinasikan setiap Kebun Mikro milik warga. Dalam musyawarah ini, masyarakat membahas tanaman yang akan ditanam masing-masing keluarga, sehingga tidak ada kelebihan atau kekurangan komoditas tanaman. Selain itu, musyawarah ini juga sebagai ajang bertukar pengalaman, kendala, dan solusi dalam berkebun.

Ketika musim panen tiba, warga kemudian saling menukar dan berbagi hasil panennya sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Andai pun hasil kebunnya tidak mampu memenuhi kebutuhan bahan makanan pokok warga, tetapi kebun ini setidaknya mampu membantu menekan biaya untuk membeli bahan makanan sehari-hari.

Berkaitan dengan konsep ini, sebenarnya Bank Indonesia wilayah Jawa Barat pernah mencoba melakukannya. Mereka membiayai dan membina masyarakat prasejahtera untuk berternak atau berkebun di sisa lahan rumahnya. Bank Indonesia sendiri mempunyai kepentingan untuk mengendalikan inflasi. Inflasi sendiri terjadi karena rendahnya suplai dan tingginya permintaan. Dalam hal ini, Bank Indonesia wilayah Jawa Barat berusaha menyeimbangkan suplai dan permintaan dengan memberdayakan masyarakat prasejahtera.

Di sisi lain, Indonesia memiliki iklim dan kondisi geografi “Surgawi”. Saya sebut “Surgawi”, karena tanaman bisa tumbuh dengan baik di Indonesia sepanjang tahun. Pasalnya, matahari bersinar sepanjang tahun dengan intensitas yang sangat cukup. Suhu udara pun konsisten di angka 18-25 derajat Celcius untuk dataran tinggi, dan 22-29 derajat Celcius untuk dataran rendah. Selain itu, tanah Indonesia juga subur dengan suplai air yang tidak henti-hentinya mengalir.

Coba bandingkan dengan negara-negara subtropis. Ketika saya ke Amerika, pada musim dingin mereka harus merestorasi taman-taman di kotanya. Pasalnya, semua tanaman mati karena diterpa suhu di bawah nol derajat. Selain itu, intensitas cahaya matahari juga tidak merata sepanjang tahun. Pada musim dingin, matahari muncul tidak lebih dari 8-10 jam, dan pada musim panas bisa bersinar hingga 18 jam lamanya. Selain itu, kondisi tanahnya juga tidak cukup subur dibandingkan Indonesia. Tak heran bila penduduk negara subtropis membutuhkan usaha lebih tinggi untuk bertani dan berkebun dibandingkan penduduk negara tropis.

Melihat dua sisi dunia yang berlainan ini, saya meyakini bahwa memiliki lahan dan menguasai pengetahuan bercocok tanam merupakan kebutuhan yang paling hakiki bagi manusia Indonesia. Kedua hal tersebut merupakan bekal untuk mampu bertahan di tengah kelangkaan pangan dan sempitnya lahan.

Selain itu, pengetahuan bercocok tanam juga membangun manusia yang bijaksana dan berbudi luhur. Pasalnya, bercocok tanam membangun mental manusia yang sabar, pekerja keras, dan tekun. Sosok manusia yang langka di zaman penuh teknologi ini.

Barangkali, kenikmatan Tuhan inilah yang kerap dilupakan oleh orang-orang Indonesia saat ini. Masyarakat Indonesia terkungkung modernitas. Kondisi ini, lebih lanjut membuat bangsa indonesia terperangkap dalam keterbelahan hidup, padangan materalisme, dan egoisme tak berkesudahan.***


Artikel BBM Naik? Stop Protes, Mari Berkebun! ditulis oleh sdr.Yudha P Sunandar dan pertama kali diterbitkan di Kompasiana. 

Senyawa Bioaktif yang terdapat pada Bawang Merah dan Bawang Putih



Bawang merah dan bawang putih merupakan komoditi pertanian yang banyak dibutuhkan penduduk di dunia, terutama dimanfaatkan sebagai bahan penambah penyedap atau pewangi beberapa jenis makanan. Sekarang ada orang yang memanfaatkannya dalam bentuk hasil olahan, seperti acar (pickle), tepung dan makanan dalam kaleng. Berbagai makanan sehari-hari yang menjadi nikmat dan sehat karena keberadaan kedua tumbuhan ini. Di balik kelezatan kedua bawang tersebut, ternyata terdapat zat yang dapat membantu sel tubuh manusia dapat bekerja secara optimal.

Bawang merah berasal dari tanaman Allium cepa suku Amaryllidaceae. Secara empiris, bawang merah dipakai untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan, termasuk sakit tenggorokan, penyakit kulit, keropos tulang, diabetes, kolesterol tinggi. Berbagai hasil penelitian menunjukkan peran bawang merah dalam menurunkan risiko terkena berbagai jenis kanker. Konsumsi bawang merah dalam jumlah sedang diyakini dapat mengatasi jenis kanker usus bagian bawah, ovarium, dan larings.

Bawang putih memiliki nama ilmiah Allium sativum dari suku Amaryllidaceae. Bawang putih dipercaya bisa menurunkan kadar kolesterol sehingga bisa menghindarkan manusia dari serangan jantung, dan stroke, serta memperbaiki sirkulasi darah. Bawang putih juga diyakini menurunkan kadar lemak darah. Berbagai penelitian pernah dilakukan terhadap senyawa alisin yang diekstraksi dari bawang putih. Hasilnya, terjadi penurunan lipid alias lemak. Namun, alisin hanya dijumpai pada serbuk bawang putih dan bawang putih segar saja. Sementara, minyak bawang putih tidak mengandung senyawa berkhasiat itu.

Di dalam bawang merah dan putih dijumpai zat aktif yang mengandung unsur sulfida, terutama dalam bentuk sistein. Senyawa S-alkil sistein sulfoksida tersebut terurai menjadi berbagai senyawa tiosulfinat dan polisulfida oleh kerja enzim alinase. Kedua produk dekomposisi itu bersifat mudah menguap dan mempunyai aktivitas antidiabetes, antibiotik, hipokolesterolemia, fibrinolitik aktivitas biologik, dan lain-lain. Terdapat juga senyawa golongan peptida yang mengandung sulfur dan bersifat tidak menguap, serta protein yang mempunyai berbagai aktivitas. Tetapi yang terpenting untuk diketahui adalah bawang merupakan sumber senyawa polifenol yang luar biasa, termasuk di dalamnya senyawa flavonoid. Senyawa polifenol inilah yang berkhasiat sebagai antioksidan. Kandungan nutrisi bawang merah cukup kaya. Dalam 100 gram bawang mentah terdapat vitamin E, K, kalsium, zat besi, magnesium, fosfor, kalium, natrium, dan seng (zinc). Konsumsi secara teratur, dapat menghindarkan kita dari kekurangan unsur vitamin dan mineral.

BAWANG MERAH

Bawang merah merupakan tanaman berumbi lapis, tinggi 60 – 1,20 cm, umbi lapis berkembang baik, berbentuk bulat telur, bulat atau bulat pipih tertekan; bentuk dan besarnya sangat bervariasi dengan tebal 4 – 15 cm, dengan atau tanpa umbi lapistambahan. Daun roset, akar lebih pendek dari ibu tangkai bunga payung, tangkai bunga 3kali panjang mahkota bunga atau lebih, kepala oval sampai bulat me manjang dantumpul, dengan garis tengah berwarna hijau di bagian tengahnya putih kehijauan atauviolet, panjang 4-6 mm. Tangkai benang sari mempunyai pangkal lebih besar dengan bakal buah tiga ruangan.Tanaman ini berasal dari Asia Barat yaitu Palestina dan masuk ke Indonesia melalui India. Berikut adalah klasifikasi tanaman bawang merah. (Prabowo, 2007)


Pada garis besarnya dikenal 2 jenis bawang merah yaitu bawang merah biasa (Alliumascolanum) dan bawang merah bombay (Allium cepa L.). Allium ascolonicum dikenaldengan bawang merah blambangan merupakan jenis bawang merah yang banyak digunakan.


Senyawa Aktif Bawang Merah

  • Allisin dan Alliin
    Alliin berupa hemihidrat yang tidak berwarna C6H11NO2S.½H2O bentuk jarumtumpul yang diperoleh dari hasil rekristalisasi menggunakan pelarut aseton. Titik leburnya 164-166oC (dengan mengeluarkan gas), praktis larut dalam air.Allisin dan Alliin bersifat hipolipidemik, yaitu dapat menurunkan kadar kolesteroldarah. Mengonsumsi satu suing bawang merah segar dapat meningkatkan kadalkolesterol baik (HDL) sebesar 30 %. Senyawa ini juga berfungsi sebagaiantiseptik, yaitu menghambat pertumbuhan mikroorganisme. 
  • Flavonoid
    Bahan aktif ini dikenal sebagai antiinflamasi atau anti radang. Jadi, bawangmerah bisa digunakan untuk menyembuhkan radang hati (hepatitis), radang sendi(arthritis), radang tonsil (tonsillitis), radang pada cabang tenggorokan (bronchitis),serta radang anak telinga (atitis media). Flavonoid juga berguna sebagai bahanantioksidan alamiah, sebagai bakterisida, dan dapat menurunkan kolesterol jahat(LDL) dalam darah secara efektif 
  • Alilpropil disulfideSeperti flavonoid, senyawa ini juga bersifat hipolipidemik atau mampumenurunkan kadar lemak darah. Khasiat lainnya yaitu sebagai antiradang.Kandungan sulfur dalam bawang merah sangat baik untuk mengatasi reaksiradang, terutama radang hati, bronchitis, maupun kongesti bronchial 
  • Fitosterol
    Fitosterol adalah golongan lemak yang hanya bisa diperoleh dari minyak tumbuh-tumbuhan atau yang lebih dikenal sebagai lemak nabati. Jenis lemak ini cukupaman untuk dikonsumsi, termasuk oleh para penderita penyakit kardiovaskuler.Oleh karena itu, penggunanya justru akan menyehatkan jantung. 
  • Flavonol
    Flavonol bersama kuersetin dan kuersetin glikosida, memiliki efek farmakologissebagai bahan antibiotic alami. Hal ini dikarenakan kemampuannya untuk menghambat pertumbuhan virus, bakteri, maupun cendawan. Senyawa ini jugamampu bertindak sebagai antikoagulan dan anti kanker. 
  • Pektin
    Bahan ini merupakan golongan polisakarida yang sukar dicerna. Oleh karena itu,seperti pada flavonoid, pektin bersifat menurunkan kadar kolesterol. Senyawa ini juga mempunya kemampuan mengendalikan pertumbuhan bakteri. 
  • Saponin
    Saponin termasuk senyawa penting dalam bawang merah, yang memiliki cukup banyak khasiat. Senyawa ini berperan sebagai antikoagulan, yang berguna untuk mencegah penggumpalan darah. Saponin juga dapat berfungsi sebagaiekspektoran, yaitu mengencerkan dahak. 
  • Tripropanal sulfoksidaKetika umbi bawang merah diiris atau dilukai, akan keluar gas tripropanalsulfoksida. Gas ini termasuk salah satu senyawa aktif eteris dalam bawang merahyang menyebabkan keluarnya air mata (lakrimator). Agar mata tidak pedih dan berair saat mengiris bawang merah, simpanlah bawang merah dalam lemari pendingin selama kurang lebih 30 menit. Bersamaan dengan keluarnya tripropanalsulfoksida, akan muncul pula bau menyengat yang merupakan aroma khas bawang merah.
    Bau ini berasal dari senyawa propil disulfide dan propilmetildisulfide. Ketika bawang merah ditumis atau digoreng, senyawa ini menebarkanaroma harum. Baik tripropanal sulfoksida, propil disulfida, maupun propilmetil disulfide dapat berfungsi sebagai stumulansia atau perangsang aktivitas fungsiorgan-organ tubuh. Jadi, senyawa-senyawa ini sangat berguna untuk merangsangfungsi kepekaan saraf maupun kerja enzim pencernaan.

BAWANG PUTIH

Menurut Ir. Hieronymus Budi Susanto bawang putih merupakan komoditi pertanian yang banyak dibutuhkan penduduk di dunia, terutama dimanfaatkan sebagai bahan penambah penyedap atau pewangi beberapa jenis makanan. Sekarang adaorang yang memanfaatkannya dalam bentuk hasil olahan, seperti acar (pickle), tepungdan makanan dalam kaleng. Hanya sebagian kecil diolah dalam bentuk minyak  bawang putih (garlic oil). ( Bawang putih berkembang di dataran rendah, 1987 : 11).
Menurut Ir. Bambang Cahyono, tanaman bawang putih (allium sativum) adalah merupakan salah satu dari jenis tanaman sayuran umbi semusim yang tumbuhtegak sampai ketinggian 41-84 cm, tergantung dari varietasnya. Pada varietas datarantinggi, bawang putih tumbuh dari ketinggian 60 cm. Berikut adalah klasifikasi tanaman bawang putih.    


Senyawa Aktif Bawang Putih

Dr. Paavo Aerola, seorang peneliti gizi dan pendiri The International Academyof Bilogical Medicine, telah berhasil memasukkan dan mengisolasikan sejumlah komponen aktif dari bawang putih, yakni sebagai berikut:
  • Allicin
    Zat aktif yang mempunyai daya bunuh terhadap bakteri dan dayaantiradang.
  • Aliin
    Suatu asam amino yang antibiotic.
  • Gurwitchrays
    Sinar gurwitch, radiasi mitogenetik yang merangsang pertumbuhan sel tubuh dan mempunyai daya peremajaan (rejunavenating effect) pada semua fungsi tubuh.
  • Antihemollytic factor
    Faktor anti lesu darah atau inti kekurangan sel-sel darah merah. 
  • Antiarthritic factor
    Faktor antirematik yang dibuktikan dalam penelitian di Jepang, terutama di rumah sakit angkatan darat. 
  • Sugar Regulating factor
    Faktor pengatur pembakaran gula secara normal,efisien di dalam tubuh, yang bermanfaat bagi pengobatan penunjang terhadapdiabetes dan reactive atau fungctional hypoglycemia. Hypoglycemia reaktif merupakan kebalikan dari kondisi diabetes, yaitu merosotnya gula darah di bawah batas normal angka 100, akibat dirangsangnya produksi hormone insulin dalam jumlah berlebihan karena terlalu banyak makan gula pasir, serta tepung-tepunganhasil penggilingan modern : nasi putih, roti putih, bakmi dan bihun, makroni,yang semuanya sudah bersih dari kulit selaput beras atau gandum (bekatul).
  • Allihiamine
    Suatu sumber ikatan-ikatan (compounds) biologic yang aktif serta vitamin B1.
  • Selenium 
  • Suatu mikro mineral yang merupakan factor yang bekerja sebagaianti oksidan (antikerusakan, antioksidasi sel-sel tubuh oleh zat-zat racun yangmerusak sel-sel), yang mengakibatkan pengapuran pembuluh darah, membuat sel-sel tubuh yang normal menjadi lemah dan berubah menjadi sel-sel kanker, danmembuat orang menjadi cepat tua. Selenium mencegah terbentuknya gumpalandarah (bloodclot; thrombus) yang dapat menyumbat pembuluh darah jantung danotak.
  • Germanium
    Seperti selenium, merupakan mineral anti kanker yang ampuh,yang dapat menghambat atau memusnahkan sel-sel kanker.
  • Antitoksin
    Anti racun atau pembersih darah dari racun-racun bakteri ataupun polusi logam-logam berat. Juga berfungsi sebagai anti alergi, dan memperkuatdaya tahan tubuh tehadap asthma
  • Scordinin
    Zat aktif yang mempercepat pertumbuhan tubuh, meninggalkan berat badan, meningkatkan energi, menyembuhkan penyakit kardium vaskuler dan antioksidan.
  • Methylallyl trisulfide,
    Mencegah pengentalan darah atau mencegah pengumpulan piringan-piringan yang dapat menyumbat pembuluh darah jantungdan otak.( Bawang putih berkembang di daratan rendah, 1987 : 19-20 ).

Manfaat Bawang Putih
Bawang putih yang semula hanya dikenal sebagai bumbu dapur, kini telahdiketahi memiliki beragam kegunaan dalam menunjang kehidupan manusia. Selain manfaat utamanya, untuk bahan baku keperluan dapur, umbi bawang putih juga dapatdigunakan sebagai salah satu bahan baku untuk pembuatan obat-obatan, dan bahan baku untuk olahan makanan. Sebagai bahan baku keperluan dapur, bawang putih berfungsi sebagai bumbu penyedap beragam masakan.
Sebagai bahan baku obat-obatan, bawang putih memiliki khasiat untuk penyembuhan bermacam-macam penyakit, seperti penyakit infeksi pada saluran pernafasan, penyakit infeksi pada usus, penyakit batuk, penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi), gatal-gatal,penyakitkencing manis (diabetis), penyakit typus, penyakit cacingan, penyakit infeksi padakulit dan luka bekas gigitan binatang berbisa, penyakit maag, penyakit kanker, penyakit ganorrhoe, penyakit infeksi di vagina akibat jamur candidas albicans, penyakit meningitis akibat jamur Eurytococcus neoformans, mata bengkak karenaangin bahkan tidak itu saja, umbi bawang putih juga bermanfaat untuk meningkatkankesuburan wanita, mencegah penuaan sehingga tetap awet muda, untuk memperkuatotot-otot badan, dapat menambah gairah seks, mengatasi letih, lelah dan susah tidur.

Khasiat bawang putih seperti tersebut diatas, karena umbi bawang putih mengandungsenyawa allisin dan scordinin. Senyawa allisin, merupakan zat antibiotika yang dapatmembunuh kuman penyakit, dan senyawa scordinin merupakan zat yang dapatmemberikan kekuatan atau daya tahan tubuh dan untuk pertumbuhan sel. Selain itu,ditemukan pula senyawa-senyawa seperti selenium, enzim germanium, antiarthritic,methylallyl trisulfide. Sedangkan bahan baku olahan makanan, umbi bawang putih banyak digunakan untuk membuat sejenis minuman yang disebut “garlie juice” yangmerupakan minuman segar sari bawang putih.( Bercocok tanam bawang putih, 1994 :11 )

Penyadapan Tanaman Karet



Karet merupakan salah satu jenis tanaman banyak diusahakan di daerah tropis seperti Indonesia. Berdasarkan data statistik Indonesia, karet memegang peranan yang penting bagi perekonomian karena sumbangan yang besar terhadap devisa Negara dan banyaknya tenaga kerja yang bekerja pada sektor perkebunan karet.

Meskipun hasil karet di Indonesia cukup tinggi bahkan menjadi pengekspor ketiga setelah Malaysia dan Thailand, namun kualitas karet Indonesia masih kurang baik terutama karet yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hasil karet adalah penyadapan.

Penyadapan pada dasarnya mengambil atau memanen hasil karet yang berupa getah atau lateks dengan cara melukai ( memotong atau menyobek ) pembuluh lateks yang ada di kulit tanaman karet sehingga lateks yang ada keluar. Pada dasarnya semua bagian tanaman karet mempunyai pembuluh lateks sehingga dapat menghasilkan lateks, tetapi karena bagian tanaman karet yang paling besar dan mudah dijangkau adalah batang pohon maka penyadapan hanya dilakukan pada kulit batang pohon karet saja. Dengan demikian maka batang pohon karet merupakan investasi yang penting karena dari batang pohon itulah akan diperoleh hasil.

Penyadapan dilakukan bukan untuk tujuan jangka pendek, tetapi untuk tujuan jangka panjang. Penyadapan dilakukan untuk mendapatkan hasil lateks dalam jumlah optimal dan tanaman mempunyai masa produktif yang lama. Untuk mencapai tujuan tersebut maka penyadapan harus dilakukan secara baik dengan memperhatikan berbagi aturan atau norma yang ada.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, tanaman karet sebaiknya mulai disadap pada umur 5 – 6 tahun dan mempunyai lilit batang 45 cm pada ketinggian 100 cm diatas permukaan tanah ( apabila tanaman berasal dari biji ) atau diatas pertautan okulasi / kaki gajah ( apabila tanaman berasal dari bibit okulasi ). Hal didasarkan pada umur tersebut jumlah pembuluh lateks sudah cukup banyak sehingga hasil yang diperoleh akan lebih banyak. 

Pada dasarnya penyadapan dapat dilakukan dengan beberapa metode, tetapi yang paling banyak dilakukan dengan menggunakan metode penyayatan karena hasil yang diperoleh cukup tinggi dan secara teknis mudah dilakukan. Aturan-aturan penyadapan tanaman karet meliputi ketinggian, arah dan kemiringan, panjang irisan, kedalaman, ketebalan dan waktu penyadapan serta penggunaan stimulansia.

Salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap banyaknya lateks yang diperoleh adalah waktu penyadapan karena berhubungan dengan tekanan turgor sel dan metode penyadapan. Dibawah ini kita anakan melakukan sebuah praktek dengan tujuan mengetahui metode dan memahami norma-norma penyadapan tanaman karet dan mengetahui pengaruh waktu penyadapan terhadap hasil lateks.

METODOLOGI

A. Bahan dan Alat
Bahan yang diperlukan adalah batang pohon karet, sedangkan alat yang diperlukan adalah pisau sadap, mistar / penggaris, sigmat, quadric atau paku, mal sadap, talang sadap, dan mangkuk sadap.

B. Metode
Penelitian ini dilakukan di green house dengan melakukan penyadapan pada waktu yang berbeda yaitu jam 06.00, 10.00 dan 14.00 dan dengan ketebalan 1,0 , 1,5 , 2,0 cm.

C. Cara kerja
  1. Siapkan / pilihlah sebuah batang pohon karet sepanjang 3 m dengan ketentuan sudah berumur minimal 5 tahun dan mempunyai diameter batang 45 cm pada ketinggian 100 cm.
  2. Ukuran diameter batang pohon karet tersebut menggunakan mistar dan bagilah menjadi dua bagian yang sama.
  3. Buatlah gambar bidang sadap dengan cara membuat torehan ke atas-bawah pada kulit batang pohon karet tersebut menggunakan quadric atau paku yang runcing sehingga terlihat gambar bidang sadapnya.
  4. Ukurlah titik sadap pembukaan ( sadap yang dilakukan pertama kalinya ) menggunakan mistar pada ketinggian 130 cm di atas tanah apabila tanaman berasal dari biji atau diatas pertautan okulasi apabila tanaman berasal dari bibit okulasi.
  5. Buatlah gambar kemiringan sadap menggunakan mal sadap dengan sudut 45° dari bidang horizontal.
  6. Buatlah gambar arah dan kemiringan sadap menggunakan quadric atau paku dengan cara menorah kulit batang pohon karet dari titik sadap pembukaan kea rah kanan bawah sepanjang setengah lingkaraan atau sampai garis torehan bidang sadap.
  7. Bersihkan kulit batang pohon tanaman karet dari berbagai kotoran yang dapat mengganggu proses penyadapan.
  8. Pasanglah talang sadap pada ujung bawah gambar bidang sadap ( di garis torehan bidang sadap ) serta mangkuk sadap 10-15 cm dibawah talang sadap.
  9. Lakukan penyadapan mulai dari titik sadap pembukaan dengan cara menyayat kulit batang pohon dengan menggunakan pisau sadap dengan kedalaman 0,5-1,0 dan 2,0 cm.
  10. Lakukan penyadapan tersebut pada waktu yang berbeda yaitu jam 06.00, 10.00 dan 14.00 dengan ketebalan 1,0 ; 1,5 dan 2,0 cm
  11. Amati dan hitung jumlah lateks yang keluar selama beberapa menit.
Pengamatan dan Analisis Data

Pengamatan dilakukan terhadap 2 perlakuan penggoresan kulit karet dengan ketebalan 1cm dan 2cm dengan 4x ulangan dengan berat lateks : ulangan 1 : 28,5 g, ulangan 2 : 24 g, ulangan 3 : 5,6 g, ulangan 4 : 13,7 g dan 2 cm dengan 4x ulangan dengan berat lateks : ulangan 1 : 27,9 g, ulangan 2 : 48,1 g, ulangan 3 : 8,2 g, ulangan 4 : 19 g

HASIL ANALISIS & PEMBAHASAN


Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan di green house penyadapan pada batang karet, goresan dilakukan dari kiri atas ke kanan bawah, sudut 45° dari datar. Apabila Kedalaman sadapan semakin dalam maka pembuluh akan terpotong banyak dan lateks semakin banyak.Apabila penyayatan terlalu dalam maka akan merusak kambium, rekomendasi penyayatan adalah : 0,5–1,0 mm dari kambium. 

Dalam praktikum yang dilaksanakan dilakukan penggoresan batang karet dengan ketebalan 1 cm dengan 4x ulangan dengan berat lateks : ulangan 1 : 28,5 g, ulangan 2 : 24 g, ulangan 3 : 5,6 g, ulangan 4 : 13,7 g dan 2 cm dengan 4x ulangan dengan berat lateks : ulangan 1 : 27,9 g, ulangan 2 : 48,1 g, ulangan 3 : 8,2 g, ulangan 4 : 19 g dengan waktu penyadapan pada siang hari, seharusnya waktu penyadapan yang baik adalah jam 5.00 – 7.30 pagi dengan dasar pemikirannya:
  1. Jumlah lateks yang keluar dan kecepatan aliran lateks dipengaruhi oleh tekanan turgor sel
  2. Tekanan turgor mencapai maksimum pada saat menjelang fajar, kemudian menurun bila hari semakin siang
  3. Pelaksanaan penyadapan dapat dilakukan dengan baik bila hari sudah cukup terang
Lateks adalah getah seperti susu dari banyak tumbuhan yang membeku ketika terkena udara. Ini merupakan emulsi kompleks yang mengandung protein, alkaloid, pati, gula, minyak, tanin, resin, dan gom. Pada banyak tumbuhan lateks biasanya berwarna putih, namun ada juga yang berwarna kuning, jingga, atau merah Untuk memperoleh hasil sadap yang baik, penyadapan harus mengikuti aturan tertentu agar diperoleh hasil yang tinggi, menguntungkan, serta berkesinambungan dengan tetap memperhatiakan faktor kesehatan tanaman agar tanaman dapat berproduksi secara optimal dan dalam waktu yang lama (Siregar, 1995). 

Dalam praktiknya untuk kelangsungan produksi, hal yang sangat mendasar adalah di dalam pemulihan bidang sadap. Agar bidang sadap dapat kembali pulih tentu ada yang dipelukan di dalam penyadapanya. Menghindari penggunaan Ethepon pada pohon yang kena kekeringan alur sadap adalah salah satu cara agar bidang sadap dapat kembali pulih dan pohon yang mengalami kekeringan alur sadap perlu diberikan pupuk ekstra untuk mempercepat pemulihan kulit (Santosa, 2007 )

KESIMPULAN
  1. Metode yang sering digunakan yaitu metode sadap sayat karena lebih mudah dalam pengaplikasiannya, Metode sadap sayat yaitu sadap yang dilakukan dengan mengiris / menyayat kulit batang sehingga pembuluh lateks terpotong. Norma – norma penyadapan juga harus diperhatikan karena dapat juga mempengaruhi kualitas dan jumlah lateks.
  2. Metode sadap sayat sangat berpengaruh terhadap jumlah lateks, dan waktu yang bagus untuk penyadapan yaitu pada pagi hari antara jam 5.00 – 7.30 pagi.
Seharusnya waktu penyadapan harus diperhatikan, karena waktu yang baik untuk menyadap adalah pada pagi hari, pada praktikum yang dilakukan pada siang hari sangat berpengaruh pada jumlah lateks yang dihasilkan.yaitu sangat sedikit jumlah lateks yang dihasilkan.